Selasa, 16 Maret 2021

PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan

guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan Kristen (S.Pd.)

Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Oleh:

ALIRAN BERKAT LASE

NIM: 2014208002

Jakarta, 26 November 2019

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR

(SETIA) JAKARTA

ii

HALAMAN PENGESAHAN LEMBAGA PENDIDIKAN

Setelah memeriksa dan meneliti secara saksama serta mengetahui seluruh proses

penelitian dan cara penyusunan skripsi yang dilakukan oleh Aliran Berkat Lase yang

berjudul PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA

KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN

PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12,

maka dengan ini dinyatakan bahwa skripsi ini diterima dan disahkan sebagai bagian dari

persyaratan untuk mendapatkan gelar SARJANA PENDIDIKAN AGAMA

KRISTEN dari SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR (SETIA)

JAKARTA.

Diterima dan disahkan

pada tanggal 26 November 2019

Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Ketua

Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th.

NIDN: 2315037501

iii

HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI

Ketua,

Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th.

NIDN: 2315037501

Sekretaris,

Filmon Berek, M.Pd.K.

NIDN: 2323066801

Anggota

Nehemia Nome, M.Pd.K.

NIDN: 2328116701

Ujian pada tanggal: 5 November 2019

iv

HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

Dosen pembimbing telah menerima hasil penelitian yang berjudul PENGARUH

KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)

TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK

USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12, yang disusun, disiapkan,

dan diserahkan oleh Aliran Berkat Lase untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

mencapai gelar SARJANA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN dari SEKOLAH

TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR (SETIA) JAKARTA.

Disetujui pada tanggal:

25 November 2019

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Sozanolo Zamasi, M.Pd.K. Yosia Belo, M.Pd.K.

NIDN: 2306127201 NIDN: 2301057501

v

HALAMAN PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun ini

sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen dari Sekolah

Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, seluruhnya merupakan hasil karya

saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip dari

hasil karya orang lain, telah dituliskan secara jelas sumbernya sesuai dengan norma,

kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah yang berlaku.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh, sebagian, atau bagian-bagian

tertentu dalam skripsi ini yang bukan hasil karya sendiri atau plagiat, penulis bersedia

menerima sanksi dari Bidang Akademik dari lembaga setempat dan sanksi-sanksi

lainnya, sesuai dengan peraturan sekolah dan perundang-undangan yang berlaku.

Jakarta, 25 November 2019

Aliran Berkat Lase

Meterai

vi

MOTTO

SEBAB SEPERTI TUBUH TANPA ROH

ADALAH MATI,

DEMIKIAN JUGALAH IMAN TANPA

PERBUATAN-PERBUATAN

ADALAH MATI

(YAKOBUS 2:26)

Soli Deo Gloria

vii

ABSTRAK

Lase, Aliran Berkat

2019, PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN

AGAMA KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN

PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN

BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12. Sekolah Tinggi Teologi Injili

Arastamar (SETIA) Jakarta. Skripsi, S.Pd., 70 halaman.

Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Keteladanan Iman Guru Pendikan

Agama Kristen Terhadap Peningkatkan Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18

Tahun Berdasarkan 1 Timotius 4:12. Latar belakang masalah penelitian ini disebabkan

karena adanya indikasi bahwa ada sebagian guru PAK yang belum memahami figurnya

sebagai teladan iman bagi peserta didik dan belum memberikan teladan-teladan iman

yang dapat dilihat dan ditiru oleh peserta didik. Dengan demikian guru PAK menjadi

sama seperti guru mata pelajaran umum lainnya yang hanya menyampaikan teori

tentang pengetahuan tetapi tidak hidup dalam kebenaran. Berdasarkan latar belakang

masalah maka, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana

gambaran keteladanan iman guru PAK dan karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun.

Bagaimana keteladanan iman guru PAK terhadap peningkatkan pertumbuhan iman

peserta didik berdasarkan 1 Timotius 4:12. Bagaimana aplikasinya bagi guru PAK.

Dengan tujuan penelitian, yaitu: Menjelaskan gambaran keteladan iman guru PAK

dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Menjelaskan keteladanan iman

guru PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Menjelaskan aplikasi

keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik bagi

guru PAK.

Dalam penelitian ini penulis memakai metode penelitian kepustakan (Library

Research). Metode kepustakaan adalah menulusuri literatur serta menelaah studi yang

ada di perpustakaan. Adapun hipotesis penelitian adalah Jika guru PAK menerapkan

keteladanan iman dalam hidup dan pengajarannya maka, akan meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik.

Berdasarkan penelitian di atas, adapun saran-saran dari penulis, yaitu: Guru

dan calon guru PAK tidak hanya mempersiapkan bahan ajar yang baik untuk mengajar

tetapi juga mempersiapkan dan membenahi diri sebelum mengajar. Guru dan calon guru

PAK memberikan teladan-teladan sebagai orang beriman kepada peserta didik. Guru

dan calon guru PAK terlebih dulu mengajar dirinya sebelum mengajar peserta didik.

Penulis menyarankan kepada lembaga sekolah untuk menguji atau mengevaluasi calon

guru dan guru PAK, supaya tidak sembarangan menerima guru PAK yang tidak bisa

menjadi teladan iman bagi peserta didik.

Jumlah kata : 299 kata

Dosen Pembimbing I : Sozanolo Zamasi, M.Pd.K.

Dosen Pembimbing II : Yosia Belo, M.Pd.K.

viii

ABSTRACT

Lase, Aliran Berkat

2019, THE INFLUENCE OF THE PATTERN OF THE FAITH OF

CHRISTIAN EDUCATION TEACHER ON IMPROVING THE

GROWTH OF FAITH OF THE STUDENTS IN AGE 13-18 YEARS

BASED ON 1 TIMOTHY 4:12. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar

(SETIA) Jakarta. Skripsi, S.Pd., 70 pages.

This study discusses the Influence of the Example of the Faith of the Christian

Education Teacher on the Improvement of the Faith Growth of Students Age 13-18

Years Based on 1 Timothy 4:12. The background of this research problem is caused by

the indication that there are some crhistian education teachers who do not understand

the figure as an example of faith for students and have not set examples of faith that can

be seen and imitated by students. Thus the christian education teacher becomes the same

as other general subject teachers who only convey the theory of knowledge but do not

live in truth. Based on the background of the problem, the research problem can be

formulated as follows: What is the description of the example of the christian education

teacher's faith and the characteristics of students aged 13-18 years. How is the example

of the christian education teacher's faith in increasing students' faith growth based on 1

Timothy 4:12. What is the application for the christian education teachers. With the

researh purposes are as follows: Explaining the exemplary picture of the christian

education teacher's faith in enhancing students' faith growth. Explain the exemplary

faith of the christian education teachers in enhancing students' faith growth. Explain the

application of the example of the christian education teacher's faith in increasing the

faith growth of students for the christian education teachers.

In this study the authors used the library research method (Library Research).

The method of literature is searching the literature and studying the studies in the

library. The research hypothesis is that if a christian education teacher apply exemplary

faith in their lives and teachings, it will increase students' faith growth.

Based on the research above, the suggestions from the authors, namely:

Teachers and prospective christian education teachers not only prepare good teaching

materials for teaching but also prepare and improve themselves before teaching.

Teachers and prospective christian education teachers provide role models as believers

to students. Teachers and prospective christian education teachers first teach themselves

before teaching students. The author suggests to school institutions to test or evaluate

prospective teachers and christian education teachers, so that they do not arbitrarily

accept the christian education teachers who cannot be models of faith for students.

Number of words : 374 words

Supervisor I : Sozanolo Zamasi, M.Pd.K.

Supervisor II : Yosia Belo, M.Pd.K.

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Tritunggal atas segala

anugrahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan skripsi ini yang berjudul

PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA

KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN

PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12

sebagai salah satu persyaratan memperoleh gelar SARJANA PENDIDIKAN (S.Pd.).

Dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini begitu banyak orang yang berkontribusi

dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan

terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Pendiri Yayaysan SABAS.

2. Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th. Ketua Sekolah Tinggi Teologi Injili

Arastamar (SETIA) Jakarta.

3. Sozanolo Zamasi, M.Pd.K., selaku pembimbing I dan Yosia Belo,

M.Pd.K., selaku pembimbing II, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan

pikiran dalam membimbing penulis selama penyusunan skripsi.

4. Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th., (ketua), Filmon Berek, M.Th.,

(Sekretaris), Nehemia Nome, M.Pd.K., (Anggota), sebagai Tim Penguji

Sripsi dan Rika S.,S.Pd., sebagai notulen.

5. Dosen penguji proposal Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th., selaku Ketua,

Filmon Berek, M.Pd.K., selaku Sekretaris, Yublina Kase, M.Pd.K., selaku

Anggota, dan Siska Rahayu, S.Pd., selaku notulen.

6. Riste Tioma Silaen, M.Th., selaku ketua I Bidang Akademik, Sozanolo

Zamasi, M.Pd.K., sebagai Kepala Program Studi PAK, para dosen dan staf

x

perpustakaan Yublina Kase, M.Pd.K., Maridje, Novri Zebua, S.Pd., yang

telah memfasilitasi dalam hal buku-buku yang dibutuhkan penulis dalam

penyusunan skripsi.

7. Seluruh Civitas Academica SETIA Jakarta.

8. Kedua orang tua terkasih: Bapak, Sapar Dangolan Lase dan Ibu, Mawarni

Zebua, yang telah membesarkan dan membiayai selama studi di tempat ini,

serta segala motivasi dan doa yang diberikan.

9. Mr. Philip Walker, Mrs. Jacky selaku orang tua rohani, atas segala

dukungan yang telah diberikan selama studi di tempat ini baik materil

maupun nonmaterial, dan Phil Jr., Maria Sophia, Joshua Dale, dan

Jeremiah.

10. Apriaman Bali, S.Pd., Aro Ziduhu Laia, S.Pd., Atalisi Waruwu, S.Th.,

Eirene K. Mentarius Zalukhu, S.Pd., Holy Putra Gea, S.Pd., Mareni

Waruwu, S.Th., Putra Sanjaya Ndraha, S.Pd. Teman-teman seperjuangan

selama menjalani studi di STT SETIA Jakarta sampai selesai.

11. Teman-teman semester VIII tahun 2019 dan adek-adek semester I, III, V,

yang telah mendoakan dan memberikan semangat dalam penyelesaian

skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca. Dengan ketulusan hati

penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang baik dari para pembaca guna

penyempurnaan skripsi ini.

Jakarta, 25 November 2019

Aliran Berkat Lase

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN LEMBAGA PENDIDIKAN ................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ........................................................ iii

HALAMAN DOSEN PEMBIMBING ...................................................................... iv

HALAMAN PERNYATAAN .................................................................................... v

MOTTO ...................................................................................................................... vi

ABSTRAK .................................................................................................................. vii

KATA PENGANTAR ................................................................................................ viii

DAFTAR ISI ............................................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH PENELITIAN ...................... 1

B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN ................................ 4

C. PEMBATASAN MASALAH PENELITIAN ................................ 5

D. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN ........................................ 5

E. TUJUAN PENELITIAN .................................................................. 5

F. HIPOTESIS ...................................................................................... 6

G. MANFAAT PENELITIAN ............................................................. 6

H. METODOLOGI ............................................................................... 7

I. SISTEMATIKA PENULISAN ....................................................... 8

BAB II GAMBARAN GURU PAK DAN KARAKTERISTIK PESERTA

DIDIK USIA 13-18 TAHUN................................................................... 9

A. PENGERTIAN GURU PAK ........................................................... 9

1. Pengertian Guru PAK ................................................................. 9

2. Dasar Alkitabiah ......................................................................... 11

a. Guru PAK dalam PL ............................................................ 11

b. Guru PAK dalam PB ............................................................ 13

xii

B. HAKIKAT MENJADI GURU PAK SEBAGAI PANGGILAN

DAN TANGGUNG JAWAB .......................................................... 17

1. Panggilan ..................................................................................... 17

2. Tanggung Jawab ......................................................................... 20

C. TUNTUTAN BAGI GURU PAK .................................................... 21

1. Sudah Dilahirkan Kembali .......................................................... 21

2. Hidup Sesuai Dengan Firman Tuhan .......................................... 22

3. Memiliki Pengetahuan Akan Kebenaran .................................... 23

4. Syarat-syarat Bagi Guru PAK yang Baik Menurut Enklaar dan

Homrighausen ............................................................................. 23

D. KARAKTERISTIK GURU PAK ................................................... 24

1. Takut Tuhan ............................................................................... 25

2. Melayani ..................................................................................... 26

3. Mengasihi .................................................................................... 27

E. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN ..... 28

1. Kepribadian ................................................................................. 29

2. Sosial ........................................................................................... 30

3. Moral ........................................................................................... 31

4. Spiritual ....................................................................................... 32

F. LATAR BELAKANG KITAB 1 TIMOTIUS................................ 35

G. MAKSUD TULISAN 1 TIMOTIUS 4:12 ...................................... 37

BAB III PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PAK TERHADAP

PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA

13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12 ......................... 40

A. PENGERTIN KETELADANAN IMAN ........................................ 40

B. TELADAN-TELADAN IMAN DARI GURU PAK

BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12 ............................................ 48

1. Perkataan ..................................................................................... 49

2. Tingkah Laku .............................................................................. 51

3. Kasih ........................................................................................... 53

xiii

4. Kesetiaan ..................................................................................... 55

5. Kesucian ...................................................................................... 56

C. PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK

USIA 13-18 TAHUN ........................................................................ 57

1. Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Remaja .............................. 57

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Iman Peserta

Didik............................................................................................ 58

a. Internal ................................................................................. 58

b. Eksternal .............................................................................. 59

3. Gambaran Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18 Tahun

Yang Mendapat Pengaruh Dari Keteladanan Iman Guru PAK .. 62

BAB IV APLIKASINYA BAGI GURU PAK ..................................................... 64

A. GURU PAK MEMAHAMI BAHWA IA JUGA SEBAGAI

TELADAN IMAN BAGI PESERTA DIDIK ................................ 64

B. GURU PAK MENERAPKAN KETELADAN IMAN .................. 65

C. GURU PAK TERUS MEMBANGUN RELASI YANG INTIM

DENGAN TUHAN ........................................................................... 68

BAB V PENUTUP ................................................................................................ 69

A. KESIMPULAN ................................................................................. 69

B. SARAN .............................................................................................. 70

DAFTAR PUSATAKA .............................................................................................. 71

BIODATA PENULIS ................................................................................................. 75

1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis akan menguraikan: latar belakang masalah penelitian,

identifikasi masalah penelitian, pembatasan masalah penelitian, rumusan masalah

penelitian, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, metodologi dan sistematika

penulisan.

A. LATAR BELAKANG MASALAH PENELITIAN

Keteladanan merupakan salah satu sumber bagi manusia untuk belajar yaitu

melalui hal-hal yang dapat ditiru dari luar, demikian juga Stephen Tong mengatakan

¡°Manusia belajar melalui mengikuti apa yang orang lain lakukan... Manusia selalu

mengikuti orang-orang yang dikagumi. Itu merupakan kekuatan orang untuk

mencontoh¡±.1 Di dalam lingkungan pendidikan peserta didik banyak belajar melalui

banyak hal yang ditemuinya di lingkungan sekolah yaitu proses komunikasi, interaksi

sosial, karakter yang berbeda-beda dari peserta didik yang lain dan kegiatan belajar

mengajar di kelas yang bervariasi melalui guru yang berbeda-beda. Sekolah

memfasilitasi hal-hal positif yang dapat menjadi teladan bagi peserta didik baik itu

aturan-aturan yang berlaku di sekolah, kegiatan-kegiatan sekolah maupun orang-orang

yang menyelenggarakan pendidikan itu sendiri, maka harapan dan tujuan sekolah dalam

hal ini adalah supaya peserta didik dapat belajar dan meniru teladan-teladan positif yang

mereka temukan di sekolah yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Di dalam lingkungan sekolah guru memiliki peranan penting dalam

mewujudkan tujuan pembelajaran. Peranan guru tidak hanya diterapkan dalam usaha

1Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, (Surabaya: Momentum, 2010), 58

2

menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik sampai dimengerti tetapi juga

diterapkan dalam usaha-usaha mengajar sampai nilai-nilai pengajaran diterima dan

dilakukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. John M. Nainggolan menyatakan

bahwa:

Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan mengajar. Gurulah yang

membimbing peserta didiknya untuk belajar mengenal, memahami, dan

menghadapi dunia tempat ia berada.... Guru merupakan jembatan sekaligus

agen yang memungkinkan peserta didiknya berdialog dengan dunianya. Guru

merupakan faktor penting dalam menyukseskan belajar mengajar.2

Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab penting dalam menjalankan

kegiatan pembelajaran guna untuk mencapai tujuan mengajar. Demikian juga guru

Pendidikan Agama Kristen (PAK) tidak lepas dari tanggung jawabnya yaitu untuk

mencapai tujuan pembelajaran PAK. Guru PAK melakuakn beberapa peran dalam

meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik yang tidak hanya berpusat pada proses

pengajaran tetapi juga peran-peran lainnya yang menunjang ajaran PAK, Sidjabat

menyatakan ¡°Berkaitan dengan pendidikan kristen di sekolah maupun di gereja, guru

juga berperan sebagai pemberita Injil (evangelist), imam (priest), gembala (pastor),

konselor (counselor), dan teolog (theologiam).¡±3 Tujuan PAK di sekolah adalah

menjadikan para peserta didik menjadi murid Yesus dan beriman kepadaNya sebagai

Tuhan dan Juruselamatnya, seperti yang dikatakan oleh John M. Nainggolan ¡°Tujuan

PAK adalah membawa para murid Kristus menjadi murid yang dewasa... sampai semua

mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah¡±.4 Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa, guru PAK adalah orang beriman sehingga

keteladanan imannya sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan iman peserta

2John M. Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristian (Bandung: Bina Media

Informasi, 2011), 102

3B. S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993), 100

4Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristiani, 82

3

didik. Keteladanan guru PAK sangat memiliki signifikansi yang berpengaruh dalam

mencapai tujuan PAK, demikian juga sebaliknya jika guru PAK tidak menjadi teladan

iman maka, ia tidak berhasil seperti yang dikatakan S. Kure dan J. Plueddemman ¡°Jika

seorang guru PAK tidak menjadi teladan yang baik, maka ia tidak akan berhasil¡±.5 Guru

yang tidak berhasil yang dimaksud adalah tugas seorang guru belum dikerjakan secara

tuntas sehingga apa yang diajarkan tidak tersampaikan secara efektif dan tidak

mempengaruhi peserta didik secara positif.

Dalam pembelajaran PAK guna menuntun peserta didik untuk beriman kepada

Yesus Kristus dan karya keselamatanNya tidak cukup dengan teori yang dituangkan

melalui penyampaian pengetahuan tetapi perlu pribadi yang bisa menjadi teladan

sehingga peserta didik melihat betapa penting dan berharganya bertumbuh dalam iman

tidak hanya dengan pengetahuan yang cukup tetapi hidup yang telah diubahkan oleh

iman itu sendiri, dalam hal ini gurulah yang diharapkan dapat diteladani peserta didik.

Sebagai orang percaya yang lebih dewasa dan yang menerima tanggung jawab untuk

membawa peserta datang kepada Kristus maka, Guru PAK merupakan teladan iman

bagi peserta didik. Keteladanan guru PAK tidak hanya melalui proses pembelajaran

yang telah ditetapkan tetapi juga lebih dari itu adalah pribadi secara utuh yang telah

beriman. Dalam zaman yang semakin berkembang dan dapat berdampak negatif yang

menghambat dan bahkan hilangnya nilai iman sehingga peserta didik sulit menerima

pembelajaran PAK di dalam hidupnya. Tentunya ini menjadi tantangan bagi guru PAK

untuk lebih mempersiapkan diri untuk tetap menunjukaan betapa pentinya iman dalam

kehidupan peserta didik. Maka sangat penting guru PAK memberikan teladan sebagai

pribadi yang mempertahankan iman dalam zaman yang semakin berkembang.

5S. Kure dan J. Plueddemman, Mengajar Dengan Berhasil (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,

1997), 83

4

Seperti dikatakan Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 4:12 ¡°Jangan

seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi

orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,

dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.¡± Ayat ini menjelaskan kepada Timotius

supaya ia menjadi teladan kepada orang percaya lainnya, demikian juga guru PAK

merupakan teladan bagi peserta didik sehingga peserta didik dapat melihat figur seorang

yang beriman kepada Yesus Kristus dan peserta didik bertumbuh dalam iman kepada

Yesus Kristus pula. Ibrani pasal 11 juga menuliskan beberapa tokoh-tokoh iman dari

Perjanjian Lama (PL) seperti Abrahan, Musa, Daud dan beberapa tokoh iman lainnya

telah berjuang dengan iman untuk melakukan kehendak Tuhan pada zaman mereka

seperti tertulis dalam Ibrani pasal 11 apa yang mereka lakukan telah menjadi teladan

iman bagi kita pada masa ini supaya tetap hidup dengan iman. Penulis kitab Ibrani

menasihatkan supaya orang yang menerima surat itu mengikuti teladan orang-orang

yang menyampaikan Firman Allah supaya mereka teguh dan bertumbuh dalam iman

(Ibrani 13:7), demikian juga ayat ini menjadi pedoman bagi guru PAK pada zaman

seterusnya sebagai pengajar Firman Allah supaya menjadi teladan iman bagi para

peserta didik. Tanggung jawab guru tidak hanya menyampaikan materi PAK tetapi juga

bertanggung jawab untuk meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik melalui kuasa

Roha Kudus yaitu menolong anak untuk datang kepada Tuhan dan mengaku Yesus

sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Jika guru PAK menyadarari akan tanggung jawab

ini maka, ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam pengajarannya dan memberikan

teladan-teladan iman yang dapat ditiru dan mempengaruhi peserta didik untuk

membangun hubungan mereka dengan Tuhan.

5

B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, maka penulis

mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1. Guru PAK memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan

iman peserta didik. Kenyataannya, ada beberapa guru PAK yang belum

mengetahui perannya dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta

didiknya. Pertanyaannya, apa saja yang menjadi peran guru PAK dalam

meningkatkan petumbuhan iman peserta didik?

2. Guru PAK merupakan teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan

iman perta didik. Kenyataannya, ada sebagian guru PAK yang belum

manjadi teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta

didik. Pertanyaannya, bagaimana guru PAK menjadi teladan dalam

meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik?

3. Guru PAK memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan pertumbuhan

iman peserta didik. Ada guru PAK yang belum melakukan tanggung

jawabnya dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.

Pertanyaannya, bagaimana guru PAK melakukan tanggung jawabnya

dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik?

C. PEMBATASAN MASALAH PENELITIAN

Berdasarkan identifikasi masalah penelitian di atas, maka penulis membatasi

penelitian ini hanya pada poin kedua, yaitu: Guru PAK merupakan teladan iman dalam

meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Kenyataannya, ada sebagian guru PAK

yang belum menjadi teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta

6

didik. Pertanyaannya, bagaimana guru PAK menjadi teladan dalam meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik?

D. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Berdasarkan identifikasi masalah penelitian di atas. Maka, yang menjadi

rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran keteladanan iman guru PAK dan karakteristik

peserta didik usia 13-18 tahun?

2. Bagaimana keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik berdasarkan 1 Timotius 4:12?

3. Bagaimana aplikasinya bagi guru PAK?

E. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan gamabaran keteladan iman guru PAK dalam meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik.

2. Menjelaskan keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik berdasarkan 1 Timtoius 4:12.

3. Menjelaskan aplikasi keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik bagi guru PAK.

F. HIPOTESIS

Jika guru PAK mereapkan teladan-teladan iman dalam hidup dan

pengajarannya maka akan meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.

7

G. MANFAAT PENELITIAN

Berdasarkan tujuan masalah penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Manfaat dari sisi teoritis yaitu dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan

agama kristen bahwa keteladanan iman guru PAK dapat meningkatkan

pertumbuhan iman peserta didik.

2. Manfaat praktis

a) Menambahkan referensi pustaka bagi Sekolah Tinggi Theologia Injili

Arastamar (SETIA) yang berkaitan dengan keteladanan iman guru

PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.

b) Memberikan kontribusi kepada guru PAK untuk mengaplikasikan

keteladanan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta

didik.

c) Memperluas wawasan penulis tentang keteladanan iman guru PAK

dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.

H. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penulisan skripsi ini penulis memakai metode kepustakan (Library

Research). Metode kepustakaan adalah menulusuri literatur serta menelaah studi yang

ada di perpustakaan.6

6Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), 112

8

I. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I Pendahuluan

BAB II Gambaran guru PAK dan karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun.

BAB III Keteladanan iman guru PAK terhadap peningkatkan pertumbuhan iman

peserta didik usia 13-18 tahun berdasarkan 1 Timotius 4:12

BAB IV Aplikasinya bagi guru PAK

BAB V Penutup

9

BAB II

GAMBARAN GURU PAK DAN KARAKTERISTIK

PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN

A. GAMBARAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

Pada bagian ini penulis akan membahas tentang pengertian guru PAK, hakikat

menjadi guru PAK sebagai panggilan dan tanggung jawab, tuntutan bagi guru PAK,

karakteristik guru PAK, karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun, latar belakang

kitab 1 Timotius, dan maksud tulisan 1 Timotius 4:12. Pembahasannya sebagai berikut:

1. Pengertian Guru PAK

Guru adalah orang yang mengajar. KBBI mendefinisikan guru sebagai orang

yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.7 Sebagaimana juga

dijelaskan dalam Undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan

menengah. Dalam dunia pendidikan guru merupakan unsur pokok dalam melaksanakan

kegiatan pendidikan baik pendidikan formal, nonformal dan informal karena mereka

merupakan inisiator pendidikan itu sendiri karena guru memahami tujuan pendidikan,

merencanakan kegiatan pendidikan dan melaksanakan pendidikan, seperti Jamil

Suprihatiningrum juga mengatakan ¡°Orang yang disebut guru adalah orang yang

memiliki kemampuan merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan

7Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, KBBI (jakarta:Balai Pustaka, 2002),377

10

mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan akhirnya dapat mencapai tingkat

kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan¡±.8 B. S. Sidjabat menyatakan:

Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan mengajar. (untuk menjelaskan

maksud itu ia mengutip pendapat Brian Hill) Hal itu sangat beralasan karena,

seperti dikemukakan oleh Prof. Brian Hill, gurulah yang membimbing peserta

didiknya untuk belajar mengenal, memahami, dan menghadapi dunia

tempatnya berada. Dunia yang dimaksud itu termasuk dunia ilmu pengetahuan,

dunia iman, dunia karya, dan dunia sosial budaya.9

Dari beberapa pedapat di atas dapat dikatakan bahwa guru merupakan tonggak utama

yang menopang kegiatan dan kualitas pendidikan.

Guru pengajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah profesi mengajar

dibidang pendidikan agama kristen. Guru agama memiliki tanggung jawab yang sama

seperti guru pada umumnya yaitu mengajar bidang mata pelajaran kepada peserta didik,

mencapai tujuan pelajaran dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Guru

pengajar PAK memiliki tuntutan yang lain dari bidang itu sendiri, karena ia tidak hanya

dituntut secara kualitas mengajar yang memadai tetapi juga cara hidup yang berkualitas

yang dituntut oleh kebenaran yang ia ajarkan, Stephen Tong mengatakan ¡°Seorang guru

agama adalah seorang yang di dalam dirinya sendiri memiliki keyakinan, kepercayaan

yang teguh, ibadah yang beres, memiliki sifat moral dan hidup kesucian, kebajikan yang

sesuai dengan agamanya, sehingga ia mengerjakan segala sesuatu dengan bertanggung

jawab untuk kekekalan¡±.10 Gilbert A. Peterson juga menjelaskan ¡°The Crsitian teacher

also has the privilege of investing his life in the lives of others. To recognize that your

words and actions are influencing others brings tremendous responsibility as well as

8Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan Kompetensi

Guru (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2014),24

9B.S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional:Mewujudkan Visi Guru Profesional

(Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 1993), 65

10Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya:Momentum, 2006), 8-9

11

honor.¡±11 Penulis menerjemahkan guru kristen juga memiliki keistimewaaan

menginvestasikan hidupnya dalam kehidupan orang lain. Untuk mengetahui bahwa

perkataan dan tindakan kita mempengaruhi orang lain membawa tanggung jawab besar

serta dihargai. Dapat disimpulkan bahwa guru pengajar PAK adalah guru yang

mengajarkan ajaran kristen kepada peserta didik baik secara teori di kelas dan juga

melalui tindakan-tindakan guru dalam kegidupan sehari-hari yang mencerminkan ajaran

itu sendiri.

2. Dasar Alkitabiah

Alkitab adalah Kitab Suci yaitu yang diwahyukan oleh Allah sendiri melalui

para nabi dan para rasul juga menuliskan tentang guru PAK dalam sejarah manusia baik

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

a. Guru PAK dalam Perjanjian Lama (PL)

Alkitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab merupakan dasar untuk

mengetahui dan membahas PAK dalam sejarah kekristenan karena kitab-kitab PL

menuliskan tentang PAK dan semua komponen yang terlibat dalam kegiatan PAK itu

sendiri. Komponen PAK yang dimaksud adalah semua yang terlibat secara

komprehensif dalam kegiatan PAK baik itu pengajar, yang diajar, metode mengajar dan

sarana mengajar. Melalui pengalaman pendidikan bangsa Israel untuk mengetahui

kehendak Tuhan dapat ditemukan proses pendidikan agama kristen sejak zaman

Perjanjian Lama, sebagaimana dikatakan E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar

Pendidikan agama Kristen berpangkal kepada persekutuan umat Tuhan di

dalam Perjanjian Lama. Jadi, pada hakikatnya dasar-dasarnya sudah terdapat

dalam sejarah suci purbakala. PAK itu mulai dengan terpanggilnya Abraham

menjadi nenek moyang umat pilihan Allah, bahkan PAK berpokok kepada

11Werner C. Graendorf, Introduction To Blibical Christian Education (USA: The Moody Bible

Institute Of Chicago, 1981), 81

12

Allah sendiri, karena Allah yang menjadi pendidik Agung bagi umat-Nya

(Kejadian 12).12

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa PAK telah ada di dalam sejarah

kehidupan umat Tuhan sebagaimana dituliskan dalam kitab suci PL. Allah sendiri yang

memprakarsai PAK untuk menyatakan kehendakNya kepada umat pilihan.

Pengajaran yang Allah kerjakan dengan bercicara langsung kepada orangorang

yang telah ditentukanNya sendiri supaya menjadi penyambung lidahNya untuk

menyampaikan kehendak dan peraturanNya kepada bangsa Israel. Selain Allah sebagai

pengajar, Dia juga memberikan perintah kepada orang pilihan tersebut untuk menjadi

pengajar bagi umat Israel baik di dalam keluarga, kaum dan bangsanya, E. G.

Homrighausen dan I. H. Enklaar menyatakan

Nenek moyang kaum Israel, Abraham, Ishak dan Yakub menjadi guru bagi

seluruh keluarganya. Sebagai bapak-bapak dari bangsanya, mereka bukan saja

menjadi imam yang merupakan pengantara antara Tuhan dengan umatNya,

tetapi juga menjadi guru yang mengajarkan tentang perbuatan-perbuatan Tuhan

yang mulia itu dengan segala janji Tuhan yang membawa berkat kepada Israel

turun-temurun.13

Dengan demikian sejak zaman itu Allah sudah memakai orang-orang pilihanya

atau para nabi untuk menerima ajaranNya. Dalam proses itu Allah mengajar dengan

berbagai cara dan sekalipun membentuk mereka menjadi representatif Allah untuk

menyampaikan hukum-hukum dan kehendakNya kepada bangsa Israel. Ketika Allah

berfirman kepada Abraham (Kejadian 12:1-9) untuk memberitahukan kepadanya segala

rencanaNya dan berkat dan bangsa besar yang dijanjikan, bermula dari itu ia berangkat

dari Haran dan pergi jauh ke tanah yang diperintahkan Tuhan, maka dalam perjalanan

dan proses yang begitu panjang sebagai pengembara Abrahan dibentuk oleh Tuhan.

12E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung

Mulia, 2008), 1

13Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008), 2

13

Yusuf dan Musa dan orang pilihan lain yang dipilih Tuhan menerima dan mengalami

ajaran serta pembentukan untuk mengajar bangsa Israel.

Allah sebagai guru utama bangsa Israel dan sekaligus sebagai sumber ajaran itu

sendiri, sehingga Dia adalah guru PAK yang autentik dan berkuasa bagi bangsa Israel.

Allah memilih para nabi atau utusan yang dipilihNya sesuai dengan kehendakNya dan

Ia juga menghendaki mereka menjadi guru yang berpadanan dengan ajaranNya tidak

hanya dalam berbicara tetapi juga dalam cara hidup yang benar. Bangsa Israel

menghargai ajaran para nabi karena itu dari Tuhan dan memeliharanya untuk diajarkan

kepada generasi bangsa Israel selanjutnya. Eleanor A. Daniel dan John W. Wade

mengatakan ¡°Teaching in the Old Testament was Primerily designed to equip the

individual and community for faithful living (Deuteronomy 11:19; 20:18)¡±, 14 penulis

menerjemahkan ¡°pengajaran di dalam Perjanjian Lama terutama dirancang untuk

memperlengkapi setiap individu dan kelompok untuk hidup dengan setia¡±. Sesuai

dengan ayat yang dikutip di atas, setia yang dimaksud adalah selalu hidup sesuai dengan

kehendak Tuhan. PAK juga dipercayakan kepada orang tua untuk mengajarkan semua

ketetapan dan karya Tuhan bagi bangsa Israel kepada anak-anaknya (Ulangan 6:1-9),

Eleanor A. Daniel dan John W. Wade mengatakan tentang ayat ini ¡°The family is the

responsible for childhood instruction through teaching and community life¡±. 15

Dapat dikatakan bahwa sejarah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama telah

menuliskan sejarah PAK sekaligus. Allah adalah guru utama bagi bangsa Israel dan Dia

juga memakai para nabi dan utusan pilihan untuk mengajar bangsa itu serta orang tua-

14Eleanor A. Daniel dan John W. Wade, Foundations For Christian Education (United States Of

America:College Press Publising, 2007), 15

15Daniel dan Wade, Foundations For Christian Education (United States Of America:College

Press Publising, 2007), 16

14

orang tua dipakai oleh Tuhan untuk memelihara ajaran itu dan mengajarkannya kepada

anak-anaknya.

b. Guru PAK dalam Perjanjian Baru (PB)

1) Kitab Sinoptis

Dalam kitab Injil juga menuliskan sejarah PAK sejak kedatangan Yesus di

dalam dunia sampai dengan kematianNya dan pekabaran Injil yang dilanjutkan oleh

para rasul. Kitab sinoptik yang dituliskan oleh para rasul telah mencatat pelayanan

Yesus baik pengajaranNya serta perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukanNya. Yesus

adalah Anak Allah yang diutus oleh Allah untuk mengerjakan dan mengajarkan perintah

Bapa-Nya (Yohanes 4:34; 6:38; 12:50), dalam ayat ini dituliskan bahwa Yesus

menerima perintah itu langsung dari Allah serta juga isi pengajaran yang Yesus

sampaikan. Yesus dalam substansiNya adalah sebagai Firman yang telah menjadi

manusia (Yohanes 1:14) ini berarti bahwa Ia adalah Allah yang berinkarnasi dalam rupa

manusia ialah Dia juga menjadi sumber perbuatan dan ajaranNya. Dia juga bersubstansi

sebagai manusia setelah Ia dilahirkan oleh Maria. Ketika Dia memulai pekerjaanNya

orang-orang lebih banyak mengenalNya sebagai seorang pribadi manusia seperti yang

lain, akan tetapi Yesus melakukan pekerjaan dan pengajaranNya secara sempurna

sehingga banyak orang yang mengagumiNya.

Selama pelayanan Yesus di dunia, salah satu tugas yang dilakukanNya ialah

mengajar (Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea, Ia mengjaar dalam rumah-rumah

ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan

kelemahan di antara bangsa itu ¡°Matius 4:23; bdk Mat. 9:35; 11:1; Markus 2:13; 4:1;

Lukas 4:31; 5:3¡±).

15

Yesus telah memberikan teladan sejati kepada orang percaya khususnya

kepada para rasul melalui kehidupanNya sebagai orang yang dipilih dan diutus oleh

Allah untuk mengerjakan perintahNya. Pelayanan Yesus di dalam dunia pada zaman itu

telah memberikan kontribusi besar untuk menyatakan kebenaran dan membungkam

kejahatan dan ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran. Melalui kehidupan dan

ajaran Yesus telah membawa sukacita besar dan kekaguman oleh orang-orang yang

menerima Yesus, E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar menyatakan

Disamping jabatanNya sebagai penebus dan pembebas, Tuhan Yesus juga

menjadi seorang Guru yang Agung. keahlianNya sebagai seorang guru

umumnya diperhatikan dan dipuji oleh orang Yahudi, mereka dengan

sendirinya menyebut diriNya Rabbi. Ini tentu suatu gelar kehormatan, yang

menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh orang sebangsaNya selaku

seorang pengajar yang mahir dalam segala soal ilmu ketuhanan. Sebab Ia

mengajar mereka ¡°sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat

yang biasa mengajar mereka¡± (Matius 7:29).16

Berdasarkan pendapat di atas akan semakin meneguhkan keteladanan yang Dia

berikan sebagai pengajar PAK pada permulaan PB bahwa orang-orang pada saat itu

memberikan gelar kepadaNya sebagai guru seperti guru-guru Yahudi pada zaman itu

bahkan mereka memberikan beberapa perbedaan dari guru-guru pada umumnya.

Mereka menganggap Yesus memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada guru-guru

taurat agama Yahudi melalui pengajaranNya dan totalitas hidupNya (Dan setelah Yesus

mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab

Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat mereka

¡°Matius 7:28-29; bdk Markus 1:22; Lukas 4:15; 4:31-32¡±).

2) Kitab-kitab Para Rasul

Dalam kitab-kitab PB selain dari kitab-kitab sinoptis juga dituliskan dalam

kitab Para rasul ketika mereka memberitakan Injil setelah Yesus naik ke surga.

16Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008), 5

16

Pelayanan para rasul tentu tidak bisa dipisahkan dari pelayanan Yesus karena mereka

adalah murid dari Yesus Sang Guru Agung. Para Rasul yang ditetapkan dan diutus oleh

Yesus sendiri mengajar sesuai perintah dari Sang Guru sekaligus Pengutus Lukas 6:12-

13; Matius 28:19-20). Perintah ini menjadi dasar bagi para rasul untuk memberitakan

Injil dan meneruskan pengajaran seperti yang telah dilakukan Yesus. Para rasul

meneruskan segala sesuatu yang telah Yesus ajarkan kepada orang disegala bangsa.

Untuk melakukan perintah ini para rasul meneladani Yesus sebagai teladan sejati dalam

menuntaskan misi ini, baik dari cara hidup yang benar sebagai pelayan Allah, pekerjaan

yang harus mereka kerjakan dan juga ajaran. Teladan ini telah membentuk para rasul

dan memberikan kontribusi yang besar dalam keberhasilan peyanan pekabaran Injil

mula-mula, J. I. Packer, Merril C. Tenney, dan William White, Jr mengatakan ¡°...Yesus

membentuk kedua belas orang ini menjadi pemimpin-pemimpin yang tangguh dan

saksi-saksi utama tentang iman kristen. Kesuksesan mereka membuktikan kuasa untuk

mengubah yang dimiliki Yesus...(ini membuktikan juga keberhasilan dari keteladanan

dan ajaran yang telah Yesus ajarkan).17

Para Rasul mengerjakan tugas pengajaran itu dengan penuh tanggung jawab

karena mereka tahu begitu penting Injil harus diberitakan dan mengenal siapa yang

mengutus mereka. Pelayanan para rasul sebagai pengajar Firman telah melahirkan

generasi pengajar Firman dan bahkan jemaat mula-mula. Paulus memanggil Timotius

untuk menjadi pengajar Firman. Timotius terus diingatkan oleh Paulus untuk menjadi

pengajar yang dapat menjadi teladan bagi semua orang yang diajar pada saat itu (1

Timotius 4:12), tentu ini merupakan pembentukan kepada Timotius untuk menjadi

pengajar yang utuh tidak hanya ajaran tetapi juga dari karakter yang baik. Rasul Paulus

17J. I. Packer, Merril C. Tenney, dan William White, Jr, diterjemahkan oleh Johan C. Pandelaki

dan Sutrisno, Dunia Perjanjian Baru (Malang:Gandum Mas, 1993), 147

17

memerintahkan Timotius untuk meneruskan ajaran yang telah ia terima sekaligus

mencari dan membentuk guru untuk regenerasi guru selanjutnya (2 Timotius 2:2).

Dapat diketahui bahwa dalam kita-kitab PB telah ada guru PAK dan terus melahirkan

guru PAK untuk generasi selanjutnya.

B. HAKIKAT MENJADI GURU PAK SEBAGAI PANGGILAN DAN

TANGGUNG JAWAB

Hakikat menjadi guru PAK adalah dasar menjadi seorang guru PAK. Untuk

mengetahui hakikat menjadi guru PAK akan dilihat dari perspektif PAK itu sendiri.

Seperti apa yang telah penulis paparkan dalam bab 1 bahwa guru PAK berbeda dari

guru mata pelajaran lain pada umumnya. Guru PAK tidak hanya sebagai profesi dan

sebatas mengajar pengetahuan tetapi menjadi seorang guru PAK ada substansi yang

lebih mendasar mengapa akhirnya orang memutuskan menjadi seorang guru PAK.

1. Panggilan

Guru Pendidikan Agama Kristen adalah juga orang percaya yang telah

ditentukan oleh Allah sendiri dalam kedaulatanNya dan memangggil dia untuk

menggenapi tujuanNya dalam pribadi orang tersebut. Hal ini dapat diketahui di dalam

Alkitab baik dalam PL dapat diketahui bagaimana Allah memanggil para nabi, imam

dan raja untuk menuntun bangsa Israel. Tuhan memanggil Abraham untuk pergi dari

daerahnya ke tempat dimana Tuhan menuntunnya untuk menggenapi rencana Allah bagi

bangsa dan keturunannya, ¡°kejadian 12¡±. Tuhan memanggail Musa untuk menjadi

pemimpin bagi bangsa Israel dan mengajarkan kepada bangsa itu segala ketetapan

Tuhan ¡°Keluaran 2-3¡±. Dan kemudian peristiwa-peristiwa lain ketika Tuhan memanggil

para nabi yang lain. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi,

18

baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar

(Efesus 4:11).

Dalam PB dapat diketahui ketika Yesus memilih dan memanggil para rasul

untuk mengikut Dia dan meneruskan pekerjaanNya setelah kenaikanNya ¡°Lukas 6:12-

16; Yohanes 15:16-17¡±. Ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan sendirilah yang memanggil

setiap orang percaya untuk datang kepadaNya. Perintah Yesus sebelum naik ke surga

dalam Matius 18:19-20 ¡°Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa-bangsa muridKu

dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka

melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku

menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.¡± Ini adalah perintah bagi guru

PAK yang dipanggil untuk pergi, menjadikan murid, dan mengajarkan kebenaran

Firman Tuhan kepada siapapun.

Ketika seorang guru PAK memutuskan untuk menjadi guru maka pada saat itu

juga ia merespon panggilan Allah atas dirinya untuk mengajar, Harro Van Brummelan

menyebutkan bahwa,

Mendidik adalah sebuah perjalanan , perjalanan Sang Pencipta (Allah) bersama

anda. Allah menyampaikan sesuatu pada anda mengenai tujuan yang

dipercayakanNya lewat anda sebagai guru dan orang tua (yang dapat direspon

melalui salah satu yang saya kutip) mengajarkan segala sesuatu yang

diamanatkan Tuhan lewat panggilan menjadi seorang guru dalam diri anda.18

Dengan demikian dapat diketahui bahwa ketika seseorang mulai mengajar maka, pada

saat itu juga kita merespon panggilan itu meskipun tidak langsung disadari atau

dimengerti secara benar, Gloria Durka mengatakan ¡°it takes a while for us to realize just

how much our work embodies our vision of teaching and our belief about students. We

grow to understand that teaching is a calling that makes claims on our soul (butuh waktu

18Jenny Gichara, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa (Jakarta: PT Gramedia, 2013), 27

19

untuk menyadari begitu banyak pekerjaan kita menunjukkan visi pengajaran kita

kepercayaan kita tentang siswa-siswa. Kita bertumbuh untuk mengerti bahwa mengajar

adalah sebuah panggilan yang membuat pernyataan-pernyataan di dalam jiwa kita)¡±.19

Panggilan Tuhan bagi setiap guru PAK adalah juga berarti bahwa Tuhan

sendiri yang mempersiapkan dan mengajar orang tersebut dalam memenuhi panggilan

untuk mengajar itu, Duane Hooper mengatakan ¡°anyone who is called to christian

ministry, teaching included, will experince a transformation regarding interesteds and

priorities. ... they will be guided there by the Spirit of God (setiap orang yang dipanggil

untuk pelayanan kristen, termasuk pengajaran, akan mengalami sebuah transformasi

sehubungan kepentingan-kepentingan dan prioritas-prioritas. .... mereka akan dipimpin

oleh Roh Allah).¡±20 Dalam proses yang dilewati seseorang ketika Tuhan memanggil dia

untuk menjadi seorang guru disadari atau tidak Tuhan sedang mendidik dan menyatakan

kehendakNya kepadanya. Seperti yang dikatakan Hooper bahwa:

The credible christian teacher is an accademically well prepared christian who

believes his post is by the calling of God in the full context of the christian

worldview. Such a calling is fully implemented only as the christian is willing

to hear and obey the Master.s summons and faithfully step up to the plate for

servide.21

Terjemahan penulis (guru kristen yang kredibel adalah seorang kristen yang

dipersiapkan dengan baik secara akademis yang percaya jabatannya adalah oleh

panggilan Allah dalam konteks yang penuh pandangan kekristenan. Panggilan seperti

ini dilaksanakan sepenuhnya seperti seorang kristen yang mau mendengar dan menaati

panggilan tuan dan dengan setia melangkah dalam pelayanan). Menjadi seorang guru

PAK adalah meresponi panggilan Tuhan. Hal itu menjadi salah satu hakikat bahwa guru

19Gloria Durka, The Teacher¡¯s Calling, A Spirituality For Those Who Teach (United States Of

America: Paulist Press, 2002), 3

20Duane Hooper, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids (The United States Of

America: Xulon Press, 2008), 35

21Hooper, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids, 36

20

PAK menerima panggilan dari Tuhan sehingga dengan berjalannya waktu dan proses

dalam mempersiapkan diri akan semakin diteguhkan olehNya sampai mengerti dan

melaksanakan tugas dari panggilan itu sesuai dengan ajaran yang ditetapkan Tuhan

sendiri.

2. Tanggung Jawab

Menjadi guru PAK tidaklah hanya sebuah profesi untuk memenuhi kebutuhan

hidup tetapi itu merupakan sebuah tanggung jawab guru PAK dalam melaksanan tugas

tersebut. Tanggung jawab menjadi seorang guru PAK tidak hanya diberikan oleh

lembaga terkait atau tuntutan dalam mengerjakan sebuah profesi tetapi lebih dari itu hal

itu merupakan tanggung jawab dari Tuhan sebagai orang percaya terlebih jika telah

diberikan karunia untuk mengajar ¡°Roma 12:6-7 demikianlah kita mempunyai karunia

yang berlainan-lainan menurut kasih karunia yang dianugrahkan kepada kita. Jika

karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani. Jika karunia untuk mengajar,

baiklah kita mengajar.¡± Sebagai guru PAK juga merupakan karunia dari Tuhan secara

khusus. Paulus lebih lagi menegaskan tentang dirinya ketika ia mengajar ¡°1 Korintus

9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk

memgahkan diri, sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika aku, jika aku

tidak memberitakan Injil.¡± John M. Nainggolan mengatakan ¡°seorang guru kristen

haruslah memiliki tanggung jawab tinggi terhadap Tuhan, sesama dan dirinya sendiri.

Tanggung jawab haruslah merupakan hal yang penting dalam hidupnya dan

21

dinampakkan secara nyata lewat pengabdiannya sebagai guru.¡±22 Kemudian Stephen

Tong berkata :

Menjadi seorang guru haruslah memberikan suatu beban yang berat di dalam

hatimu. Seorang guru bukanlah pekerjaan main-mainan, menjadi bukanlah hal

permainan atau hal yang boleh dikerjakan secara sembarangan. Sebaliknya

sebagai guru haruslah masuk ke dalam kebenaran dan seluruh tanggung jawab.

Ini sutu hal yang sedemikina serius, karena sedang membawa murid kepada

kebenaran dan menuntut mereka untuk bertanggung jawab dan memberikan

respon yang benar menurut kebenaran itu sendiri.23

Untuk mengetahui tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai guru

merupakan aspek yang penting. Ketika melaksanakan tugas guru dengan tanggung

jawab maka hal itu akan membantu dalam mengefektifkan setiap kegiatan pembelajaran

dan tujuan pembelajaran PAK.

C. TUNTUTAN BAGI GURU PAK

Untuk menjadi seorang guru diperlukan kualifikasi-kualifikasi yang dituntut

oleh pemerintah baik itu tingkat satuan pendidikan yang ditempuh dan juga tuntutan

khusus dalam bidang yang ditekuni. Tuntutan yang dituntut dari guru bermanfaat juga

agar ia dapat mengerjakan tugasnya sesuai yang dibutuhkan. Demikian juga guru PAK

dituntut agar layak menjadi seorang guru dibidang PAK dan mengerjakan tugas dengan

baik.

1. Sudah Dilahirkan Kembali

Dilahirkan kembali adalah salah satu hal yang pokok dalam kekristenan,

karena itu dialami oleh setiap orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan

Juruselamatnya. Dilahirkan kembali tidak berarti secara jasmani tetapi secara rohani,

sebagaimana percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes 3:5 Yesus

22John M. Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristiani (Bandung: Bina Media

Informasi, 2011), 109

23Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya: Momentum, 2010), 28-29

22

menegaskan bahwa manusia harus dilahirkan kembali terlebih dahulu sebelum ia masuk

ke dalam kerajaan surga. Surbakti menjelaskan tentang ayat tersebut :

Dilahirkan kembali atau lahir dari atas adalah tindakan dari Allah yang

memungkinkan hidup baru yang penuh pengharapan diberikan kepada orang

percaya (1 Petrus 1:3). Dilahirkan kembali berarti menjadi anak-anak Allah

melalui percaya dalam nama Yesus Kristus (Yohanes 1:12). Artinya,

¡°....diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh

keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah¡± (Yohanes 1:13). Lahir baru

berarti benar-benar terjadi pembaruan secara radikal oleh pekerjaan Roh

Kudus, ada suatu perubahan yang baru, suatu kodrat yang baru, suatu asal-usul

yang baru, yang tercermin dalam iman dan kehidupan gereja.24

Tidak terkecuali juga bagi guru PAK bahkan terlebih dahulu dituntut untuk

dilahirkan kembali. Kejadian dilahirkan kembali adalah pekerjaan dari Roh Kudus yang

memampukan kita untuk menerima kebenaran dan akibatnya mengalami perubahan dari

sikap hidup yang lama ke hidup yang baru, ¡°berarti orang yang mengajar sebagai guru

sekolah kristen dan guru sekolah minggu harus adalah orang yang mempunyai jiwa

injili, harus mempunyai pengalaman diperanakkan pula secara pribadi dan mendapakan

hidup yang baru, sebagai ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) di dalam Tuhan. Ini

merupakan hal yang pertama.¡±25 Salah satu tujuan PAK adalah supaya peserta didik

mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan serta perubahan hidup sesuai dengan

kebenaran melalui kelahiran kembali. Untuk mencapai tujuan itu terlebih dahulu

pengajar PAK sudah dilahirkan kembali.

2. Hidup Sesuai Dengan Firman Tuhan

Hidup sesuai dengan Firman Tuhan menyangkut kepribadian yang selalu

mengamalkan ajaran dalam Fiman Tuhan. Guru PAK tidak hanya menunjukkan figur

sebagai guru pengajar yang menguasai bidangnya secara pengetahuan dan siap

menyampaikannya kepada peserta didik, tetapi guru PAK juga menunjukan figur

24E. B. Surbakti, Benarkah Injil Kabar Baik? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 78

25Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya: Momentum, 2003), 24

23

sebagai pribadi yang menerima ajaran itu sendiri sebagai nilai-nilai kehidupan yang

tertinggi dan mengaplikasikannya dalam semua aspek kehidupan.

Untuk mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam Firman Tuhan kepada peserta

didik dan tentu mendorong mereka untuk menilai betapa pentinggnya ajaran Firman

Tuhan bagi kehidupan mereka melalui pimpinan Roh Kudus tidak hanya secara lisan di

dalam kelas tetapi melalui kehidupan guru PAK itu sendiri yang hidup sesuai dengan

Firman Tuhan.

3. Memiliki Pengetahuan Akan Kebenaran

Telah menjadi tuntutan bagi setiap guru pada umumnya untuk menguasai

pengetahuan pada bidangnya, tetapi guru PAK memiliki penekanan yang lebih dari

tuntutan itu. Guru PAK tidak hanya menguasai secara teori tentang bahan-bahan

pengajaran tetapi juga memiliki pengetahuan secara benar dan lengkap tentang

kebenaran artinya guru PAK tidak serta merta menerima semua pengetahuanpengetahuan

yang diperoleh dari sumber-sumber lain tetapi menyaring setiap

pengetahuan itu berdasarkan Firman Tuhan.

Paulus berdoa untuk jemaat di Kolose supaya mereka menerima segala hikmat

dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna

(Kolose 1:9), berarti bahwa untuk mengetahui kehendak Tuhan harus ada pengetahuan

yang benar tentang kebenaran sehingga tidak sembarangan dan mudah disesatkan.

Nasihat Paulus kepada Timotius juga untuk tetap berpegang teguh pada ajaran yang

telah diterimanya dan menghindari omongan yang kosong, tidak suci dan

perteentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan ¡°1

Timotius 4:12; 6:20).

24

Guru PAK dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang kebenaran sesuai

dengan Firman Tuhan sehingga pengajaran tersampaikan dan peserta didik tidak

disesatkan.

4. Syarat-syarat Bagi Guru PAK yang Baik Menurut Enklaar dan

Homrighausen

a. Seorang guru harus mempunyai pengalaman rohani. Perlu sekali ia

sendiri mengenal Tuhan Yesus. Batinnya harus dijamah dan diterangi

oleh Roh Kudus.

b. Seorang harus mempunyai hasrat sejati untuk menyampaikan Injil

kepada sesamanya manusia. Harus ada dorongan yang kuat untuk

mengantar orang lain kepada Yesus Kristus.

c. Seorang guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang isi

iman Kristen. Ia harus mengenal Alkitab dengan baik. Untuk itu ia

sendiri perlu dididik dan dilatih sebelum ia mengajar orang lain.

d. Seorang guru perlu mengetahui bagaimana iman bertumbuh dalam

batin manusia dan bagimana iman itu berkembang dalam seluruh hidup

orang percaya.

e. Seorang guru harus menunjukkan kesetiaan yang sungguh kepada

gerejanya.

f. Seorang guru harus mempunyai pribadi yang jujur dan tinggi

mutunya.26

26I. H. Enklaar dan E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung

Mulia, 2011), 165-166

25

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru PAK perlu

mempunyai pengalaman rohani terlebih dahulu dan tujuan PAK terlebih dahulu telah

tercapai dalam diri guru PAK itu sendiri.

D. KARAKTERISTIK GURU PAK

Sebagai guru PAK yang berkarakter akan senantiasa menjunjung tinggi nilainilai

keberanan yang ia ajarakan. Keberanan yang telah dipelajari akan mempengaruhi

setiap kepribadian guru PAK maka, bagi setiap guru PAK yang beriman memiliki

karakter sesuai dengan karakter yang dituntut oleh ajaran PAK yaitu sesuai dengan

kebenaran dalam Injil Kristus. Tujuan PAK dalam membentuk karakter setiap orang

juga berdampak bagi guru PAK artinya bahwa guru PAK terlebih dahulu memiliki

karakter kebenaran sebelum mendidik anak untuk berkarakter sesuai dengan kebenaran.

Karakter guru PAK menjadi ciri tersendiri yang membedakan mereka dengan guru pada

umumnya yang tidak percaya kepada Kristus. Guru PAK yang percaya kepada Kristus

dan ajaran kebenaran yang terkandung di dalamnya akan memiliki karakteristik sebagai

berikut:

1. Takut Tuhan

Takut Tuhan adalah karakter yang perlu dimiliki oleh guru PAK, tidak hanya

ditunjukkan secara pribadi dengan Tuhan tetapi hal itu juga berdampak dalam

kehidupan sehari-hari dimanapun berada, yang ditunjukkan melalui perilaku, perkataan,

berpikir dan hidup yang sesuai dengan kebenaran. Karakter takut Tuhan adalah perintah

dari Tuhan sendiri. Perintah itu disampaikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui

Musa dalam kitab Ulangan 6:1-2 ¡°Inilah perintah, yakni ketepan dan peraturan, yang

aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri,

kemana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak

26

cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan

perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.¡± Dalam perintah

tersebut Tuhan menginginkan agar umat Israel takut Dia untuk seumur hidup artinya

bagaimana bangsa Israel setia dalam melakukan segala ketetapan dan perintahNya dan

bagaimana mereka hidup dihadapan Tuhan sebagai Tuhan yang telah menyatakan

diriNya kepada mereka dan yang berkuasa melakukan segala sesuatu.

Ferry Yang mengatakan bahwa takut Tuhan adalah suatu prinsip yang penting.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa dalam Mazmur 111:10 dan Amsal 1:7 takut akan

Tuhan menjadi landasan dari seluruh pengetahuan. Segala macam pengetahuan yang

kita punya tidaklah bisa dicapai dengan baik dan tepat kecuali kita takut akan Tuhan,

karena seluruh pengetahuan diberikan oleh Tuhan.27

Guru PAK sebagai pengajar membutuhkan pengetahuan dan hikmat. Untuk

memperoleh itu maka seorang guru PAK perlu memiliki karakter takut Tuhan sebagai

sumber pengetahuan. Takut Tuhan juga adalah sebagai akibat dari pengetahuan itu

sendiri untuk terus taat dalam melakukan kehendak Tuhan. Karakter takut akan Tuhan

akan mengajarkan juga orang percaya bagaimana harus hidup di hadapan Tuhan dan di

hadapan sesama manusia karena pengenalan dan hubungan yang benar kepada Tuhan.

2. Melayani

Melayani adalah jati diri sejati seorang murid Yesus. Karakter Yesus selama

melaksanakan pekerjaan yang agung dan mulia selama di dunia senantiasa

menunjukkan diriNya sebagai pelayanan baik ketika Yesus bersama-sama dengan orang

banyak Ia mengajar mereka, menyembuhkan segala penyakit dan menyediakan

makanan kepada orang yang mengikutinya, demikian juga ketika Yesus secara khusus

27Ferry Yang, Pendidikan Kristen (Surabaya: Momentum, 2018), 81

27

bersama-sama dengan murid-muridnya, Ia mengajar murid-muridNya untuk menjadi

pelayan bagi sesamanya (Lukas 22:25-27). Begitu juga ketika suatu malam Yesus

bersama-sama dengan murid-muridNya untuk makan bersama, Yesus membasuk kaki

murid-muridNya sebagai teladan bagi mereka untuk melakukannya (Yohanes 13:1-20).

Dalam Markus 10:45 ¡°karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani,

melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi

banyak orang.¡± Dengan jelas Yesus mengatakan bahwa Ia datang ke dalam sunia untuk

melayani.

Karakter melayani merupakan salah satu wujud ungkapan syukur kepada Allah

sekaligus merupakan tanggung jawab orang percaya. . . . Pelayanan kepada Allah mesti

dilandasi oleh sikap hati yang tulus atau tanpa pamrih.28 Karakter ini sangat signifikan

bagi seorang guru PAK untuk mengajar dengan komitmen untuk mencapai tujuan

pembelajaran itu sendiri, karena dengan karakter ini akan menuntun guru PAK untuk

setia dan memaksimalkan pengajaran. Maka dapat dikatakan bahwa guru PAK tidak

hanya melaksanakan tugasnya sebagai tuntutan profesi tetapi juga karena tuntutan

dalam pelayanan yang Tuhan berikan sehingga guru PAK melihat bahwa pelayanan

untuk mengajar adalah kesempatan yang sangat mulia dan yang patut disyukuri.

3. Mengasihi

Mengasihi adalah merupakan perintah yang utama yang disampaikan oleh

Yesus kepada orang percaya (Matius 22:37-39), hal ini didasarkan dari kasih Allah yang

sejati kepada manusia yang ditunjukkan melalui pelayanan Yesus dalam melaksanakan

karya penebusan bagi umat manusia. Mengasihi berarti sikap menerima orang lain dan

berusaha melakukan yang terbaik untuk kebaikan sesama. Mengasihi akan menjadi

28Ismael Banne Ringgi., Santoso Sri Buwono, dkk, Hidup Besyukur: Pendidikan Agama Kristen

(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 51

28

dasar bagi setiap orang percaya untuk melakukan segala sesuatu khususnya dalam

pelayanan. Guru PAK perlu mendasarkan pengajarannya berdasarkan kasih yang

bertolak dari kasih Kristus sendiri, dengan demikian guru akan menghargai setiap

pribadi murid yang diajarkan sebagai orang-orang yang berharga dan perlu dididik

dalam kebenaran. Mary Setiawani dan Stephen Tong mengatakan ¡°Seorang guru yang

mengajar harus didasarkan pada cinta kepada anak didik. Tanpa cinta yang

sesungguhnya kepada mereka yang saudara layani, tidak ada pekerjaan yang diingat

oleh Tuhan.¡±29 Dengan demikian dapat diketahui bahwa karakter mengasihi selain

sebagi dasar pengajaran tetapi itu juga adalah yang berkenan kepada Tuhan. Mary

Setiawani dan Stephen Tong berkata :

Guru yang mengasihi adalah guru yang bersedia mengorbankan waktu,

mengorbankan tenaga, bahkan mengorbankan perasaannya dan harga dirinya

dalam membentuk kerohanian anak didiknya. Kasih yang dimiliki oleh guru

PAK membuat guru memandang anak tidak secara lahiriah, tetapi memandang

anak sebagai jiwa yang berharga yang perlu untuk dibimbing kerohanianya.

Maka guru menerobos hal lahiriah dari anak itu, lalu melihat jiwa yang bernilai

kekal di dalam diri anak tersebut.30

Dapat diketahui begitu pentingnya sikap mengasihi dalam pengajaran guru

PAK. Tentunya hal ini dibutuhkan usaha-usaha dari guru PAK untuk menujukkan kasih

itu kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat melihat dan mengalami kasih dari

setiap tindakan guru dalam pengajarannya. Dengan kasih ini juga dapat menjadi teladan

bagi para peserta didik yang memberikan dampak positif dalam proses pembentukan

mereka untuk menjadi pribadi yang takut Tuhan dan melakukan kehendakNya.

29Mary Setiawani dan Stephen Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen (Surabaya: Momentum,

2008), 66

30Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, 17

29

E. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN

Anak usia 13-18 tahun adalah masa remaja yang mengalami perubahanperubahan,

perkembangan yang dialami mencakup aspek fisik, psikis, dan sosial yang

prinsipnya ketiga aspek perkembangan tersebut mencapai kematangan pada masa

remaja.31 Masa usia ini merupakan masa proses peralihan dari anak-anak menuju

dewasa sehingga pada masa ini perlu bantuan untuk mengawasi pertumbuhan tersebut

karena ini adalah masa produktif untuk mempersiapkan pribadi menuju dewasa

tanggugn jawab sebagai orang dewasa.

Karena kurang memaksimalkan diri pada masa ini tidak sedikit anak

mengalami masalah saat menuju dewasa bahkan gagal dalam mengerjakan tugasnya

sebagai orang dewasa, jadi selain masa ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan

persiapan masa dewasa tetapi masa ini juga dapat menjadi masa datangnya kesulitankesulitan

yang akan dihadapi oleh remaja, Syamsul Bachri Thalib mengutip pendapat

Nuryoto

Pada masa transisi, remaja dalam kondisi tidak stabil. Ada perasaan tidak aman

karena harus mengganti atau mengubah pola tingkah laku anak-anak ke

dewasa. Emosi yang tidak stabil dapat mendatangkan perasaan tidak bahagia

(unhappiness). Munculnya perasaan tidak bahagia dapat disebabkan oleh

kegagalan hubungan heteroseksual, idealisme yang berlebihan, tekanan sosial,

problem penyesuaian, dan ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan

remaja.32

Untuk itu sangat perlu guru untuk mengawasi dan menolong remaja dalam masa ini

demi memaksimalkan perkembangan ke hal-hal yang positif dan mencegal berbagai

kegagalan serta perkembangan ke arah negatif.

31Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2010), 41

32Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, (Jakarta:

Kencana,2010), 44

30

a. Kepribadian Anak Usia 13-18 Tahun

Kepribadian merupakan sifat seseorang yang mencerminkan orang tersebut

secara khusus. Kerpibadian ini terbentuk dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh

semua faktor baik dari dalam diri sendiri dan juga dari luar. Elizabeth B. Hurlock

berkata ¡°Pada awal masa remaja, anak laki-laki dan perempuan sudah menyadari sifatsifat

yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat

teman-teman mereka. mereka juga sadar akan peran kepribadian dalam hubunganhubungan

sosial dan oleh karenanya terdorong untuk memperbaiki kepribadian

mereka.¡±33

Pada masa anak menuju remaja maka kepribadiannya sudah mulai dibentuk

pada masa anak-anak sehingga hal ini menjadi kesulitan bagi anak remaja untuk

menyesuaikan diri pada tuntutan masa remaja, Elizabeth berkata ¡°Ini merupakan tugas

yang sulit dan seringkali tidak mungkin. Pertama, pola kepribadian yang sudah dibentuk

selama masa kanak-kanak sudah mulai stabil dan cenderung menetap sepanjang

hidupnya dengan hanya sedikit perbaikan¡±,34 sehingga ini menjadi tugas guru untuk

menolong para murid untuk sadar dan punya konsep yang benar tentang kepribadian

dan memmbentuk kepribadian ke arah yang benar.

b. Sosial Anak Usia 13-18 Tahun

Perubahan sosial remaja yaitu kegiatan remaja yang memilih untuk menjalin

interaksi sosial di lingkungan yang lebih luas. Syamsul Bachri Thalib mengatakan

Secara umum perkembangan sosial merupakan ekspresi dari kondisi fisik dan

psikis individu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada waktu

mulai merenggangnya ikatan-ikatan keluarga, para remaja juga membina

identifikasi yang lebih besar dengan orang-orang lain dari kelompok umur

yang sama, dan mengembangkan rasa bersatu sebagai suatu generasi. Remaja

33Elizabeth B. Hurlock, dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi

Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1980), 233

34Hurlock, dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi Perkembangan, 234

31

mengorganisasi kultur tertentu dan menjadikannya sebagai ciri khas mereka

sendiri, termasuk misalnya model rambut, pakaian, musik dan semacamnya

yang membedakannya dengan ciri-ciri kelompok usia lainnya.35

Dengan perkembangan ini anak remaja akan semakin mengerti pentingnya

untuk berinteraksi dan ikut berkontribusi dalam kelompok sosial sehingga ia juga

semakin mengerti bahwa ia penting dalam membangun sistem sosial. Ini juga akan

berdampak negatif untuk membangun karakter remaja yang dipengaruhi oleh

lingkungan yang lebih luas, khusunya pada masa ini juga waktu anak dengan keluarga

akan semakin sedikit. Selain orang tua yang diharapkan untuk lebih meningkatkan

pengawasan kepada anak, guru juga dituntut untuk lebih aktif memperhatikan sistem

sosial di sekolah dan juga di luar sekolah.

c. Moral Anak Usia 13-18 Tahun

Moral merupakan kebiasaan yang berlaku dalam setiap kelompok masyarakat

yang dianggap bernilai dan dapat diterima untuk menjadi kebiasaan dalam kelompok

tersebut. Perkembangan moral remaja juga sangat ditentukan oleh lingkungan dimana

dia berada, dapat dikatakan semakin luasnya lingkungan sosial seorang remaja maka dia

akan lebih mengerti prinsip-prinsip moral yang berlaku secara luas. J. Piaget dan L.

Kohlberg dalam buku mengatakan bahwa perkembangan moral seorang anak sejalan

dengan perkembangan aspek kognitifnya. Dengan makin bertambahnya tingkat

pengertian anak, makin banyak pula nilai-nilai moral yang dapat ditangkap dan

dimengerti oleh anak.36

Remaja yang semakin memperluas lingkungan interaksi sosialnya akan

memperngaruhi perkembangan moral remaja tersebut. Jika remaja hidup dalam

lingkungan sosial orang-orang yang bermoral maka dia juga akan hidup sebagai orang

35Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, 58

36Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja

(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 66

32

yang bermoral dan sebaliknya jika dia hidup dalam lingkungan orang-orang yang tidak

bermoral maka dia juga akan hidup sebagai orang yang tidak bermoral. Pada masa ini

anak akan berlaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku dalam lingkungan

sosialnya, sehingga pada masa ini diperlukan pengarahan dan pemahaman dari orang

tua, guru dan orang dewasa yang bermoral.

d. Spiritual Anak Usia 13-18 Tahun

Spiritual juga mempengaruhi semua aspek perkembangan yang dialami oleh

remaja, sesuai dengan pandangan Fowler mengatakan bahwa ¡°Iman sebagai sesuatu

yang aktif, dan sebagai suatu kata kerja. Iman lebih merupakan suatu proses menjadi

daripada sesuatu yang diproses seseorang¡±,37 dengan iman yang aktif dan berproses

berarti dapat diamati perkembangannya untuk setiap tahap-tahap. Kemudian Fowler

menuliskan enam tahap perkembangan iman secara umum:

1. Iman intuitive-projektive. Anak-anak kecil yang berusia sampai tujuh tahun

mencerminkan iman yang terlihat jelas dari orang tuanya.

2. Iman mythic-literal. Pada masa akhir kanak-kanak seorang anak biasanya

mempercayai orang tuanya dan tidakpernah yang lain. Ada sebagian orang

dewasa yang tetap berada ditahap kedua ini.

3. Iman synthetic-conventional. Remaja pada masa awal cenderung mengikuti

iman yang dimiliki oleh ¡°kelompok¡± mereka. Iman pada tahap ini mulai

mensintesakan bertambahnya kompleksitas kehidupan. Banyak orang

dewasa yang sangat dipengaruhi oleh teman sebaya berada pada tahap

ketiga ini.

37Robert W. Pazmino, diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan

Kristen (Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, BPK Gunung Mulia, 2012), 297

33

4. Iman individual-reflektive. Pada masa akhir remaja dan awal masa dewasa,

fokus seseorang biasanya pada tanggung jawabnya sebagai seorang dewasa

terhadap komitmen dan kepercayaannya sendiri meragukan,

mempertanyakan, dan menolak asumsi-asumsi tradisional. Ini adalah suatu

periode dimana nilai-nilai individu akan berkembang.

5. Iman conjunctive. Tahap iman yang dewasa jarang ditemukan dalam diri

seseorang yang belum menginjak usia 30 (dan sering kali tidak pernah

dicapai), yang mengintegrasikan posisi-posisi di luar posisinya sendiri, dan

merespons identifikasi yang melampaui ras, kelas sosial atau batasanbatasan

ideologis. Pada tahap kelima ini seorang dewasa mampu

mengintegrasikan posisi-posisi tradisional, keraguan-keraguan dirinya, dan

memandang orang lain sebagai satu keutuhan yang bermakna.

6. Iman universalizing. Jumlah orang pada tahap ini langka sekali karena

sedikit sekali orang yang disebut ¡°raksasa rohani¡± yang mampu mencapai

tahap ini. Iman pada tahap ini bersifat universal dimana seseorang individu

mengidentifikasi dirinya melampaui dirinya dan mengarah kepada Allah

sebagai suatu realitas yang dirindukan.38

Melalui penjelasan dari tahap-tahap di atas dapat dikatakan bahwa iman adalah

suatu realitas yang dialami dan berkembang dalam setiap masa perkembangan usia.

Dalam masa remaja juga mengalami realitas perkembangan iman, maka perlu diketahu

beberapa situasi yang dialami oleh remaja secara spiritual pada masa remaja untuk lebih

mengetahui situasi ini, seperti yang dikatakan oleh Daniel Nuhamara, yaitu:

38 Pazmino, diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan Kristen, 297, 298

34

1. Keraguan dan ketidakpercayaan (Doubting and Disbelief). Sejumlah besar

remaja akan menolak dan sekurang-kurangnya meragukan kepercayaan

agamawi yang telah mereka anut sebelumnya. Salah satu alasannya adalah

dalam usia anak-anak, mereka percaya kepada Tuhan oleh karena orang

tua merekapun percaya kepadaNya, dengan demikian iman yang

dimilikinya adalah warisan. Namun ketika anak memasuki usia remaja,

iman warisan seperti ini tidak lagi dapat diterima begitu saja, sebab adanya

gejolak pikiran rasional yang mulai mempertanyakan dan meragukan

iman. Dengan demikian perlu pembinaan terus menerus dan kegiatan

kerohanian oleh gereja dan juga guru PAK.

2. Masalah iman dalam dunia yang riil. Dalam situasi ini remaja akan

semakin melihat ketidak relevan kepercayaan agama dalam dunia riil

khususnya dalam interaksi sosialnya yang semakin luas, sehingga remaja

merasa malu untuk menunjukkan dirinya sebagai seorang yang beragama

dan ketaatan dalam menjalani kegiatan agamanya. Hal ini lebih sering

terjadi pada lingkungan yang tidak beragama atau yang tidak peduli

tentang agama.

3. Komitmen dan kegagalan. Kebanyakan remaja menganggap gagal atau

imannya merosot ketika dia gagal melakukan kebaikan dalam hidupnya

karena mungkin waktu kecil ia diajarkan untuk tidak melakukan semua hal

yang tidak baik, jika tidak ia berdosa.

4. Idealisme remaja. Remaja akan semakin komitmen untuk melakukan

sesuatu untuk membuat dirinya berarti dan bermanfaat dimana saja.

35

5. Pentingnya model. Para remaja sangat mengagumi setiap yang dianggap

patut diteladani dan sering menjadikannya sebagai idola. Dengan tidak

sadar orang yang diidolakan dijadikan sebagai standar dalam

kepribadiannya.39

Melalui dinamika-dinamika yang dialami pada masa remaja ini sangat

mempengaruhi perkembangan iman, apakah semakin lebih baik atau semakin buruk.

Maka jika hal-hal negatif yang cenderung ditemukan pada masa ini tentu akan

membawa situasi iman yang merosot tetapi sebaliknya jika hal-hal positif yang

cenderung ditemukan oleh remaja tentu akan menolong remaja semakin teguh dalam

iman yang benar. Melalui hal-hal positif misalnya orangtua yang terus mengawasi dan

memperhatikan anaknya, lingkungan yang positif, dan guru yang mengawasi dan

memperhatikan muridnya serta bisa memberikan teladan yang baik.

F. LATAR BELAKANG KITAB 1 TIMOTIUS

Kitab 1 Timoitus ini ditulis oleh Rasul Paulus, dapat dilihat dalam kitab itu

sendiri pada pasal 1 ayat 1. Kitab ini ditunjukkan kepada Timotius sebagai anak rohani

Paulus (1 Timotius 1:2). Mengenai tempat penulisan kitab ini tidak dapat diketahui

persis keberadaan Paulus ketia ia menulis kitab ini. Carson dan Douglas menyatakan

¡°Tidak banyak yang diketahui untuk menentukan secara pasti tempat asal surat ini.

Petunjuk terbaik ialah bahwa surat ini ditulis dari Makedonia. Paulus tidak secara jelas

mengatakan ia berada di provinsi ini ketika menulis suratnya, tetapi ia menyatakan, (aku

telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efessus .1:3.). Tampaknya ini berarti

bahwa Paulus bersama dengan Timotius di Efesus, dari tempat ini ia pergi ke

39Daniel Nuhamara, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Remaja (Bandung: Jurnal Info Media,

2008), 84-91

36

Makedonia, meninggalkan anak rohaninya yang masih muda. Setelah berada di

Makedonia, Paulus menulis untuk mengulangi perintahnya kepada Timotius ketika ia

berangkat.¡±40 Mengenai tahun penulisan kitab ini diperkirakan, dalam The NIV Study

Bible ditulislan ¡°1 Timothy was written sometime after the events of Ac 28 (c. 63-65),

at least eight years after Paul.s three-year stay in Ephesus (Ac 19:8,10; 20:31).¡±41

Berarti kitab ini ditulis setelah Paulus berada di Makedonia dan telah meninggalkan

Timotius di Efesus ¡°Paulus membawa Timotius dalam kunjungannya kepada jemaatjemaat

di Asia Kecil. Selesai perkunjungan ini Paulus meninggalkan Timotius di Efesus

(1:1-3) dengan tugas untuk melanjutkan pembinaan jemaat-jemaat di sana dan pergi ke

Makedonia, dari sana ia menulis kitab 1 Timotius kepada Timotius tahun 63.¡±42

Masalah yang sedang dihadapi jemaat Efesus pada saat itu adalah adanya

ajaran sesat yang dapat menghambat bertumbuhnya Injil diantara jemaat-jemaat (1

Timotius 1:3-11). Ajaran sesat yang sudah berkembang di dalam jemaat tentu ini

menjadi tanggung jawab dan tantangan bagi Timotius untuk terus setia pada

pemberitaan Injil Kristus maka, sebagai bapa rohani Paulus ikut terbeban dalam

menghadapai masalah jemaat dan karena itu ia menasihati dan menguatkan Timotius

melalui suratnya khususnya karena Paulus lagi tidak bersama Timotius.

Penulisan kitab ini tentu Paulus mempunyai tujuan khususnya kepada Timotius

sebagai pemberita Injil kepada jemaat di Efesus pada saat itu, seperti dikatakan oleh R.

Budiman ¡°Surat ini memberikan kesan, bahwa Rasul Paulus sedang menyiapkan

Timotius untuk mengambil alih tugas dari padanya sebagai generasi penerus tradisi dan

40D. A. Carson dan Douglas J. Moo, An Introduction Of The New Testament (Malang: Gandum

Mas, 2016), 668

41The NIV Study Bible (U.S.A.: Zondervan Bible Publishers, 1984),1833

42R. Budiman, Surat-Surat Pastoral I & II Timotius dan Titus (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

1997), 1

37

kekayaan gereja.¡±43. selanjutnya Carson dan Douglas menyatakan ¡°Surat pertama

Timotius adalah komunikasi pribadi dengan Timotius, ditulis oleh pembimbingnya guna

memberikan arahan yang diperlukan Timotius untuk menjalankan pelayanan sebagai

pemimpin gereja.¡±44 Dalam mengemban tugas ini Timotius memerlukan nasihat dan

pengajaran yang benar khususnya dalam tantangan-tantangan yang dia temukan dalam

pelayanan. E. M. Blaiklock menyatakan ¡°Salah satu tugas Timotius di Efesus adalah

melawan kegiatan-kegiatan jahat dari orang-orang yang berusaha mempersukar Injil dan

meniadakan kesederhanaan keselamatan Allah bagi rakyat biasa, kemudian mereka

menyesatkan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka ajar dalam bayangbayang

tafsiran Perjanjian Lama yang mistik.¡±45 Dengan demikian tujuan penulisan

Kitab ini selain untuk mempersiapkan Timotius dan mengajarnya untuk memegang

jabatan sebagai pemberita injil, juga untuk menasihati Timotius untuk terus setia dan

bekerja keras memberitakan injil dan terlebih untuk melawan ajaran sesat yang ada di

tengah-tengah jemaat di Efesus.

G. MAKSUD TULISAN 1 TIMOTIUS 4:12

Pada ayat ini Paulus dengan sangat jelas menasihati Tiomtius untuk menjadi

teladan sebagai orang percaya, teguh dalam ajaran Kebenaran Kristus dan sebagai

pemberita Injil khususnya dalam umur yang masih muda. Timotius diperhadapkan

dengan orang-orang yang mengajarkan ajaran sesat dan juga jemaat-jemaat yang

percaya kepada Kristus yang perlu diajar terus menerus akan Kebenaran Injil Kristus

maka, sangat penting Timotius memberikan teladan-teladan untuk menguatkan jemaatjemaat

untuk terus setia pada Kebenaran Injil ditengah-tengah ajaran sesat dan juga

43 Budiman, Surat-Surat Pastoral I & II Timotius dan Titus, 1

44 Carson dan Douglas, An Introduction Of The New Testament, 669

45E. M. Blaiklock, Surat-Surat Penggembalaan (Mslsng: Gandum Mas, 1972), 9

38

meneguhkan kebenaran yang dia ajarkan sendiri. Matthew Henry menyatakan tentang

ayat ini

1. Supaya Timotius hidup dengan segala kesungguhan dan kecermatan diri

sehingga mendatangkan rasa hormat bagi dirinya meskipun ia masih muda,

¡°jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda,

yaitu jangan memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menganggap

rendah kemudaanmu.¡± Kemudaan orang muda tidak akan dianggap rendah

jika ia tidak membuat dirinya sendiri dipandang rendah oleh kesia-siaan

dan kebodohan perbuatan orang muda. Orang-orang muda dapat

berperilaku bagaikan orang yang sudah tua, sehingga karena itu mereka

dapat bermegah jika dianggap rendah.

2. Untuk menegakan ajarannya dengan teladan yang baik. Jadilah teladan

bagi orang-orang percaya, dan seterusnya. Amatilah, orang-orang yang

mengajar melalui ajaran mereka harus mengajar juga melalui kehidupan

mereka, kalau tidak mereka akan meruntuhkan dengan sebelah tangan

sendiri apa yang telah mereka bangun dengan tangan lainnya. Mereka harus

menjadi teladan, baik dalam perkataan maupun dalam tingkah laku mereka.

percakapan mereka harus bersifat mendidik, lingkah laku mereka harus

lurus, harus menjadi teladan di dalam kasih, atau kasih kepada Allah dan

semua orang kudus, menjadi teladan di dalam Roh, yaitu memikirkan halhal

yang rohani dan menyembah di dalam roh. Juga menjadi teladan di

dalam iman, yaitu di dalam pengakuan iman kristen, dan teladan di dalam

kesucian atau kemurnian.46

46Matthew Henry, diterjemahkan oleh Iris Ardaneswari, dkk, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose,1&2

Tesalonika, 1&2 Timotius, Titus, Filemon (Surabaya: Momentum, 2015), 611

39

Demikian juga Carson menyatakn tentang tentang ayat ini ¡°Namun, usia belia

tidak perlu menjadi hambatan, asal perilakunya meyakinkan orang. Di sini Paulus

memberi lima pedoman untuk hidup kristen yang benar. Perkataan adalah penting,

tetapi harus dihubungkan dengan tingkah laku, yaitu perpaduan perkataan dan perbuatan

yang benar. Pada perpaduan sifat lahiriah ini ditambahkan sifat batiniah, yaitu kasih,

kesetiaan, dan kesucian, dan inilah teladan yang lengkap dari hidup kristen yang

benar.¡±47 Usia Timotius yang masih muda membuat dia kurang berani dalam pengajaran

Injil di tengah-tengah ajaran sesat, dan juga untuk mengajar orang-orang yang lebih tua

dari dia. Dengan demikian melalui ayat ini Paulus memberikan nasihat kepada Timotius

teladan-teladan yang benar sebagai orang percaya supaya ia terapkan dalam

kehidupannya dan pengajarannya.

47D. A. Carson, dkk, diterjemahkan oleh A. Munthe, dkk, Tafsiran Alkitab Abad Ke-21 (Jakarta:

YKBK, 2017), 558

40

BAB III

PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PAK TERHADAP

PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK

USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12

D. PENGERTIAN KETELADANAN IMAN

Dalam bagian ini penulis akan membahas tentang pengertian keteladanan iman

guru PAK dan beberapa tokoh iman dan keteladanannya yang dicatat dalam Alkitab

serta signifikasni keteladanan iman guru tersebut bagi pertumbuhan iman peserta didik.

Teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang

perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya).48 Keteladanan merupakan hal yang dapat

ditiru atau dicontoh untuk kemudian dilakukan oleh orang yang mau meniru.

Keteladanan ada aspek-aspek positif dan juga aspek-aspek negatif, akan tetapi di sini

dibahas tentang keteladanan dalam aspek positif dari guru PAK yang dapat menjadi

teladan dan ditiru oleh peserta didik. Guru yang dapat menjadi teladan merupakan salah

satu cara didikan guru untuk membentuk karakter dan mempengaruhi peserta didik ke

arah yang baik.

Dalam pengajaran kristen diperlukan teladan-teladan sebagai orang percaya

untuk menjadi teladan bagi orang percaya lainnya. Leroy Eims mengatakan ¡°Bukan

hanya orang kristen baru yang memerlukan teladan untuk diikuti. Semua orang kristen

perlu teladan yang terus menerus agar dapat hidup. Itulah sebabnya apa yang dikatakan

Yesus bagi kita. ¡°sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita

untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya

48KBBI V 0.2.1 Beta (21), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI,

2016

41

(1 Petrus 2:21).¡±49 Dengan demikian seorang teladan adalah seorang yang telah

dibentuk dan diajar sehingga menjadi figur regenerasi yang menerapkan cara-cara hidup

yang baik. Rifai mengatakan ¡°keteladanan iman para rasul ditunjukkan melalui sikap

hidup para pemimpin yang mempertahankan iman di tengan aniaya.¡±50 Keteladanan

iman berarti cara hidup orang percaya sesuai dengan nilai-nilai iman dalam segala

situasi kehidupan.

Keteladanan iman adalah kehidupan dari iman yang diterapkan dalam

kehidupan nyata. Guru PAK adalah seorang beriman, karena itu dapat dilihat kehidupan

karena iman dari seorang guru PAK. Untuk mencapai tujuan PAK dalam membentuk

peserta didik untuk beriman kepada Tuhan maka terlebih dahulu diperlukan guru PAK

menjadi teladan iman. Jadi, dalam menjacapi tujuan tersebut tidak hanya melalui

pengajaran di dalam kelas tetapi juga melalui teladan-teladan yang diberikan oleh guru

PAK. Keteladanan iman guru PAK bukan hanya untuk mencapai tujuan PAK itu sendiri

tetapi hal itu juga merupakan bukti bagi setiap orang percaya terlebih dalam memenuhi

panggilan sebagai seorang guru PAK.

Dalam proses belajar keteladanan sangat penting demi pencapaian tujuan

pembelajaran secara lengkap. Peserta didik lebih mudah memahami pemebelajaran dari

keteladanan yang dapat dilihat dan diamatanya karena kegiatan belajar ini telah menjadi

bagian bagi pertumbuhan anak secara terus-menerus. Begitu pula dalam pembelajaran

PAK, guru diperlukan untuk memberikan teladan sesuai dengan ajaran kebenaran itu

sendiri terlebih karena PAK berbicara tentang kehidupan yang lebih baik dan benar. St.

Darmawijaya mengatakan :

49Leroy Eims, diterjemahkan oleh C. Th. Enni Sasanti, 12 Ciri Kepemimpinan Yang Efektif

(Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1981), 51

50Rifai, Superioritas Kristus Dalam Kitab Ibrani (Jakarta: BornWin.s Publishing, 2019)

42

Keteladanan merupakan bagian dalam proses kehidupan bersama. Anak belajar

berbicara dari menirukan. . . . . Dalam kehidupan iman, keteladanan menjadi

penting juga. Kita tidak pernah bisa belajar secara kreaktif tanpa diberikan

contoh lebih dahulu. Maka tidak sia-sia bila Paulus juga menegaskan agar

orang kristen pertama-pertama meneladan Yesus Kristus, sehati dan seperasaan

dengan Dia, lalu juga meneladan para leluhur mereka dalam iman, bagaimana

menereka berjuang mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang meneguhkan.51

Sangat penting diketahui oleh guru PAK signifikansi keteladanan iman dalam

meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik agar pesan ajaran PAK tidak hanya

terkesan sebagai teoretis dan retorika saja tetapi juga ajaran PAK mentransformasi

hidup untuk menjadi pribadi secara utuh dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian

guru PAK menyadari pribadi dan tugasnya sebagai guru secara komprehensif.

Pendidikan Agama Kristen mencakup seluruh tentang kekristenan. Salah satu

hal yang pokok dalam kekristenan adalah iman. Harun Hadiwijono menjelaskan

Di dalam Perjanjian Lama Iman berasal dari kata kerja aman, yang berarti

¡°memegang teguh¡±. Kata ini dapat muncul dalam bentuk yang bermacammacam,

umpamanya dalam arti ¡°memegang teguh kepada janji¡± seseorang,

karena janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya.

Jika diterapkan kepada Tuhan Allah, maka kata iman berarti, bahwa Allah

harus dianggap sebagai Yang Teguh atau Yang Kuat. Orang harus percaya

kepadaNya, berarti bahwa ia harus mengamini bahwa Allah adalah teguh dan

kuat. .... menurut Perjanjian Lama, beriman kepada Allah berarti mengamini,

bukan hanya dengan akalnya, melainkan juga dengan segenap kepribadian dan

cara hidupnya, kepada segala janji Allah yang telah diberikan dengan

perantaraan Firman dan karyaNya ¡°Yesaya 7:9¡±.52

Ketika orang beriman kepada Allah berarti ia percaya kepada Allah bahwa Ia mampu

dan dapat dipercaya atas semua Firman dan janjiNya. Iman bukan berarti karena tidak

ada pilihan maka harus dipercaya tetapi iman meneguhkan pribadi Allah dan

FirmanNya dan melalui itu orang berimanan menaruh kepercayaan kepada Allah.

Daniel C. Arichea dan Howard A. Hatton memberikan beberapa arti iman dalam PB,

yaitu:

51St. Darmawijaya, Seluk Beluk Kitab Suci (Yokyakarta: Kanisius, 2009), 505

52Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007), 17

43

1. Percaya, berserah, dan setia kepada seseorang (biasanya kepada Kristus

atau Allah).

2. Percaya bahwa sesuatu itu benar atau sah.

3. Kumpulan ajaran-ajaran tentang kekristenan.

4. Gerakan atau kegiatan keagamaan (pada dasarnya iman kristen sama

dengan agama kristen).

5. Kebaikan hati yang ditunjukkan oleh orang kristen. Ini adalah salah satu

ciri atau kemampuan yang diterima orang kristen karena percaya kepada

Yesus Kristus.

6. Merasa yakin atau pasti tentang sesuatu.53

Melalui iman Abraham berangkat dari negrinya ke tempat yang ia tidak ketahui

dimana Tuhan menuntunNya ¡°Yakobus 4:1-22¡±, lebih diditekankan lagi pada ayat 21

¡°dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia

janjikan¡±, dengan iman tersebut Abraham bertindak untuk melaksanakan segala apa

yang diperintahkan Tuhan kepadaNya.

Iman kristen mencakup seluruh pernyataan Tuhan tentang diriNya sendiri dan

karya Tuhan di dalam sejarah manusia. Sebagaimana puncak penyataan dan karya

Tuhan untuk menyelamatkan manusia pada saat inkarnasiNya di dalam Yesus Kristus.

Berdasarkan janji yang telah diberikan oleh Yesus ketika ada di dunia bahwa setiap

orang yang percaya kepadanya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal

¡°Yohanes 3:16¡±, berdasarkan ayat ini telah memberikan janji kepada manusia bahwa

barangsiapa yang percaya kepada Yesus akan memperoleh hidup yang kekal. Dalam

Ibrani 11:1 mendefinisikan tentang iman yaitu dasar dari segala sesuatu yang kita

53Daniel C. Arichea dan Howard A. Hatton, diterjemahkan oleh LAI dan Yayasan Karunia Bakti

Budaya Indonesia, Pedoman Penafsiran Alkitab Surat Yudas Dan Surat Petrus Yang Kedua (Jakarta:

LAI), 15

44

harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dapat dikatakan bahwa

berdasarkan ayat ini iman meneguhkan orang percaya kepada objek iman dan terhadap

janjiNya. Kemudian dalam ayat yang lain Yesus menegaskan sebagai akibat dari iman

adalah orang percaya hidup di bawah tuntutan objek iman itu sendiri yaitu Yesus

Kristus ¡°Yohanes 14:12; 14:21¡±. Seterusnya dalam surat Yakobus 2:14-26 menjelaskan

bagaimana orang beriman mengaplikasikan iman yang hidup dalam kehidupan seharihari

yaitu dalam segala tindakan kehidupan.

Iman orang beriman adalah iman yang hidup yang mempengaruhi seluruh

aspek kehidupan sehingga orang lain dapat melihat dan menilai. Thomas H. Groome

mengatakan ¡°Iman kristen adalah kehidupan yang dijalani sebagai respons terhadap

kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. . . . Iman kristen sebagai realitas yang hidup

memiliki tiga dimensi yang esensial: 1) keyakinan, 2) hubungan yang penuh

kepercayaan, 3) kehidupan agape yang hidup.¡±54 Berdasarkan tiga dimensi iman kristen

yang enensial ini, Thomas H. Groome menuliskan tiga kegiatan untuk

mengekspresikannya, yaitu

1. Iman sebagai kegiatan percaya (faith as believing)

Iman kristen selalu adalah pemberian anugrah Allah. Iman kristen timbul

dari iluminasi batiniah yang menentukan seseorang percaya. Oleh anugrah

Allah yang sama dan pengaruh kecerdasan berpikir milik kita sendiri,

kecenderungan untuk percayq diekspresikan dalam kepercayaankepercayan

yang dinyatakan yang yakini dan setujui. Akan tetapi,

deskripsi intelektual itu tidak dapat diterima sebagai deskripsi iman yang

lengkap. Iman kristen sekurang-kurangnya adalah kepercayaan, tetapi

54Thomas H. Groome, diterjemahkan oleh Daniel Stefanus, Christian Religious Education

(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 81

45

iman kristen juga harus lebih daripada kepercayaan jika iman kristen

adalah realitas yang hidup.

2. Iman sebagai kegiatan mempercayakan (faith as trusting)

Kata iman dalam bahasa Inggris faith bersal dari kata Latin fidere, yang

berarti mempercayakan. Oleh karena itu menurut asal katanya, beriman

mengandung arti kegiatan mempercayakan. Jika kegiatan iman kristen

percaya (believing) terutama menunjuk pada tindakan kognitif, maka

kegiatan iman kristen mempercayakan (trusting) terutama bersifat afektif.

Kegiatan iman kristen mempercayakan adalah dimensi iman yang

berdasarkan kepercayaan. Dimensi iman kristen yang bersifat

afektif/kepercayaan ini mengambil bentuk hubungan pribadi yang penuh

kepercayaan dengan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus,

dan mempercayakan diekspresikan dalam kesetiaan, kasih dan kelekatan.

Karena Allah adalah setia kita dapat menyerahkan diri kita dengan penuh

kepercayaan.

3. Iman sebagai kegaitan melakukan (faith as doing)

Dalam Injil Matius, Yesus menjelaskan bahwa berseru ¡°Tuhan, Tuhan¡±

tidak cukup untuk masuk ke dalam kerajaan. Kehendak Allah juga harus

dilakukan (Matius 7:21). Iman kristen sebagai respons terhadap kerajaan

Allah dalam Kristus harus mencakup melakukan kehendak Allah. Secara

lebih khusus melakukan kehendak Allah harus diwujudkan dalam

kehidupan agape yang hidup, mengasihi Allah dengan mengasihi sesama

seperti mengasihi diri sendiri.55

55Groome, Christian Religious Education (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 80-91

46

Salah satu syarat dan bukti untuk menjadi seorang guru adalah dapat menjadi

teladan kepada peserta didik secara khusus tetapi juga kepada lingkungan masyarakat

secara luas. Keteladanan iman dapat didapat dilihat dari setiap orang percaya bagimana

mereka bertindak dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak dapat dilakukan secara

sempurna tetapi ada konsep kebenaran yang selalu menonjolkan kebenaran tersebut.

Hanya Yesus sendirilah yang telah menjadi teladan sempurna bagi setiap orang percaya,

seperti yang telah dikatakan Mary Setiawani dan Stephen Tong

Sebagai guru kristen, Yesus Kristus selain menjadi juruselamat dan Tuhan kita,

Ia juga menjadi contoh teladan bagi karakter-karakter disegala zaman, untuk

setiap negara, setiap bangsa dan setiap kebudayaan. Sekalipun kebudayaan

bergejolak terus, teori pendididkan maju terus, tetapi tidak mungkin bisa

menemukan contoh dan teladan guru yang lebih baik daripada Yesus Kristus,

tidak ada orang yang moralnya bisa lebih tinggi dari Yesus Kristus.56

Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi agar mereka terus hidup sesuai dengan

teladan yang diberikan dia dan para rasul yang lain ¡°Filipi 3:17 Saudara-saudara,

ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang

menjadi teladanmu¡±, dalam ayat ini menjelaskan bagaimana Rasul Paulus selalu

memperhatikan cara hidupnya untuk terus menjadi teladan bagi jemaat dan para murid,

sehingga dengan berani ia mengklaim dirinya sebagai orang yang patut diteladani.

Rasul Paulus yang adalah juga sebagai guru mengerti betapa penting orang yang

berimanan untuk tidak hanya mengajar tetapi juga memberikan contoh hidup yang

sudah dibaharui oleh kebenaran itu sendiri demi menguatkan dan meningkatkan

pertumbuhan iman jemaat.

Demikian juga Rasul Paulus menasihati Timotius ¡°Jangan seorang pun

menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang

percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam

56Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen , 66

47

kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1 Timotius 4:12)¡±. Nasihat ini menjelaskan bahwa

sebagai seorang guru PAK yang beriman tidak mengurangi tanggung jawabnya untuk

menjadi seorang guru teladan dalam situasi apapun, akan tetapi terus memberikan

teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kebenaran.

Iman merupakan dasar perbuatan bagi setiap orang percaya supaya berkenan

kepada Allah ¡°tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum,

karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak

berdasarkan iman, adalah dosa (Roma 14:23).¡± Maka ini merupakan tugas guru PAK

untuk terus memperhatikan substansi semua kegiatan yang dikerjakannya sebagai guru.

Keteladanan iman yang dilakukan oleh guru PAK bahkan setiap orang percaya yang

dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, digolongkan dalam 2 bagian yaitu:

Pertama, melakukan segala sesuatu sesuai dengan tuntutan iman dalam kebenaran.

Kedua, melakukan segala sesuatu dengan iman bahwa hal itu akan berhasil dan untuk

kemuliaan Tuhan.

Keteladanan iman merupakan ekpresi dari iman yang dapat diterapakan dan

dapat dilihat oleh orang lain sehingga hal itu dapat mempengaruhi orang percaya

lainnya, dengan kata lain keteladanan iman juga berbicara tentang spiritualitas yang

orang percaya di dalam Yesus Kristus. Seperti dikatakan Enklaar dan Homrighausen

¡°Guru harus pula menjadi seorang peoman dan pemimpin. Ia tak boleh memimpin

muridnya masuk ke dalam kepercayaan kristen dengan paksaan, melainkan ia harus

memimpin mereka dengan halus dan lemah lembut kepada juruselamat dunia. Sebab itu

hendaklah ia menjadi teladan yang menarik orang kepada Kristus, hendaklah ia

mencerminkan Roh Kristus dalam seluruh pribadinya.¡±57 Dengan demikian sangat

57I. H. Enklaar dan E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung

Mulia, 2011) 164

48

penting penting keteladanan guru PAK dalam menuntun peserta didik bertumbuh di

dalam Kristus. Spritualitas merupakan dasar yang perlu bertumbuh dalam diri guru atau

jajaran pendidik di sekolah terlebih bagi guru PAK karena hal itu sangat berpengaruh

dalam kinerja guru dalam pengajaran PAK yaitu bagaimana guru PAK mengajar yang

menyangkut segala aspek mengajarnya, baik motivasi mengajar, sikap mengajar, model

mengajar dan bahan ajar. Sidjabat mengatakan ¡°Kualitas spiritualitas guru juga akan

terpancar dalam keseluruhan kinerjanya. Mutu kerohanian itu akan selalu tampak dalam

relasi-relasi serta perilaku sosial dan kulturnya yang tidak bisa disembunyikan, sebab

dinamika hidup manusia selalu bersifat inside-out.¡±58 Guru PAK akan terus-menerus

memberikan pengaruh kepada kehidupan peserta didik, oleh karena itu perlu dan terus

berupaya bertumbuh dalam kerohanian yang berakar dan bersumber kepada pribadi

Yesus Kristus dan FirmanNya dan menerapkannya dalam teladan-teladan yang

berdampak pada pertumbuhan iman peserta didik.

E. TELADAN-TELADAN IMAN DARI GURU PAK BERDASARKAN

1 TIMOTIUS 4:12

Tugas seorang guru PAK selain mengajar ia juga dituntut untuk memberikan

teladan-teladan yang baik tentang ajaran itu karena itu sangat berpengaruh bagi

pertumbuhan iman peserta didik dalam Injil Kristus yang diajarkan oleh guru PAK.

John M. Nainggolan menyatakan

Sehubungan dengan peran guru agama kristen harus mengajar kebenaran

Kristus dan kehidupan kristen, maka ia harus menghayatinya dalam

kehidupannya sendiri. Ia harus memberikan teladan bagi mereka yang

dibinanya. Supaya dapat menolong orang hidup dalam disiplin kehidupan

kristen, guru itu sendiri harus mempraktekkannya. . . . Ia berkomunikasi

dengan orang lain dengan perkataannya, sikapnya dan perbuatannya, apa yang

dikatakannya dan bagaimana ia mengatakannya, apa yang dilakukannya dan

bagaimana ia melakukanny. Ia harus belajar mengatakan yang benar dengan

58Binsen S. Sidjabat, Pendidikan Kristen Konteks Sekolah (Bandung: Kalam Hidup, 2018), 33

49

cara yang benar dan pada waktu yang tepat. Ia harus belajar bagaimana

melakukan yang benar dalam cara yang benar dan pada waktu yang tepat.59

Melalui penerapan teladan yang dilakukan guru PAK juga akan menunjukkan

kualitas kehidupannya dalam ajaran PAK itu sendiri yaitu kehidupan kerohaniannya

dengan Tuhan. Pada bagian ini akan dibahas lima teladan iman guru PAK berdasarkan 1

Timotius 4:12, yaitu: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian.

1. Perkataan

Perkataan adalah media utama bagi setiap guru untuk mengajar maka,

perkataan memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan mengajar. Jika seorang guru

mampu menyampaikan bahan ajar dalam pertakataan yang baik dan sistematis maka

peserta didik akan cepat dan mudah memahami bahan ajar, sebaliknya jika guru kurang

mampu menyampaikan bahan ajar dalam perkataan yang baik dan sistematis maka,

peserta didik akan kesulitan dalam memahami bahan ajar.

Akan tetapi perkataan dalam hal ini adalah berbicara tentang karakter guru

dalam perkataannya yaitu penyampaian ajaran yang berkualitas dan maksud setiap katakata

yang diucapkannya bermaanfaat bagi setiap orang yang mendengarnya. Karakter

akan nampak juga melalui perkataan yang kita ucapkan, maka sebagai seorang guru

yang berkualitas juga dituntut untuk memberikan teladan dalam perkataannya yaitu

yang sifatnya membangun, memotivasi dan mendidik peserta didik. Bagaimana seorang

guru menanggapi segala situasi, masalah pribadi dan masalah di luar dirinya itu akan

kelihatan ketika dia berbicara, dan tentunya diharapkan guru lebih menanggapi secara

positif segala situasi sehingga ketika menghadapi masalah dia masih dapat berkata

dengan baik. Dengan demikian ketika guru mendapatkan masalah di dalam kelas dia

59John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Generasi Info Media, 2007), 6

50

mampu mengontrol kata-katanya sehingga diselesaikan dengan kepala dingin dan jika

itu masalah peserta didik maka guru masih dapat memotivasi dan mendorong peserta

didik untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Demikian juga dituntut bagi guru PAK untuk memberikan teladan dalam

perkataannya seperti nasihat Paulus kepada Timotius pada ayat ini meskipun dia masih

muda dan mungkin kurang berpengalaman dalam memimpin jemaat akan tetapi hal itu

tidak menjadi penghambat bagi Timotius sebagai pengajar kebenaran untuk

memberikan teladan dalam perkataanya bagi orang lain bahkan orang yang lebih tua

darinya. Sebagai guru pengajar PAK maka dituntut untuk berkata-kata sebagai guru

PAK dan setia untuk memperkatakan kebenaran Injil dalam pengajaran hal ini

dikarenakan ajaran PAK adalah berbicara tentang Tuhan dan tentang kehidupan

manusia yaitu peserta didik itu sendiri, seperti dikatakan oleh Sidjabat ¡°Ketika

mengajar, guru harus menyatakan kebenaran. Dalam hal itu, pengetahuan yang

diajarkan harus benar-benar kebenaran, bukan dusta, kebohongan atau praduga.

Pengetahuan yang benar membawa orang percaya kepada Allah pencipta dan sumber

kebenaran, bukan meragukan apalagi menjauhinya.¡±60 Untuk itu guru PAK perlu

berhati-hati dalam pengajarannya, jika ia mengajar dengan salah maka akan

menghambat peserta didik tentang pengenalan yang benar akan Allah dan tentu akan

menghambat juga petumbuhan iman peserta didik. Perkataan guru PAK akan

mencerminkan kedalaman pengetahuan guru tentang kebenaran dan juga tentang

kualitas iman serta hidup yang terus dibaharui oleh Injil keberanan Kristus, sehingga

melalui teladan guru dalam perkataan maka peserta didik akan melihat pribadi yang

berkualitas sesuai dengan Injil Kristus.

60B. S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Kalam Hidup, 1993), 128

51

Di dalam perkataan Yakobus untuk tidak banyak orang yang mau menjadi guru

(Yakobus 1:1), dapat diketahui bahwa salah satu maksud nasihat tersebut yaitu supaya

guru lebih berhati-hati dalam berucap karena guru merupakan tugas yang banyak

berkata-kata. Jika guru sembarangan berkata dalam pengajaran maka akan menghambat

pertumbuhan orang yang mendengar bahkan menyesatkan orang (Efesus 4:29; 5:4),

tetapi sebaliknya jika guru terus meperkatakan kebenaran maka akan membangun orang

yang mendengar. Maka, hendaklah guru PAK terus memperkatakan kebenaran dan

perkataan yang memberkati dengan demikian akan membangun pertumbuhan peserta

didik dalam pengajaran PAK dan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

2. Tingkah Laku

Tingkah laku merupakan tindakan orang dalam kehidupan sehari-hari, melalui

tingkah laku yang dimiliki seseorang maka orang akan menilai kepribadian kita.

Tingkah laku merupakan ciri khas setiap orang untuk menunjukkan dirinya, ada tingkah

laku yang baik dan ada tingkah laku yang tidak baik maka tentu yang diharapkan adalah

supaya setiap orang memiliki tingkah laku yang baik dan dapat menjadi teladan bagi

orang lain.

Nasihat Paulus kepada Timotius untuk menjadi teladan dalam tingkah laku

merupakan pedoman bagu guru PAK, meskipun Timotius masih muda maka itu tidak

berarti bahwa ia bertingkah laku seperti anak muda dan tidak punya pendirian,

keberadaannya ditengah-tengah orang yang lebih dewasa dari dia tidak berarti bahwa

dia menjadi minder dan tidak berani untuk bertingkah laku sebagai pengajar dan

menegur kesalahan di dalam jemaat, akan tetapi Paulus menasihatkan supaya dia

bertingkah laku sebagaimana seharusnya seorang pengajar serta teladan dalam tingkah

lakunya sesuai dengan kebenaran yang diajarkannya, dengan demikian orang lain

52

melihat Timotius sebagai sosok pengajar keberanan dan sebagai teladan dalam

memimpin jemaat kepada Injil Kristus.

Demikian juga guru PAK supaya bertingkah laku sebagai pengajar kebenaran.

Guru tidak hanya mempersiapkan bahan ajar dan siap untuk mengajarkan kepada

peserta didik tetapi ia terlebih mengajar dirinya sendiri sesuai dengan tujuan atau target

ajaran tersebut, dengan kata lain guru harus perperilaku sejalan dengan apa yang ia

ajarkan. Demikian juga guru PAK agar hidup sesuai dengan ajaran itu sendiri

sebagaimana keteladanan Yesus yang telah dilakukanNya, yaitu Dia hidup sesuai

dengan apa yang Ia ajarkan, J. M. Price mengatakan ¡°Syarat terpenting bagi seorang

guru adalah kepribadiaanya sendiri, sebuah teladan lebih berharga daripada seratus kata

nasehat. Perbuatan seseorang lebih berpengaruh daripada perkataannya¡±.61 Dengan

demikian untuk mencapai tujuan pembelajaran secara tepat, maka lebih efektif jika

disertai dengan teladan dari guru yang mengajar. Sebaliknya jika guru PAK mengajar

dengan hebat dan menguasai bahan ajar tetapi tidak disertai dengan teladan dari guru

atau tidak bertindak sesuai dengan ajarannya maka tujuan pengajaran kurang efektif

atau tidak berhasil dengan baik. Demikian dikatakan oleh Kure dan Plueddemman,

Jika saudara ingin menjadi teladan yang baik, saudara harus melakukan hal-hal

yang saudara ajarkan kepada orang lain. Seorang guru mengajarkan kepada

murid-muridnya bahwa mereka harus mengasihi musuh-musuh mereka, jika

guru itu menjadi teladan yang baik, maka ia harus mengasihi musuhmusuhnya.

Seorang guru tidak dapat menjadi teladan yang baik, bila ia tidak

melakukan hal-hal yang diajarkan.62

Artinya keberhasilan pembelajaran PAK tidak diukur dari penguasaan bahan

ajar dan menyampaikannya secara tuntas tetapi melalui tindakan-tindakan nyata yang

dilakukan oleh guru PAK sesuai dengan apa yang diajarkannya sehingga peserta didik

61J. M. Price, Yesus Guru Agung (Jakarta: LBB, 1997), 5

62S. Kure dan J. Plueddemman, Mengajar Dengan Berhasil (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,

1997), 83

53

tidak hanya mendengarkan teori yang banyak tetapi juga melihat teladan guru PAK

yang menghargai ajaran itu sendiri dan melakukannya.

3. Kasih

Mengajar adalah tugas bagi setiap guru untuk menyampaikan pelajaran kepada

peserta didik. Guru PAK yang baik tidak hanya bertindak sebagai penyampai

pengetahuan yang sedang mengerjakan tugasnya tatapi guru PAK mengajar dengan

kasih yang benar sesuai dengan tuntutan ajaran dalam PAK itu sendiri. Paulus Lilik

Kristianto mengatakan ¡°seorang pengajar PAK harus dapat memperlihatkan kasih

kristen kepada para murid yang diajarnya. Rasul Yohanes mengingatkan perintah

Kristus (. . . inilah perintahNya itu, supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus,

AnakNya, dan supaya kita saling mangsihi sesuai dengan perintah yang diberikan

Kristus kepada kita .1 Yohanes 3:23.).¡±63 Kasih merupakan karakter yang sudah

melekat bagi setiap orang percaya karena ini merupakan hukum yang utama untuk

menjalani kehidupan sehari-hari ¡°Jawab Yesus kepadanya: kasihilah Tuhan, Allahmu,

dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama

dengan itu ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37-

39).¡± Demikian Paulus menasihati jemaat di Efesus ¡°Dan hiduplah di dalam kasih,

sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya

untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Tuhan (Ef. 5:2).¡±

Kasih merupakan prinsip utama orang percaya dalam bertindak, demikian juga

guru PAK dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar dengan kasih tidak hanya

ditunjukkan di dalam kelas untuk kepentingan pengajaran tetapi kasih senantiasa

63Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen (Yokyakarta: Andi,

2008), 22

54

diterapkan dimana saja sebagai kehendak Tuhan bagi orang beriman. Kasih yang

ditunjukkan dalam mengajar adalah kasih dari Tuhan untuk juga ditunjukkan kepada

peserta didik supaya mereka melihat kasih Tuhan melalui tindakan guru. Mengajar

dengan kasih dapat ditunjukkan guru melalui berbagai tindakan, misalnya melalukan

pendekatan kepada peserta didik sebagai orang tua kepada anaknya, sebagai guru yang

baik kepada muridnya, sebagai saudara dan teman yang mengasihi mereka untuk

mengetahui mereka secara pribadi, guru juga menerima peserta didik apapun situasinya

dan selalu siap membantu mereka saat mereka butuh, serta mengajar mereka dengan

lemah lembut yang dapat diterima oleh mereka. Dengan tindakan-tindakan tersebut

peserta didik merasa dikasihi sehingga mereka dengan sangat terbuka menerima guru

dan pelajaran. John Powel berkata dalam buku Andar Ismail:

Hanya kalau anak itu dicintai, ia dapat menyadari bahwa ia pantas dicintai. Dan

hanya bila ia benar-benar yakin bahwa ia pantas dicintai, ia akan merasakan

keramahan dan cinta dari orang-orang lain selama hidupnya. Dalam suasana

harapan an keyakinan inilah orang dapat membuka diri kepada orang lain

dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang, memberanikan diri untuk

mencintai dan dicintai.64

Melalui tindakan kasih yang diberikan guru peserta didik akan terbiasa dalam

lingkungan yang penuh kasih, sehingga hal itu dapat ditiru oleh peserta didik dan

membentuk karakter mereka untuk mengasihi.

4. Kesetiaan

Kesetiaan merupakan sikap seseorang yang teguh pada komitmen dan bertahan

dalam segala situasi demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keteladanan Timotius

dalam kesetiaan, Blaiklock menyatakan itu merupakan keteguhan dan ketetapan

Timotius dalam memegang keyakinan.65 Hal ini berarti bahwa Timotius berjuang untuk

64Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 143

65E. M. Blaik Lock, Surat-Surat Penggembalaan (Malang: Gandum Mas, 1972), 45

55

terus memberitakan Injil Kristus dan melawan segala ajaran sesat yang sudah masuk di

dalam jemaat tanpa kompromi dari segala bentuk pengajaran yang menyimpang dari

kebenaran. Kesetiaan Timotius ditunjukkan melalui kegigihannya dalam memberitakan

Injil dan terus mengutamakan Kristus dalam pengajarannya. Paulus juga menuliskan

bagaimana kesetiaan Timotius untuk membantunya dalam pelayanan (Filipi 2:22).

Tentunya kesetiaan Yesus yang merupakan teladan bagi setiap orang percaya dan guru

PAK yang telah setia mengerjakan tugasNya sampai akhir bahkan sampai mati di atas

kayu salib (Filipi 2:8).

Guru PAK juga dituntut untuk setia dalam berbagai aspek tugas panggilannya

sebagai guru. Dalam 2 Timotius 4:7 Fery Yang menyatakan ¡°Sampai tetes darah

terakhir Paulus tetap menjaga ajaran yang benar yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Paulus menjaganya dengan seluruh hidupnya, bahkan sampai perjuangannya yang

terkahir, karena ajaran yang benar itu adalah harta yang tak ternilai harganya.¡±66 Paulus

menulis kepada Timotius bahwa ia telah mengakhiri pertandingan yaitu panggilan dari

Tuhan untuk memberitakan Injil dan juga perjuangan hidupnya untuk terus berkenan

kepada Tuhan. Ini tentu merupakan dorongan kepada Timotius untuk mengikuti jejak

perjuangan Paulus untuk setia pada panggilannya dan kehidupannya. Kesetiaan juga

adalah prinsip bagi setiap orang bercaya untuk teguh dalam iman kepada Yesus Kristus,

melalui tantangan iman yang ada maka orang percaya terus mengaku dan hidup menurut

kebenaran. Demikian juga kesetiaan guru PAK menunjukkan kesetiaannya melalui

kehidupan dan prinsip pengajarannya sesuai dengan kebenaran. Kesetiaan guru PAK

tentu didasarasi oleh hakikat guru PAK itu sendiri yaitu sebagai panggilan dari Tuhan

66Ferry Yang, Pendidikan Kristen (Surabaya: Momentum, 2018), 265

56

dan merupakan tanggung jawab di hadapan Allah untuk menjalankan perintah agung

Yesus dalam pemberitaan FirmanNya.

Demikian pada masa ini dimana tantangan yang ada melalui pengajaran yang

menyimpang dari kebenaran Injil, beralih fokus dalam pengajaran yang tidak lagi

mengutamakan Kristus dan berbagai kamajuan zaman yang berdampak terhadap

hilangnya nilai kebenaran Injil Kristus di dalam kehidupan orang percaya maka, guru

PAK perlu setia pada kebenaran Injil Kristus melalui kehidupan dan pengajarannya, ia

terus berjuang meproklamasikan keutamaan Injil Kristus bagi kehidupan orang percaya

dan setia pada panggilannya sebagai guru PAK.

5. Kesucian

Kesucian adalah menjaga diri agar tidak tercemar oleh dosa. Alkitab berulangulang

memerintah agar setiap orang percaya menjaga kesuciannya dengan tidak

mengikuti keinginan daging dan segala kecemaran dunia (Roma 12:2; 1 Yohanes 2:15-

16). Hidup dalam kesucian membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang telah

menerima anugerah keselamatan karena itulah yang berkenan kepada Tuhan (Roma 8:6-

11). Dengan demikian kesucian merupakan hal yang diperjuangkan setiap saat untuk

menjaga nilai-nilai kebenaran dalam praktek kehidupan nyata.

Demikian juga guru PAK menjaga kesucian pengajaran dan hidupnya supaya

berkenan kepada Allah dan menjadi teladan bagi peserta didik. Guru PAK menjauhkan

diri dari segala keinginan daging (Galatia 5:19-21) tetapi hidup oleh Roh dan

menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Karena Allah adalah Suci dan segala

ajaran dan perintahnya adalah suci maka orang percaya juga dituntut supaya hidup suci

sesuai dengan kebenaran (1 Petrus 1:15-16). Kecusian dapat dilihat melalui praktik

hidup setiap hari, apa yang kita lakukan dan bagimana kita melakukannya, dan juga

57

kesuciaan dapat merupakan hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain yaitu

mengenai motivasi, nilai-nilai hidup dan kedalaman hubungan dengan Allah. Keduadua

hal ini dituntut bagi orang percaya maka, sebagai guru PAK diharapkan memiliki

hidup yang suci yaitu memahmi panggilannya dan memiliki motivasi yang benar dalam

menjalankan tugasnya sebagai guru, dan juga praktik-praktik yang nampak dalam

pengajarannya yaitu perkataanya sesuai dengan kebenaran yang menolong peserta didik

dalam pengenalan akan Allah, sikap guru PAK saat mengajar yang mempraktikan nilainilai

kebenaran dan juga cara mengajar yang benar.

F. PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN

Pertumbuhan yang dialami oleh anak usia 13-18 tahun tidak hanya secara fisik

dan mental tetapi mereka juga mengalami pertumbuhan iman maka, pada bagian ini

akan dibahas mengenai proses pertumbuhan iman peserta didik, faktor-faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan iman peserta didik dan gambaran pertumbuhan iman yang

dipengaruhi oleh keteladanan iman dari guru PAK, di bawah ini pembahasannya:

1. Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Remaja

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan perubahan, dengan terjadinya

perubahan maka akan mempengaruhi petumbuhan iman remaja. Yudrik Jahja

menuliskan beberapa perubahan yang terjadi pada masa remaja, yaitu:

a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal

dikenal sebagai masa storm & stres. Peningkatan emosional ini merupakan

hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.

Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa

berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa

ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya

mereka diharapkan lagi untuk tidak bertingkah seperti anak-anak, mereka

harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab.

b. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai dengan kematangan

seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan

58

diri dan kemampuan mereka sendiri dan perubahan ini juga sangat

berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan

orang lain. Hal ini dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar

pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan

ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting.

d. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kankkanak

menjadi tidak penting karena telah mendekati dewasa.

e. Kebanyakan remaja bersikat ambivalen dalam menghadapi perubahan yang

terjadi. Disatu sisi mereka menghendaki kebebasan, tetapi disisi lain

mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini, serta

meragukan kemampuan mereka sendiri dalam memikul tanggung jawab

ini.67

Melalui perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja akan

mempengaruhi situasi dan pertumbuhan imannya. Dengan demikian diperlukan

pengawan dan pengarahan secara terus-menerus dari orang yang telah dewasa atau dari

orang yang berwenang seprti orang tua dan guru PAK dan orang yang memiliki rohani

yang baik.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Iman Peserta

Didik

c. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor dari dalam pribadi anak itu sendiri tanpa

dipengaruhi oleh faktor dari luar. Karakter anak yang telah dibentuk dari kecil akan

terbawa-bawa sampai pada masa remaja, hal ini sangat mempengaruhi sikapnya untuk

menanggapi setiap masalah-masalah pada masa remaja.

Masa ini merupakan masa pertumbuhan yang sangat progresif baik fisik dan

juga aspek nonfisik sehingga masa ini anak dapat berubah konsep dalam menilai

sesuatu. Pada masa remaja anak akan menemukan banyak hal yang baru karena

lingkungan sosialnya yang semakin luas seperti budaya masyarakat luas dan juga

karakter orang yang berbeda-beda.

67Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), 235-236

59

Pada masa ini anak remaja cenderung mau memecahkan masalah sendiri

sekalipun masalah yang sangat sulit yang mungkin tidak dapat diatasi olehnya, tentang

situasi ini Hurlock mengatakan ¡°Pertama, sepanjang masa kanak-kanak masalah anakanak

sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga sebagian remaja

tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena masa remaja merasa diri

sendiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang

tua dan guru-guru.¡±68 Perubahan yang terjadi dari dalam diri sendiri akan

mempengaruhi remaja dalam menanggapi, menerima dan mengetahui lebih tentang

kepercayaanya selama ini, respon remaja akan hal ini terlihat dari keterlibatannya dalam

kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani.

d. Faktor Eksternal

1) Keluarga

Keluarga merupakan tempat yang sangat penting bagi setiap remaja, sekalipun

dalam perkembangan dan perubahan yang dialaminya yang membuat dia semakin

mengurangi waktu bersama keluarga. Di dalam keluarga remaja menemukan orangorang

yang sangat ia kenal dan dekat dengannya sehingga dalam masalah remaja

keluarga cenderung yang pertama menolong dia dalam menyelesaikannya. Keluarga

tetap sangat berpengaruhi untuk berkontribusi bagi perkembangan remaja, dimana orang

tua merupakan figur yang mereka hargai mulai dari mulanya sehingga mereka akan

lebih dapat menerima nasihat dan saran yang disampaikan oleh orang tua, Mohammad

Ali dan Mohammad Asori ¡°Menyebutnya sebagai lingkungan utama yangat penting

dalam kaitanya dengan penyesuaian diri remaja itu sendiri.¡±69

68Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Edisi Kelima (Jakarta: Erlangga, 1997), 208

69Mohammad Ali dan Mohammad Assrori, Psikologi Remaja (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 185

60

Keluarga kristen sangat berpengaruh dalam pertumbuhan iman remaja,

¡°Keluarga kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu dan anak-anak yang telah

percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara

pribadi.¡±70 Keluarga kristen yang hidup tentu lebih memperhatikan pertumbuhan anak

remaja karena masa remaja dapat menjadi ancaman bagi pertumbuhan remaja.

Tanggung jawab keluarga kristen yaitu dengan mendorong anak remaja untuk

terus meneruh mengikuti kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani dan keluarga juga terus

mengajar kebenaran dan mengingatkan remaja akan hal-hal yang tidak baik pada masa

remaja. Paul mengatakan ¡°Tugas menjadi orang tua bagi anak-anak remaja. Apabila kita

ingin mencapai tujuan Allah bagi kita sebagai orang tua para remaja, kita membutuhkan

pemahaman yang tepat tentang kesadaran yang akan digunakanNya, yaitu keluarga.¡±71

Dengan demikian keluarga perlu mengerti pengajaran-pengajaran Alkitab tentang

kehendak Allah bagi keluarga dan tugasnya dalam membimbing anak-anaknya, supaya

orang tua menjadi lingkungan positif yang dapat menolong remaja untuk pertumbuhan

imannya.

2) Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat sangat berdampak bagi pertumbuhan remaja karena

remaja semakin memperluas lingkungan sosialnya dan terlibat dalam budaya

lingkungan dimana dia berada. Lingkungan yang positif yaitu lingkungan yang

masyarakatnya sudah berpendidikan dan tidak ada perilaku-perilaku yang negatif maka

akan berdampat positif pada pertumbuhan remaja, akan tetapi sebaliknya jika

lingkungan masyarakat yang negatif yaitu kurangnya orang-orang yang berpendidikan

70Sariaman Sitanggang, PAK Kelas IX SMP (Jakarta: Egkrateria Putra Jaya, 2006), 20

71Paul David Tripp, Masa Penuh Kesempatan (Surabaya: Momentum, 2017), 53

61

dan sering terjadi perilaku-perilaku negatif dari individu atau kelompok maka

lingkungan itu akan berdampak negatif bagi pertumbuhan remaja.

Dengan demikian sangat diperlukan lingkungan yang positif bagi para remaja

pada masa ini. Tentunya melalui pengasan dan pemahaman dari orang tua agar maka

remaja akan lebih berhati-hati untuk terlibat dalam limgkungan yang negatif tetapi akan

lebih selektif untuk menjalin hubungan pada lingkungan yang posif yaitu dalam

komunitas-komunitas yang tujuannya positif, persekutuan pemuda gereja, kelompok

positif lainnya.

3) Sekolah

Sekolah adalah lingkungan pendidikan formal yang dibuat oleh pemerintah.

Lingkungan sekolah lebih bersifat positif karena tujuan dibuat lembaga sekolah yaitu

sebagai tempat belajar peserta didik. Semua program yang dilenggarakan di sekolah

bersifat edukatif dan untuk mengembangkan potensi, membentuk peserta didik menjadi

pribadi yang lebih baik.

Remaja yang bersekolah akan hidup dalam lingkungan sekolah untuk mengikut

kegiatan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh sekolah.

Lingkungan sekolah tidak serta merta adalah lingkungan yang posistif seratus persen,

karena di dalamnya ada banyak orang-orang yang memiliki karakter yang berbeda-beda.

Maka di dalam sekolah dapat terjadi perilaku-perilaku yang kurang baik dari peserta

didik yang kurang baik. Oleh karena itu diperlukan pengawasan dari guru-guru di

sekolah untuk mengarahkan dan membimbing anak-anak yang kurang baik. Peserta

didik berinteraksi dan memberi banyak waktu dalam lingkungan sekolah sehingga

dengan demikian lingkungan sekolah akan berpengaruh pada pertumbuhan iman remaja.

62

3. Gambaran Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18 Tahun Yang

Mendapat Pengaruh Dari Keteladanan Iman Guru PAK

Kehidupan orang percaya senantiasa bertumbuh dalam kehidupan

kepecayaannya, dalam pemahamannya tentang kebenaran, hidup yang terus dibaharui

oleh kebenaran dan segala tindakannya yang sesuai dengan kebenaran, hal ini terjadi

oleh pertolongan Roh Kudus yang terus memimpin kepada kebenaran dan melalui

segala kegiatan yang Tuhan pakai untuk membawa manusia datang kepadanya baik itu

pengajaran oleh guru, pengalaman pribadi dalam membangun diri di dalam kebenaran

dan juga melalui teladan-teladan yang ditemui setiap hari.

Pertumbuhan iman merupakan tanda adanya kehiduoan rohani dalam diri

seseorang. Sebagai seorang kristen yang bertumbuh menuju kepada kedewasaan rohani,

melalui pengenalan akan Tuhan yang semakinhari semakin mendalam, menjadikan ia

semakin berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman dan sehat (Kolose 2:6-7; Efesus

4:13).72 Demikian juga peserta didik secara terus-menerus mengalami pertumbuhan

iman maka, di sini sangat diperlukan peran orang percaya dan dapat menjadi teladan

dan membimbang mereka dalam proses pertumbuhan iman tersebut. Guru PAK adalah

salah satu orang yang sangat berpengaruh dan dapat membantu peserta didik untuk

lebih bertumbuh dalam iman. Berdasarkan teladan-teladan iman yang diterapkan oleh

guru PAK maka, dapat ada beberapa indikasi pertumbuhan iman yang dialami oleh

peserta didik di dalam kelas, yaitu:

a. Peserta didik semakin mencintai pelajaran Pendidikan Agama Kristen

b. Peserta didik semakin aktif dalam kelas yaitu melalui bertanya dan

menjawab

72Dosen Agama Kristen Usaki dan STIE Trisakti, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: Universitas

Trisakti, 2003), 95

63

c. Peserta didik semakin berusaha untuk tetap hadir pada jam pelajaran

Pendidikan Agama Kristen

d. Peserta didik lebih tenang dalam mengikuti kelas

e. Peserta didik semakin mengasihi guru pengajar PAK

f. Senang mengikuti rohani di dalam kelas, ibadah saat memulai pelajaran

dan setelah selesai pelajaran

Pertumbuhan iman peserta didik tidak hanya berdampak pada tindakannya di

dalam kelas tetapi juga berdampak tindakannya di luar kelas yaitu dalam semua

lingkungan sosialnya, baik itu keluarga, gereja, masyarakat dan komunitas.

Pertumbuhan iman tersebut dapat diindikasikan sebagai berikut:

g. Peserta didik yang jarang beribadah menjadi rajin beribadah

h. Peserta didik yang jarang berdoa menjadi rajin berdoa

i. Peserta didik yang jarang membaca Alkitab menjadi rajin membaca

Alkitab

j. Peserta didik yang kurang beretika menjadi beretika baik

64

BAB IV

APLIKASINYA BAGI GURU PAK

A. GURU PAK MEMAHAMI BAHWA IA JUGA SEBAGAI TELADAN IMAN

BAGI PESERTA DIDIK

Guru PAK perlu untuk mengetahui substasinya sebagai guru PAK bahwa ada

beberapa perbedaan yang sangat substansi daripada guru mata pelajaran lain. Dengan

pemahaman-pemahaman yang benar akan hal ini, maka guru PAK akan lebih

membenahi diri agar lebih siap untuk mengerjakan tugas panggilan dari Tuhan sebagai

guru PAK. Hal-hal yang mesti dibenahi bukan hanya bahan ajar dan rencana

pembelajaran dengan baik tetapi juga pribadi gurunya sendiri yang mengemban tugas

yang sangat mulia itu ¡°Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah

dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan

dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau (1 Timotius 4:16).¡±

Dengan pemahaman ini guru PAK akan terus membangun relasi yang intim

kepada Tuhan pemberi tugas tersebut, melalui membuka diri untuk terus belajar dan

diajar oleh Firman Tuhan dan Roh Kudus (Yohanes 14:26; 2 Timotius 3;16).

Guru PAK yang benar-benar memahami bahwa ia juga adalah sebagai teladan

iman akan mengucap syukur atas karunia mengajar yang Tuhan berikan, sebaliknya

tidak menganggap tugas sebagai guru PAK sebagai tugas yang rendah dan hanya

sebagai profesi sebagaimana pekerjaan lain.

Pemahaman ini merupakan pengenalan akan identitas dirinya dan hal ini sangat

penting dalam melaksanakan sebuah tanggung jawab, Mary Setiawani dan Stephen

Tong berkata ¡°Seorang yang hanya bisa melihat keluar dan tidak menggali dirinya

sendiri, tidak akan pernah menjadi satu karakter yang agung. Instropeksi dan penggalian

65

diri merupakan suatu tugas yang penting di dalam membentuk karakter kristen.¡±69

Dapat dikatakan bahwa sebagai guru PAK yang juga dalam tujuannya membentuk

karakter peserta didik terlebih dahulu mengenal dirinya dan panggilannya.

B. GURU PAK MENERAPKAN KETELADAN IMAN

Sebelum menjadi pengajar PAK terlebih dulu telah diajar, dengan kata lain ia

telah menerima ajaran itu dan menerapkan dalam diri tuntutan dari ajaran tersebut.

Dengan demikian guru PAK tidak hanya dilihat sebagai pribadi yang telah mengerti

semua ajaran dan siap untuk mengajar tetapi juga sebagai teladan pribadi yang telah

diubahkan oleh ajaran yang berkuasa tersebut dan terus menerpakannya dalam

kehidupan sehari-hari. Melalui teladan tersebut peserta didik melihat betapa pentingnya

Pendidikan Agama Kristen yaitu Firman Tuhan bagi kebidupan mereka yang berkuasa

menyelamatkan. John M. Nainggolan berkata,

Dalam mengemban tugas yang mahapenting ini, seorang guru agama kristen

dituntut untuk mampu menunjukkan spiritualitas imannya. Dia harus tahu

bagaimana sepatutnya ia mengemban tugasnya sebagai guru berdasarkan iman

kristiani. Karena seorang guru agama kristen bukan hanya mengajarkan apa

yang dia tahu tetapi seorang guru agama kristen harus memberikan dan

mengajarkan apa yang dia punya. Tidak semua guru memberikan apa yang dia

punya, tetapi mereka hanya sebatas transfer ilmu. Guru agama kristen harus

punya nilai plus dalam hal ini.70

Dapat dikatakan bahwa guru PAK menerapkan spiritualnya sebagai gaya

hidup. Iman menentukan keoutusan-keputusan dan tindakan-tindakan sehari-hari,

prinsip-prinsip, dan pedoman moral serta mau menyerahkan kehidupan pada Yesus.

Melalui semua aspek kehidupan didasari oleh iman maka hal itu menjadi teldan iman

bagi peserta didik.

69Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, 99

70John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Generasi Info Media, 2007), 1-

2

66

1. Guru PAK lebih berhati-hati dalam berkata-kata

Guru PAK lebih berhati-hati dalam perkataannya artinya guru PAK dapat

mengontrol caranya berbicara dengan cara lemah lembut sehingga peserta didik tidak

tersinggung atau merasa tertekan saat mengajar. Sikap berhati-hati dalam berbicara juga

menghindari kata-kata yang tidak baik yaitu yang tidak membangun pertumbuhan

karakter dan spiritual peserta didik sebaliknya berusaha untuk terus berkata-kata yang

baik dan yang membangun peserta didik. Dalam pengajarannya guru memperhatikan

ajarannya agar tidak sembarangan menyampaikan teori yang tidak sesuai dengan

kebenaran tetapi terus memperkatakan kebenaran itu dalam pengajarannya.

2. Guru PAK menerapkan nilai-nilai ajarannya dalam tindakan

Dalam hal ini guru PAK dituntut untuk konsisten dalam ajaran dan

perbuatannya, dia bertingkah laku sebagai guru yang dapat menjadi teladan dalam

mentaati Firman Tuhan dan memperlakukan peserta didik sebagai pribadi yang berharga

dan yang membutuhkan ajaran PAK untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh di dalam

iman kepada Yesus Kristus. Guru PAK memiliki karakter yang sesuai dengan

kebenaran dan menerapkannya dalam tindakan pengajarannya.

3. Guru PAK memiliki kasih dan mengasihi peserta didik

Guru PAK memiliki kasih yang bersumber dari kasih Tuhan sehingga ia

melakukan tugasnya sebagai guru berdasarkan kasih, guru mengasihi tugasnya dan

melakukannya dengan kasih. Demikian juga guru mengasihi para muridnya sehingga

memperlakukan mereka secara adil dan tidak pilih kasih. Kasihnya diterapkan dalam

pengajarannya dan dalam membangun relasi yang baik dengan peserta didik sehingga

mereka merasa dikasihi.

67

4. Guru PAK setia dalam panggilannya dan mengajar Injil Kristus

Kesetiaan guru PAK menjadi semakin sulit ditengah-tengah zaman yang

semakin maju, ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran dan kemudahankemudahan

yang ditawarkan zaman yang membuat orang percaya tidak peduli lagi

tentang agama. Keteladanan kesetiaan guru PAK akan membuktikan bahwa orang

percaya harus setia dalam imannya meskipun zaman berubah cepat. Guru PAK dapat

menunjukkan kesetiaannya melalui kehidupannya yang menjunjung tinggi nilai-nilai

iman kristen yaitu hidup beribadah, hidup suci sebagai anak-anak Allah, dan prinsip

hidup mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, dengan demikian dia akan mendorong

peserta didik mencari Tuhan dan mempermuliakan Tuhan di dalam hidupnya.

Guru PAK yang terus mengajar Injil Kristus dalam pengajarannya dan

menganggap itu adalah kebutuhan utama peserta didik dalam hidupnya dan dalam

menghadapai zaman itu merupakan kesetiaan guru PAK. Dengan demikian guru PAK

melihat begitu penting peranannya dalam menolong peserta didik untuk bertumbuh

dalam iman kepada Yesus Kristus, sehingga guru PAK tidak akan beralih profesi,

meninggalkan panggilannya sebagai guru atau meninggalkan pelayanan, melainkan dia

terus setia.

5. Guru PAK menjaga dirinya dari dosa

Hal merupakan usaha guru PAK untuk tidak tergoda dengan kenikmatan dunia,

tidak kompromi segala bentuk yang tidak sesuai dengan kebenaran tetapi terus hidup

menerapkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Guru PAK menjauhkan diri dari segala

keinginan daging (Galatia 5:19-21) tetapi hidup oleh Roh dan menghasilkan buah-buah

Roh (Galatia 5:22-23).

68

C. GURU PAK TERUS MEMBANGUN RELASI YANG INTIM DENGAN

TUHAN

Relasi dengan Tuhan merupakan situasi setiap orang percaya ketika mereka

menerima Tuhan dalam hidupnya. Melalui relasi yang baik dengan Tuhan akan

berdampak dari setiap tindakan sehari-hari, sebaliknya jika tidak memiliki relasi yang

baik dengan Tuhan maka itu akan berdampak juga pada tindakan sehari-hari dalam hal

ini tindakan menyeleweng dari kebenaran.

Dengan demikian guru PAK perlu membangun secara terus menerus relasi

yang baik dengan Tuhan dengan menjaga kesucian diri, mentaati semua ajaran Tuhan,

sehingga oleh pertolongan Tuhan guru PAK dapat menjalani dan mengerjakan semua

tanggung jawabnya dengan baik dan hal itu menjadi teladan yang bagi orang lain.

Melalui relasi yang baik dengan Tuhan, akan menolong guru PAK untuk fokus akan

tujuan utama dalam pengajarannya karena terus menerus mempunyai relasi dengan

Pribadi yang memberi tugas pengajaran.

69

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan pembahasan mengenai Pengaruh Keteladanan Iman Guru

Pendidikan Agama Kristen Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia

13-18 Tahun maka, pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan saran dari

keseluruhan uraian yang telah dijelaskan pada bab I, II, III, dan IV. Adapun kesimpulan

dan saran ini sebagai berikut.

A. KESIMPULAN

PAK bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu PAK

merupakan sarana untuk menanamkan iman kekristenan kepada anak didik.

menanamkan iman kristen adalah ajakn Allah untuk bekerja sama. Guru Agama Kristen

sebagai penabur benih iman dan Allah menumbuhkan. Dengan demikian dapat dilihat

status guru PAK dalam pekerjaan ini sangat penting, akan tetapi terlebih dahulu dapat

diketahui bahwa sebelum menjadi seorang guru PAK, Tuhan memanggil dan mengajar

guru PAK untuk mempersiapkan dirinya melakukan pekerjaan yang mulia ini. Guru

agama kristen hendaknya bercermin pada figur Yesus yang mempunyai spiritualitas

tinggi. Spiritualitas Yesus nanpak dalam seluruh hidup dan pelayananNya. Hal ini

terlihat dalam peranNya sebagai guru yang patut digugu melalui perkataanNya yang

patut diperhatikan, dan tingkah lakuNya yang pantas diteladani.

Seorang guru agama kristen mesti memiliki kedewasaan iman atau sedang

menuju ke arah itu, sehingga ia dapat membantu peserta didik menuju ke arah

kedewasaan iman. Untuk membawa peserta didik menuju pada pendewasaan iman tidak

hanya melalui bahan ajar yang disampaikan tetapi juga melalui teladan-teladan iman

70

yang dapat ditiru dari guru PAK. Menjadi teladan iman adalah dengan melanjutkan

teladan-teladan para tokoh dalam Alkitab yang berhasil mengubah zaman. Hal teladan

iman juga merupakan respon guru PAK atas didikan yang telah ia terima dari Firman

yang berkuasa dan hidup. Maka sangat penting memberikan teladan iman bagi peserta

didik sebagai bukti bahwa seorang guru PAK adalah orang beriman kepada Kristus (1

Tesalonika 3:16; 1 Timotius 4:12). Keteladan iman menjadi gaya hidup guru PAK

dalam tindakan-tindakan yang dapat ditiru oleh peserta didik dengan demikian akan

mempengaruhi dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik usia 13-18 tahun.

B. SARAN

Di akhir dari penulisan ini, penulis memberikan saran kepada setiap guru

Pendidikan Agama Kristen dan calon guru Pendidikan Agama Kristen.

1. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK tidak hanya mempersiapkan bahan ajar

yang baik untuk mengajar tetapi juga mempersipakan dan membenahi diri

sebelum mengajar.

2. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK memberikan teladan-teladan sebagai

orang beriman kepada peserta didik.

3. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK terlebih dulu mengajar dirinya

sebelum mengajar peserta didik.

4. Penulis juga menyarankan kepada lembaga sekolah untuk menguji atau

mengevaluasi calon guru dan guru PAK, supaya tidak sembarangan menerima

guru PAK yang tidak bisa menjadi contoh dalam segala aspek.

71

DAFTAR PUSTAKA

_______________, ALKITAB: Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2008.

A.Z. Mulyana, Rahasia Menjadi Guru Hebat. Jakarta: Grasindo, 2010.

Ali Mohammad dan Assrori Mohammad, Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara,

2011.

Arichea Daniel C. dan Hatton Howard A., diterjemahkan oleh LAI dan Yayasan

Karunia Bakti Budaya Indonesia, Pedoman Penafsiran Alkitab Surat Yudas

Dan Surat Petrus Yang Kedua. Jakarta: LAI.

Daniel Eleanor A. dan Wade John W., Foundations For Christian Education. United

States Of America:College Press Publising, 2007.

Darmawijaya St., Seluk Beluk Kitab Suci. Yokyakarta: Kanisius, 2009.

Durka Gloria, The Teacher¡¯s Calling, A Spirituality For Those Who Teach. United

States Of America: Paulist Press, 2002.

Edison F. Thomas, Pendidikan Nilai-Nilai Kristiani. Bandung: Kalam Hidup, 2018.

Eims Leroy, diterjemahkan oleh C. Th. Enni Sasanti, 12 Ciri Kepemimpinan Yang

Efektif. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1981.

Enklaar I. H. dan Homrighausen E. G., Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK

Gunung Mulia, 2011.

Gichara Jenny, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa. Jakarta: PT Gramedia, 2013.

Groome Thomas H., diterjemahkan oleh Daniel Stefanus, Christian Religious

Education. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.

Gunarsa Singgih D. dan Gunarsa Yulia Singgih D., Psikologi Perkembangan Anak dan

Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

72

Hadiwijono Harun, Iman Kristen. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007.

Homrighausen E. G. dan Enklaar I. H., Pendidikan Agama Kristen. Jakarta:BPK

Gunung Mulia, 2008.

Hooper Duane, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids. The United

States Of America: Xulon Press, 2008.

Hurlock Elizabeth B., dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi

Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1980.

Ismail Andar, Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Prenada Media Group, 2011.

KBBI V 0.2.1 Beta (21), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud

RI, 2016.

Kristianto Paulus Lilik, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. Yokyakarta:

Andi, 2008.

Kure S. Dan Plueddemman J., Mengajar Dengan Berhasil. Bandung: Yayasan Kalam

Hidup. 1997.

Mulyasa E., Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2008.

Nainggolan John M. Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristian. Bandung: Bina Media

Informasi. 2011.

Nainggolan, John M., Menjadi Guru Agama Kristen. Bandung: Generasi Info Media,

2007.

Nazir Moh., Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1985.

Nuhamara Daniel, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Remaja. Bandung: Jurnal Info

Media, 2008.

73

Packer, J. I., Tenney Merril C., dan William White, Jr, diterjemahkan oleh Johan C.

Pandelaki dan Sutrisno, Dunia Perjanjian Baru. Malang:Gandum Mas, 1993.

Pazmino Robert, W., diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan

Kristen. Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, BPK Gunung Mulia,

2012.

Graendorf, Werner C., Introduction To Blibical Christian Educatiol. USA: The Moody

Bible Institute Of Chicago, 1981.

Pr. Gregorius Kriswanto,, Menjadi Murid Kristus Itu Bagaimana Sih?. Yogyakarta:

Kanisius, 2009.

Price J. M., Yesus Guru Agung. Jakarta: LBB, 1997.

Rifai, Superioritas Kristus Dalam Kitab Ibrani. Jakarta: BornWin.s Publishing, 2019.

Ringgi. Ismael Banne, Buwono Santoso Sri, dkk, Hidup Besyukur: Pendidikan Agama

Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Setiawani Mary dan Tong Stephen, Seni Membentuk Karakter Kristen. Surabaya:

Momentum, 2008.

Sidjabat B.S., Mengajar Secara Profesional:Mewujudkan Visi Guru Profesional,

Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 1993.

Sidjabat Binsen S., Pendidikan Kristen Konteks Sekolah. Bandung: Kalam Hidup, 2018.

Sitanggang Sariaman, PAK Kelas IX SMP. Jakarta: Egkrateria Putra Jaya, 2006.

Suprihatiningrum Jamil, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan

Kompetensi Guru, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2014.

Surbakti E. B., Benarkah Injil Kabar Baik?. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.

74

Thalib, Samsul Bachri, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif.

Jakarta: Kencana, 2010.

Tong Stephen. Arsitek Jiwa II. Surabaya: Momentum. 2010.

Tripp, Paul David, Masa Penuh Kesempatan. Surabaya: Momentum, 2017.

Yang Ferry, Pendidikan Kristen. Surabaya: Momentum, 2018.

75

BIODATA PENULIS

A. RIWAYAT HIDUP

Nama : Aliran Berkat Lase

Tempat Tanggal Lahir : Hiligeo, 28 April 1995

NIM : 2014208002

Nama Ayah : Sapar Dangolan Lase

Nama Ibu : Mawarni Zebua

Anak : Ke-3 dari 7 bersaudara

NIK : 1224112804950001

Alamat : Desa Lukhulase, Rt. 1, Kec. Lahewa Timur,

Kab. Nias Utara

Warga Negara : Indonesia

B. RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Sekolah Dasar Negeri No. 071139 Dima Muzoi, Kec. Lahewa Timur, Kab.

Nias Utara, Tahun 2001-2007

2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Lahewa Timur, Kec. Lahewa Timur,

Kab. Nias Utara, Tahun 2007-2010.

3. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lahewa Timur, Kec. Lahewa Timur,

Kab. Nias Utara, Tahun 2010-2013.

4. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (Setia) Jakarta, Tangerang-Banten,

Tahun 2014-2019.

C. RIWAYAT PELAYANAN

1. Sebagai Tim Pelayan Pada Pelayanan God.s Word In Indonesia, Tahun 2017-

2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12

Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan Kristen (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Agama...