Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan Kristen (S.Pd.)
Program Studi Pendidikan Agama Kristen
Oleh:
ALIRAN BERKAT LASE
NIM: 2014208002
Jakarta, 26 November 2019
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR
(SETIA) JAKARTA
ii
HALAMAN PENGESAHAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Setelah memeriksa dan meneliti secara saksama serta mengetahui seluruh proses
penelitian dan cara penyusunan skripsi yang dilakukan oleh Aliran Berkat Lase yang
berjudul PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN
PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12,
maka dengan ini dinyatakan bahwa skripsi ini diterima dan disahkan sebagai bagian dari
persyaratan untuk mendapatkan gelar SARJANA PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN dari SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR (SETIA)
JAKARTA.
Diterima dan disahkan
pada tanggal 26 November 2019
Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta
Ketua
Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th.
NIDN: 2315037501
iii
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI
Ketua,
Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th.
NIDN: 2315037501
Sekretaris,
Filmon Berek, M.Pd.K.
NIDN: 2323066801
Anggota
Nehemia Nome, M.Pd.K.
NIDN: 2328116701
Ujian pada tanggal: 5 November 2019
iv
HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
Dosen pembimbing telah menerima hasil penelitian yang berjudul PENGARUH
KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)
TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK
USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12, yang disusun, disiapkan,
dan diserahkan oleh Aliran Berkat Lase untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
mencapai gelar SARJANA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN dari SEKOLAH
TINGGI TEOLOGI INJILI ARASTAMAR (SETIA) JAKARTA.
Disetujui pada tanggal:
25 November 2019
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Sozanolo Zamasi, M.Pd.K. Yosia Belo, M.Pd.K.
NIDN: 2306127201 NIDN: 2301057501
v
HALAMAN PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun ini
sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen dari Sekolah
Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, seluruhnya merupakan hasil karya
saya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip dari
hasil karya orang lain, telah dituliskan secara jelas sumbernya sesuai dengan norma,
kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah yang berlaku.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh, sebagian, atau bagian-bagian
tertentu dalam skripsi ini yang bukan hasil karya sendiri atau plagiat, penulis bersedia
menerima sanksi dari Bidang Akademik dari lembaga setempat dan sanksi-sanksi
lainnya, sesuai dengan peraturan sekolah dan perundang-undangan yang berlaku.
Jakarta, 25 November 2019
Aliran Berkat Lase
Meterai
vi
MOTTO
SEBAB SEPERTI TUBUH TANPA ROH
ADALAH MATI,
DEMIKIAN JUGALAH IMAN TANPA
PERBUATAN-PERBUATAN
ADALAH MATI
(YAKOBUS 2:26)
Soli Deo Gloria
vii
ABSTRAK
Lase, Aliran Berkat
2019, PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN
PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN
BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12. Sekolah Tinggi Teologi Injili
Arastamar (SETIA) Jakarta. Skripsi, S.Pd., 70 halaman.
Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Keteladanan Iman Guru Pendikan
Agama Kristen Terhadap Peningkatkan Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18
Tahun Berdasarkan 1 Timotius 4:12. Latar belakang masalah penelitian ini disebabkan
karena adanya indikasi bahwa ada sebagian guru PAK yang belum memahami figurnya
sebagai teladan iman bagi peserta didik dan belum memberikan teladan-teladan iman
yang dapat dilihat dan ditiru oleh peserta didik. Dengan demikian guru PAK menjadi
sama seperti guru mata pelajaran umum lainnya yang hanya menyampaikan teori
tentang pengetahuan tetapi tidak hidup dalam kebenaran. Berdasarkan latar belakang
masalah maka, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana
gambaran keteladanan iman guru PAK dan karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun.
Bagaimana keteladanan iman guru PAK terhadap peningkatkan pertumbuhan iman
peserta didik berdasarkan 1 Timotius 4:12. Bagaimana aplikasinya bagi guru PAK.
Dengan tujuan penelitian, yaitu: Menjelaskan gambaran keteladan iman guru PAK
dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Menjelaskan keteladanan iman
guru PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Menjelaskan aplikasi
keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik bagi
guru PAK.
Dalam penelitian ini penulis memakai metode penelitian kepustakan (Library
Research). Metode kepustakaan adalah menulusuri literatur serta menelaah studi yang
ada di perpustakaan. Adapun hipotesis penelitian adalah Jika guru PAK menerapkan
keteladanan iman dalam hidup dan pengajarannya maka, akan meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik.
Berdasarkan penelitian di atas, adapun saran-saran dari penulis, yaitu: Guru
dan calon guru PAK tidak hanya mempersiapkan bahan ajar yang baik untuk mengajar
tetapi juga mempersiapkan dan membenahi diri sebelum mengajar. Guru dan calon guru
PAK memberikan teladan-teladan sebagai orang beriman kepada peserta didik. Guru
dan calon guru PAK terlebih dulu mengajar dirinya sebelum mengajar peserta didik.
Penulis menyarankan kepada lembaga sekolah untuk menguji atau mengevaluasi calon
guru dan guru PAK, supaya tidak sembarangan menerima guru PAK yang tidak bisa
menjadi teladan iman bagi peserta didik.
Jumlah kata : 299 kata
Dosen Pembimbing I : Sozanolo Zamasi, M.Pd.K.
Dosen Pembimbing II : Yosia Belo, M.Pd.K.
viii
ABSTRACT
Lase, Aliran Berkat
2019, THE INFLUENCE OF THE PATTERN OF THE FAITH OF
CHRISTIAN EDUCATION TEACHER ON IMPROVING THE
GROWTH OF FAITH OF THE STUDENTS IN AGE 13-18 YEARS
BASED ON 1 TIMOTHY 4:12. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar
(SETIA) Jakarta. Skripsi, S.Pd., 70 pages.
This study discusses the Influence of the Example of the Faith of the Christian
Education Teacher on the Improvement of the Faith Growth of Students Age 13-18
Years Based on 1 Timothy 4:12. The background of this research problem is caused by
the indication that there are some crhistian education teachers who do not understand
the figure as an example of faith for students and have not set examples of faith that can
be seen and imitated by students. Thus the christian education teacher becomes the same
as other general subject teachers who only convey the theory of knowledge but do not
live in truth. Based on the background of the problem, the research problem can be
formulated as follows: What is the description of the example of the christian education
teacher's faith and the characteristics of students aged 13-18 years. How is the example
of the christian education teacher's faith in increasing students' faith growth based on 1
Timothy 4:12. What is the application for the christian education teachers. With the
researh purposes are as follows: Explaining the exemplary picture of the christian
education teacher's faith in enhancing students' faith growth. Explain the exemplary
faith of the christian education teachers in enhancing students' faith growth. Explain the
application of the example of the christian education teacher's faith in increasing the
faith growth of students for the christian education teachers.
In this study the authors used the library research method (Library Research).
The method of literature is searching the literature and studying the studies in the
library. The research hypothesis is that if a christian education teacher apply exemplary
faith in their lives and teachings, it will increase students' faith growth.
Based on the research above, the suggestions from the authors, namely:
Teachers and prospective christian education teachers not only prepare good teaching
materials for teaching but also prepare and improve themselves before teaching.
Teachers and prospective christian education teachers provide role models as believers
to students. Teachers and prospective christian education teachers first teach themselves
before teaching students. The author suggests to school institutions to test or evaluate
prospective teachers and christian education teachers, so that they do not arbitrarily
accept the christian education teachers who cannot be models of faith for students.
Number of words : 374 words
Supervisor I : Sozanolo Zamasi, M.Pd.K.
Supervisor II : Yosia Belo, M.Pd.K.
ix
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Tritunggal atas segala
anugrahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan skripsi ini yang berjudul
PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN (PAK) TERHADAP PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN
PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12
sebagai salah satu persyaratan memperoleh gelar SARJANA PENDIDIKAN (S.Pd.).
Dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini begitu banyak orang yang berkontribusi
dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Pendiri Yayaysan SABAS.
2. Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th. Ketua Sekolah Tinggi Teologi Injili
Arastamar (SETIA) Jakarta.
3. Sozanolo Zamasi, M.Pd.K., selaku pembimbing I dan Yosia Belo,
M.Pd.K., selaku pembimbing II, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan
pikiran dalam membimbing penulis selama penyusunan skripsi.
4. Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th., (ketua), Filmon Berek, M.Th.,
(Sekretaris), Nehemia Nome, M.Pd.K., (Anggota), sebagai Tim Penguji
Sripsi dan Rika S.,S.Pd., sebagai notulen.
5. Dosen penguji proposal Dr. Dyulius Thomas Bilo, M.Th., selaku Ketua,
Filmon Berek, M.Pd.K., selaku Sekretaris, Yublina Kase, M.Pd.K., selaku
Anggota, dan Siska Rahayu, S.Pd., selaku notulen.
6. Riste Tioma Silaen, M.Th., selaku ketua I Bidang Akademik, Sozanolo
Zamasi, M.Pd.K., sebagai Kepala Program Studi PAK, para dosen dan staf
x
perpustakaan Yublina Kase, M.Pd.K., Maridje, Novri Zebua, S.Pd., yang
telah memfasilitasi dalam hal buku-buku yang dibutuhkan penulis dalam
penyusunan skripsi.
7. Seluruh Civitas Academica SETIA Jakarta.
8. Kedua orang tua terkasih: Bapak, Sapar Dangolan Lase dan Ibu, Mawarni
Zebua, yang telah membesarkan dan membiayai selama studi di tempat ini,
serta segala motivasi dan doa yang diberikan.
9. Mr. Philip Walker, Mrs. Jacky selaku orang tua rohani, atas segala
dukungan yang telah diberikan selama studi di tempat ini baik materil
maupun nonmaterial, dan Phil Jr., Maria Sophia, Joshua Dale, dan
Jeremiah.
10. Apriaman Bali, S.Pd., Aro Ziduhu Laia, S.Pd., Atalisi Waruwu, S.Th.,
Eirene K. Mentarius Zalukhu, S.Pd., Holy Putra Gea, S.Pd., Mareni
Waruwu, S.Th., Putra Sanjaya Ndraha, S.Pd. Teman-teman seperjuangan
selama menjalani studi di STT SETIA Jakarta sampai selesai.
11. Teman-teman semester VIII tahun 2019 dan adek-adek semester I, III, V,
yang telah mendoakan dan memberikan semangat dalam penyelesaian
skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca. Dengan ketulusan hati
penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang baik dari para pembaca guna
penyempurnaan skripsi ini.
Jakarta, 25 November 2019
Aliran Berkat Lase
xi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN LEMBAGA PENDIDIKAN ................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ........................................................ iii
HALAMAN DOSEN PEMBIMBING ...................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................................... v
MOTTO ...................................................................................................................... vi
ABSTRAK .................................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ................................................................................................ viii
DAFTAR ISI ............................................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH PENELITIAN ...................... 1
B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN ................................ 4
C. PEMBATASAN MASALAH PENELITIAN ................................ 5
D. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN ........................................ 5
E. TUJUAN PENELITIAN .................................................................. 5
F. HIPOTESIS ...................................................................................... 6
G. MANFAAT PENELITIAN ............................................................. 6
H. METODOLOGI ............................................................................... 7
I. SISTEMATIKA PENULISAN ....................................................... 8
BAB II GAMBARAN GURU PAK DAN KARAKTERISTIK PESERTA
DIDIK USIA 13-18 TAHUN................................................................... 9
A. PENGERTIAN GURU PAK ........................................................... 9
1. Pengertian Guru PAK ................................................................. 9
2. Dasar Alkitabiah ......................................................................... 11
a. Guru PAK dalam PL ............................................................ 11
b. Guru PAK dalam PB ............................................................ 13
xii
B. HAKIKAT MENJADI GURU PAK SEBAGAI PANGGILAN
DAN TANGGUNG JAWAB .......................................................... 17
1. Panggilan ..................................................................................... 17
2. Tanggung Jawab ......................................................................... 20
C. TUNTUTAN BAGI GURU PAK .................................................... 21
1. Sudah Dilahirkan Kembali .......................................................... 21
2. Hidup Sesuai Dengan Firman Tuhan .......................................... 22
3. Memiliki Pengetahuan Akan Kebenaran .................................... 23
4. Syarat-syarat Bagi Guru PAK yang Baik Menurut Enklaar dan
Homrighausen ............................................................................. 23
D. KARAKTERISTIK GURU PAK ................................................... 24
1. Takut Tuhan ............................................................................... 25
2. Melayani ..................................................................................... 26
3. Mengasihi .................................................................................... 27
E. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN ..... 28
1. Kepribadian ................................................................................. 29
2. Sosial ........................................................................................... 30
3. Moral ........................................................................................... 31
4. Spiritual ....................................................................................... 32
F. LATAR BELAKANG KITAB 1 TIMOTIUS................................ 35
G. MAKSUD TULISAN 1 TIMOTIUS 4:12 ...................................... 37
BAB III PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PAK TERHADAP
PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA
13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12 ......................... 40
A. PENGERTIN KETELADANAN IMAN ........................................ 40
B. TELADAN-TELADAN IMAN DARI GURU PAK
BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12 ............................................ 48
1. Perkataan ..................................................................................... 49
2. Tingkah Laku .............................................................................. 51
3. Kasih ........................................................................................... 53
xiii
4. Kesetiaan ..................................................................................... 55
5. Kesucian ...................................................................................... 56
C. PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK
USIA 13-18 TAHUN ........................................................................ 57
1. Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Remaja .............................. 57
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Iman Peserta
Didik............................................................................................ 58
a. Internal ................................................................................. 58
b. Eksternal .............................................................................. 59
3. Gambaran Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18 Tahun
Yang Mendapat Pengaruh Dari Keteladanan Iman Guru PAK .. 62
BAB IV APLIKASINYA BAGI GURU PAK ..................................................... 64
A. GURU PAK MEMAHAMI BAHWA IA JUGA SEBAGAI
TELADAN IMAN BAGI PESERTA DIDIK ................................ 64
B. GURU PAK MENERAPKAN KETELADAN IMAN .................. 65
C. GURU PAK TERUS MEMBANGUN RELASI YANG INTIM
DENGAN TUHAN ........................................................................... 68
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 69
A. KESIMPULAN ................................................................................. 69
B. SARAN .............................................................................................. 70
DAFTAR PUSATAKA .............................................................................................. 71
BIODATA PENULIS ................................................................................................. 75
1
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan menguraikan: latar belakang masalah penelitian,
identifikasi masalah penelitian, pembatasan masalah penelitian, rumusan masalah
penelitian, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, metodologi dan sistematika
penulisan.
A. LATAR BELAKANG MASALAH PENELITIAN
Keteladanan merupakan salah satu sumber bagi manusia untuk belajar yaitu
melalui hal-hal yang dapat ditiru dari luar, demikian juga Stephen Tong mengatakan
¡°Manusia belajar melalui mengikuti apa yang orang lain lakukan... Manusia selalu
mengikuti orang-orang yang dikagumi. Itu merupakan kekuatan orang untuk
mencontoh¡±.1 Di dalam lingkungan pendidikan peserta didik banyak belajar melalui
banyak hal yang ditemuinya di lingkungan sekolah yaitu proses komunikasi, interaksi
sosial, karakter yang berbeda-beda dari peserta didik yang lain dan kegiatan belajar
mengajar di kelas yang bervariasi melalui guru yang berbeda-beda. Sekolah
memfasilitasi hal-hal positif yang dapat menjadi teladan bagi peserta didik baik itu
aturan-aturan yang berlaku di sekolah, kegiatan-kegiatan sekolah maupun orang-orang
yang menyelenggarakan pendidikan itu sendiri, maka harapan dan tujuan sekolah dalam
hal ini adalah supaya peserta didik dapat belajar dan meniru teladan-teladan positif yang
mereka temukan di sekolah yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Di dalam lingkungan sekolah guru memiliki peranan penting dalam
mewujudkan tujuan pembelajaran. Peranan guru tidak hanya diterapkan dalam usaha
1Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, (Surabaya: Momentum, 2010), 58
2
menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik sampai dimengerti tetapi juga
diterapkan dalam usaha-usaha mengajar sampai nilai-nilai pengajaran diterima dan
dilakukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. John M. Nainggolan menyatakan
bahwa:
Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan mengajar. Gurulah yang
membimbing peserta didiknya untuk belajar mengenal, memahami, dan
menghadapi dunia tempat ia berada.... Guru merupakan jembatan sekaligus
agen yang memungkinkan peserta didiknya berdialog dengan dunianya. Guru
merupakan faktor penting dalam menyukseskan belajar mengajar.2
Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab penting dalam menjalankan
kegiatan pembelajaran guna untuk mencapai tujuan mengajar. Demikian juga guru
Pendidikan Agama Kristen (PAK) tidak lepas dari tanggung jawabnya yaitu untuk
mencapai tujuan pembelajaran PAK. Guru PAK melakuakn beberapa peran dalam
meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik yang tidak hanya berpusat pada proses
pengajaran tetapi juga peran-peran lainnya yang menunjang ajaran PAK, Sidjabat
menyatakan ¡°Berkaitan dengan pendidikan kristen di sekolah maupun di gereja, guru
juga berperan sebagai pemberita Injil (evangelist), imam (priest), gembala (pastor),
konselor (counselor), dan teolog (theologiam).¡±3 Tujuan PAK di sekolah adalah
menjadikan para peserta didik menjadi murid Yesus dan beriman kepadaNya sebagai
Tuhan dan Juruselamatnya, seperti yang dikatakan oleh John M. Nainggolan ¡°Tujuan
PAK adalah membawa para murid Kristus menjadi murid yang dewasa... sampai semua
mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah¡±.4 Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa, guru PAK adalah orang beriman sehingga
keteladanan imannya sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan iman peserta
2John M. Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristian (Bandung: Bina Media
Informasi, 2011), 102
3B. S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993), 100
4Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristiani, 82
3
didik. Keteladanan guru PAK sangat memiliki signifikansi yang berpengaruh dalam
mencapai tujuan PAK, demikian juga sebaliknya jika guru PAK tidak menjadi teladan
iman maka, ia tidak berhasil seperti yang dikatakan S. Kure dan J. Plueddemman ¡°Jika
seorang guru PAK tidak menjadi teladan yang baik, maka ia tidak akan berhasil¡±.5 Guru
yang tidak berhasil yang dimaksud adalah tugas seorang guru belum dikerjakan secara
tuntas sehingga apa yang diajarkan tidak tersampaikan secara efektif dan tidak
mempengaruhi peserta didik secara positif.
Dalam pembelajaran PAK guna menuntun peserta didik untuk beriman kepada
Yesus Kristus dan karya keselamatanNya tidak cukup dengan teori yang dituangkan
melalui penyampaian pengetahuan tetapi perlu pribadi yang bisa menjadi teladan
sehingga peserta didik melihat betapa penting dan berharganya bertumbuh dalam iman
tidak hanya dengan pengetahuan yang cukup tetapi hidup yang telah diubahkan oleh
iman itu sendiri, dalam hal ini gurulah yang diharapkan dapat diteladani peserta didik.
Sebagai orang percaya yang lebih dewasa dan yang menerima tanggung jawab untuk
membawa peserta datang kepada Kristus maka, Guru PAK merupakan teladan iman
bagi peserta didik. Keteladanan guru PAK tidak hanya melalui proses pembelajaran
yang telah ditetapkan tetapi juga lebih dari itu adalah pribadi secara utuh yang telah
beriman. Dalam zaman yang semakin berkembang dan dapat berdampak negatif yang
menghambat dan bahkan hilangnya nilai iman sehingga peserta didik sulit menerima
pembelajaran PAK di dalam hidupnya. Tentunya ini menjadi tantangan bagi guru PAK
untuk lebih mempersiapkan diri untuk tetap menunjukaan betapa pentinya iman dalam
kehidupan peserta didik. Maka sangat penting guru PAK memberikan teladan sebagai
pribadi yang mempertahankan iman dalam zaman yang semakin berkembang.
5S. Kure dan J. Plueddemman, Mengajar Dengan Berhasil (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
1997), 83
4
Seperti dikatakan Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 4:12 ¡°Jangan
seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi
orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.¡± Ayat ini menjelaskan kepada Timotius
supaya ia menjadi teladan kepada orang percaya lainnya, demikian juga guru PAK
merupakan teladan bagi peserta didik sehingga peserta didik dapat melihat figur seorang
yang beriman kepada Yesus Kristus dan peserta didik bertumbuh dalam iman kepada
Yesus Kristus pula. Ibrani pasal 11 juga menuliskan beberapa tokoh-tokoh iman dari
Perjanjian Lama (PL) seperti Abrahan, Musa, Daud dan beberapa tokoh iman lainnya
telah berjuang dengan iman untuk melakukan kehendak Tuhan pada zaman mereka
seperti tertulis dalam Ibrani pasal 11 apa yang mereka lakukan telah menjadi teladan
iman bagi kita pada masa ini supaya tetap hidup dengan iman. Penulis kitab Ibrani
menasihatkan supaya orang yang menerima surat itu mengikuti teladan orang-orang
yang menyampaikan Firman Allah supaya mereka teguh dan bertumbuh dalam iman
(Ibrani 13:7), demikian juga ayat ini menjadi pedoman bagi guru PAK pada zaman
seterusnya sebagai pengajar Firman Allah supaya menjadi teladan iman bagi para
peserta didik. Tanggung jawab guru tidak hanya menyampaikan materi PAK tetapi juga
bertanggung jawab untuk meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik melalui kuasa
Roha Kudus yaitu menolong anak untuk datang kepada Tuhan dan mengaku Yesus
sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Jika guru PAK menyadarari akan tanggung jawab
ini maka, ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam pengajarannya dan memberikan
teladan-teladan iman yang dapat ditiru dan mempengaruhi peserta didik untuk
membangun hubungan mereka dengan Tuhan.
5
B. IDENTIFIKASI MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, maka penulis
mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Guru PAK memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan
iman peserta didik. Kenyataannya, ada beberapa guru PAK yang belum
mengetahui perannya dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta
didiknya. Pertanyaannya, apa saja yang menjadi peran guru PAK dalam
meningkatkan petumbuhan iman peserta didik?
2. Guru PAK merupakan teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan
iman perta didik. Kenyataannya, ada sebagian guru PAK yang belum
manjadi teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta
didik. Pertanyaannya, bagaimana guru PAK menjadi teladan dalam
meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik?
3. Guru PAK memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan pertumbuhan
iman peserta didik. Ada guru PAK yang belum melakukan tanggung
jawabnya dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.
Pertanyaannya, bagaimana guru PAK melakukan tanggung jawabnya
dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik?
C. PEMBATASAN MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan identifikasi masalah penelitian di atas, maka penulis membatasi
penelitian ini hanya pada poin kedua, yaitu: Guru PAK merupakan teladan iman dalam
meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik. Kenyataannya, ada sebagian guru PAK
yang belum menjadi teladan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta
6
didik. Pertanyaannya, bagaimana guru PAK menjadi teladan dalam meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik?
D. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan identifikasi masalah penelitian di atas. Maka, yang menjadi
rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran keteladanan iman guru PAK dan karakteristik
peserta didik usia 13-18 tahun?
2. Bagaimana keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik berdasarkan 1 Timotius 4:12?
3. Bagaimana aplikasinya bagi guru PAK?
E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan gamabaran keteladan iman guru PAK dalam meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik.
2. Menjelaskan keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik berdasarkan 1 Timtoius 4:12.
3. Menjelaskan aplikasi keteladanan iman guru PAK dalam meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik bagi guru PAK.
F. HIPOTESIS
Jika guru PAK mereapkan teladan-teladan iman dalam hidup dan
pengajarannya maka akan meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.
7
G. MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan masalah penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Manfaat dari sisi teoritis yaitu dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan
agama kristen bahwa keteladanan iman guru PAK dapat meningkatkan
pertumbuhan iman peserta didik.
2. Manfaat praktis
a) Menambahkan referensi pustaka bagi Sekolah Tinggi Theologia Injili
Arastamar (SETIA) yang berkaitan dengan keteladanan iman guru
PAK dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.
b) Memberikan kontribusi kepada guru PAK untuk mengaplikasikan
keteladanan iman dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta
didik.
c) Memperluas wawasan penulis tentang keteladanan iman guru PAK
dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik.
H. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penulisan skripsi ini penulis memakai metode kepustakan (Library
Research). Metode kepustakaan adalah menulusuri literatur serta menelaah studi yang
ada di perpustakaan.6
6Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), 112
8
I. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I Pendahuluan
BAB II Gambaran guru PAK dan karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun.
BAB III Keteladanan iman guru PAK terhadap peningkatkan pertumbuhan iman
peserta didik usia 13-18 tahun berdasarkan 1 Timotius 4:12
BAB IV Aplikasinya bagi guru PAK
BAB V Penutup
9
BAB II
GAMBARAN GURU PAK DAN KARAKTERISTIK
PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN
A. GAMBARAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Pada bagian ini penulis akan membahas tentang pengertian guru PAK, hakikat
menjadi guru PAK sebagai panggilan dan tanggung jawab, tuntutan bagi guru PAK,
karakteristik guru PAK, karakteristik peserta didik usia 13-18 tahun, latar belakang
kitab 1 Timotius, dan maksud tulisan 1 Timotius 4:12. Pembahasannya sebagai berikut:
1. Pengertian Guru PAK
Guru adalah orang yang mengajar. KBBI mendefinisikan guru sebagai orang
yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.7 Sebagaimana juga
dijelaskan dalam Undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. Dalam dunia pendidikan guru merupakan unsur pokok dalam melaksanakan
kegiatan pendidikan baik pendidikan formal, nonformal dan informal karena mereka
merupakan inisiator pendidikan itu sendiri karena guru memahami tujuan pendidikan,
merencanakan kegiatan pendidikan dan melaksanakan pendidikan, seperti Jamil
Suprihatiningrum juga mengatakan ¡°Orang yang disebut guru adalah orang yang
memiliki kemampuan merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan
7Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, KBBI (jakarta:Balai Pustaka, 2002),377
10
mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan akhirnya dapat mencapai tingkat
kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan¡±.8 B. S. Sidjabat menyatakan:
Guru merupakan unsur penting dalam kegiatan mengajar. (untuk menjelaskan
maksud itu ia mengutip pendapat Brian Hill) Hal itu sangat beralasan karena,
seperti dikemukakan oleh Prof. Brian Hill, gurulah yang membimbing peserta
didiknya untuk belajar mengenal, memahami, dan menghadapi dunia
tempatnya berada. Dunia yang dimaksud itu termasuk dunia ilmu pengetahuan,
dunia iman, dunia karya, dan dunia sosial budaya.9
Dari beberapa pedapat di atas dapat dikatakan bahwa guru merupakan tonggak utama
yang menopang kegiatan dan kualitas pendidikan.
Guru pengajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah profesi mengajar
dibidang pendidikan agama kristen. Guru agama memiliki tanggung jawab yang sama
seperti guru pada umumnya yaitu mengajar bidang mata pelajaran kepada peserta didik,
mencapai tujuan pelajaran dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Guru
pengajar PAK memiliki tuntutan yang lain dari bidang itu sendiri, karena ia tidak hanya
dituntut secara kualitas mengajar yang memadai tetapi juga cara hidup yang berkualitas
yang dituntut oleh kebenaran yang ia ajarkan, Stephen Tong mengatakan ¡°Seorang guru
agama adalah seorang yang di dalam dirinya sendiri memiliki keyakinan, kepercayaan
yang teguh, ibadah yang beres, memiliki sifat moral dan hidup kesucian, kebajikan yang
sesuai dengan agamanya, sehingga ia mengerjakan segala sesuatu dengan bertanggung
jawab untuk kekekalan¡±.10 Gilbert A. Peterson juga menjelaskan ¡°The Crsitian teacher
also has the privilege of investing his life in the lives of others. To recognize that your
words and actions are influencing others brings tremendous responsibility as well as
8Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan Kompetensi
Guru (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2014),24
9B.S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional:Mewujudkan Visi Guru Profesional
(Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 1993), 65
10Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya:Momentum, 2006), 8-9
11
honor.¡±11 Penulis menerjemahkan guru kristen juga memiliki keistimewaaan
menginvestasikan hidupnya dalam kehidupan orang lain. Untuk mengetahui bahwa
perkataan dan tindakan kita mempengaruhi orang lain membawa tanggung jawab besar
serta dihargai. Dapat disimpulkan bahwa guru pengajar PAK adalah guru yang
mengajarkan ajaran kristen kepada peserta didik baik secara teori di kelas dan juga
melalui tindakan-tindakan guru dalam kegidupan sehari-hari yang mencerminkan ajaran
itu sendiri.
2. Dasar Alkitabiah
Alkitab adalah Kitab Suci yaitu yang diwahyukan oleh Allah sendiri melalui
para nabi dan para rasul juga menuliskan tentang guru PAK dalam sejarah manusia baik
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
a. Guru PAK dalam Perjanjian Lama (PL)
Alkitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab merupakan dasar untuk
mengetahui dan membahas PAK dalam sejarah kekristenan karena kitab-kitab PL
menuliskan tentang PAK dan semua komponen yang terlibat dalam kegiatan PAK itu
sendiri. Komponen PAK yang dimaksud adalah semua yang terlibat secara
komprehensif dalam kegiatan PAK baik itu pengajar, yang diajar, metode mengajar dan
sarana mengajar. Melalui pengalaman pendidikan bangsa Israel untuk mengetahui
kehendak Tuhan dapat ditemukan proses pendidikan agama kristen sejak zaman
Perjanjian Lama, sebagaimana dikatakan E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar
Pendidikan agama Kristen berpangkal kepada persekutuan umat Tuhan di
dalam Perjanjian Lama. Jadi, pada hakikatnya dasar-dasarnya sudah terdapat
dalam sejarah suci purbakala. PAK itu mulai dengan terpanggilnya Abraham
menjadi nenek moyang umat pilihan Allah, bahkan PAK berpokok kepada
11Werner C. Graendorf, Introduction To Blibical Christian Education (USA: The Moody Bible
Institute Of Chicago, 1981), 81
12
Allah sendiri, karena Allah yang menjadi pendidik Agung bagi umat-Nya
(Kejadian 12).12
Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa PAK telah ada di dalam sejarah
kehidupan umat Tuhan sebagaimana dituliskan dalam kitab suci PL. Allah sendiri yang
memprakarsai PAK untuk menyatakan kehendakNya kepada umat pilihan.
Pengajaran yang Allah kerjakan dengan bercicara langsung kepada orangorang
yang telah ditentukanNya sendiri supaya menjadi penyambung lidahNya untuk
menyampaikan kehendak dan peraturanNya kepada bangsa Israel. Selain Allah sebagai
pengajar, Dia juga memberikan perintah kepada orang pilihan tersebut untuk menjadi
pengajar bagi umat Israel baik di dalam keluarga, kaum dan bangsanya, E. G.
Homrighausen dan I. H. Enklaar menyatakan
Nenek moyang kaum Israel, Abraham, Ishak dan Yakub menjadi guru bagi
seluruh keluarganya. Sebagai bapak-bapak dari bangsanya, mereka bukan saja
menjadi imam yang merupakan pengantara antara Tuhan dengan umatNya,
tetapi juga menjadi guru yang mengajarkan tentang perbuatan-perbuatan Tuhan
yang mulia itu dengan segala janji Tuhan yang membawa berkat kepada Israel
turun-temurun.13
Dengan demikian sejak zaman itu Allah sudah memakai orang-orang pilihanya
atau para nabi untuk menerima ajaranNya. Dalam proses itu Allah mengajar dengan
berbagai cara dan sekalipun membentuk mereka menjadi representatif Allah untuk
menyampaikan hukum-hukum dan kehendakNya kepada bangsa Israel. Ketika Allah
berfirman kepada Abraham (Kejadian 12:1-9) untuk memberitahukan kepadanya segala
rencanaNya dan berkat dan bangsa besar yang dijanjikan, bermula dari itu ia berangkat
dari Haran dan pergi jauh ke tanah yang diperintahkan Tuhan, maka dalam perjalanan
dan proses yang begitu panjang sebagai pengembara Abrahan dibentuk oleh Tuhan.
12E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung
Mulia, 2008), 1
13Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008), 2
13
Yusuf dan Musa dan orang pilihan lain yang dipilih Tuhan menerima dan mengalami
ajaran serta pembentukan untuk mengajar bangsa Israel.
Allah sebagai guru utama bangsa Israel dan sekaligus sebagai sumber ajaran itu
sendiri, sehingga Dia adalah guru PAK yang autentik dan berkuasa bagi bangsa Israel.
Allah memilih para nabi atau utusan yang dipilihNya sesuai dengan kehendakNya dan
Ia juga menghendaki mereka menjadi guru yang berpadanan dengan ajaranNya tidak
hanya dalam berbicara tetapi juga dalam cara hidup yang benar. Bangsa Israel
menghargai ajaran para nabi karena itu dari Tuhan dan memeliharanya untuk diajarkan
kepada generasi bangsa Israel selanjutnya. Eleanor A. Daniel dan John W. Wade
mengatakan ¡°Teaching in the Old Testament was Primerily designed to equip the
individual and community for faithful living (Deuteronomy 11:19; 20:18)¡±, 14 penulis
menerjemahkan ¡°pengajaran di dalam Perjanjian Lama terutama dirancang untuk
memperlengkapi setiap individu dan kelompok untuk hidup dengan setia¡±. Sesuai
dengan ayat yang dikutip di atas, setia yang dimaksud adalah selalu hidup sesuai dengan
kehendak Tuhan. PAK juga dipercayakan kepada orang tua untuk mengajarkan semua
ketetapan dan karya Tuhan bagi bangsa Israel kepada anak-anaknya (Ulangan 6:1-9),
Eleanor A. Daniel dan John W. Wade mengatakan tentang ayat ini ¡°The family is the
responsible for childhood instruction through teaching and community life¡±. 15
Dapat dikatakan bahwa sejarah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama telah
menuliskan sejarah PAK sekaligus. Allah adalah guru utama bagi bangsa Israel dan Dia
juga memakai para nabi dan utusan pilihan untuk mengajar bangsa itu serta orang tua-
14Eleanor A. Daniel dan John W. Wade, Foundations For Christian Education (United States Of
America:College Press Publising, 2007), 15
15Daniel dan Wade, Foundations For Christian Education (United States Of America:College
Press Publising, 2007), 16
14
orang tua dipakai oleh Tuhan untuk memelihara ajaran itu dan mengajarkannya kepada
anak-anaknya.
b. Guru PAK dalam Perjanjian Baru (PB)
1) Kitab Sinoptis
Dalam kitab Injil juga menuliskan sejarah PAK sejak kedatangan Yesus di
dalam dunia sampai dengan kematianNya dan pekabaran Injil yang dilanjutkan oleh
para rasul. Kitab sinoptik yang dituliskan oleh para rasul telah mencatat pelayanan
Yesus baik pengajaranNya serta perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukanNya. Yesus
adalah Anak Allah yang diutus oleh Allah untuk mengerjakan dan mengajarkan perintah
Bapa-Nya (Yohanes 4:34; 6:38; 12:50), dalam ayat ini dituliskan bahwa Yesus
menerima perintah itu langsung dari Allah serta juga isi pengajaran yang Yesus
sampaikan. Yesus dalam substansiNya adalah sebagai Firman yang telah menjadi
manusia (Yohanes 1:14) ini berarti bahwa Ia adalah Allah yang berinkarnasi dalam rupa
manusia ialah Dia juga menjadi sumber perbuatan dan ajaranNya. Dia juga bersubstansi
sebagai manusia setelah Ia dilahirkan oleh Maria. Ketika Dia memulai pekerjaanNya
orang-orang lebih banyak mengenalNya sebagai seorang pribadi manusia seperti yang
lain, akan tetapi Yesus melakukan pekerjaan dan pengajaranNya secara sempurna
sehingga banyak orang yang mengagumiNya.
Selama pelayanan Yesus di dunia, salah satu tugas yang dilakukanNya ialah
mengajar (Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea, Ia mengjaar dalam rumah-rumah
ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan
kelemahan di antara bangsa itu ¡°Matius 4:23; bdk Mat. 9:35; 11:1; Markus 2:13; 4:1;
Lukas 4:31; 5:3¡±).
15
Yesus telah memberikan teladan sejati kepada orang percaya khususnya
kepada para rasul melalui kehidupanNya sebagai orang yang dipilih dan diutus oleh
Allah untuk mengerjakan perintahNya. Pelayanan Yesus di dalam dunia pada zaman itu
telah memberikan kontribusi besar untuk menyatakan kebenaran dan membungkam
kejahatan dan ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran. Melalui kehidupan dan
ajaran Yesus telah membawa sukacita besar dan kekaguman oleh orang-orang yang
menerima Yesus, E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar menyatakan
Disamping jabatanNya sebagai penebus dan pembebas, Tuhan Yesus juga
menjadi seorang Guru yang Agung. keahlianNya sebagai seorang guru
umumnya diperhatikan dan dipuji oleh orang Yahudi, mereka dengan
sendirinya menyebut diriNya Rabbi. Ini tentu suatu gelar kehormatan, yang
menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh orang sebangsaNya selaku
seorang pengajar yang mahir dalam segala soal ilmu ketuhanan. Sebab Ia
mengajar mereka ¡°sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat
yang biasa mengajar mereka¡± (Matius 7:29).16
Berdasarkan pendapat di atas akan semakin meneguhkan keteladanan yang Dia
berikan sebagai pengajar PAK pada permulaan PB bahwa orang-orang pada saat itu
memberikan gelar kepadaNya sebagai guru seperti guru-guru Yahudi pada zaman itu
bahkan mereka memberikan beberapa perbedaan dari guru-guru pada umumnya.
Mereka menganggap Yesus memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada guru-guru
taurat agama Yahudi melalui pengajaranNya dan totalitas hidupNya (Dan setelah Yesus
mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab
Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat mereka
¡°Matius 7:28-29; bdk Markus 1:22; Lukas 4:15; 4:31-32¡±).
2) Kitab-kitab Para Rasul
Dalam kitab-kitab PB selain dari kitab-kitab sinoptis juga dituliskan dalam
kitab Para rasul ketika mereka memberitakan Injil setelah Yesus naik ke surga.
16Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008), 5
16
Pelayanan para rasul tentu tidak bisa dipisahkan dari pelayanan Yesus karena mereka
adalah murid dari Yesus Sang Guru Agung. Para Rasul yang ditetapkan dan diutus oleh
Yesus sendiri mengajar sesuai perintah dari Sang Guru sekaligus Pengutus Lukas 6:12-
13; Matius 28:19-20). Perintah ini menjadi dasar bagi para rasul untuk memberitakan
Injil dan meneruskan pengajaran seperti yang telah dilakukan Yesus. Para rasul
meneruskan segala sesuatu yang telah Yesus ajarkan kepada orang disegala bangsa.
Untuk melakukan perintah ini para rasul meneladani Yesus sebagai teladan sejati dalam
menuntaskan misi ini, baik dari cara hidup yang benar sebagai pelayan Allah, pekerjaan
yang harus mereka kerjakan dan juga ajaran. Teladan ini telah membentuk para rasul
dan memberikan kontribusi yang besar dalam keberhasilan peyanan pekabaran Injil
mula-mula, J. I. Packer, Merril C. Tenney, dan William White, Jr mengatakan ¡°...Yesus
membentuk kedua belas orang ini menjadi pemimpin-pemimpin yang tangguh dan
saksi-saksi utama tentang iman kristen. Kesuksesan mereka membuktikan kuasa untuk
mengubah yang dimiliki Yesus...(ini membuktikan juga keberhasilan dari keteladanan
dan ajaran yang telah Yesus ajarkan).17
Para Rasul mengerjakan tugas pengajaran itu dengan penuh tanggung jawab
karena mereka tahu begitu penting Injil harus diberitakan dan mengenal siapa yang
mengutus mereka. Pelayanan para rasul sebagai pengajar Firman telah melahirkan
generasi pengajar Firman dan bahkan jemaat mula-mula. Paulus memanggil Timotius
untuk menjadi pengajar Firman. Timotius terus diingatkan oleh Paulus untuk menjadi
pengajar yang dapat menjadi teladan bagi semua orang yang diajar pada saat itu (1
Timotius 4:12), tentu ini merupakan pembentukan kepada Timotius untuk menjadi
pengajar yang utuh tidak hanya ajaran tetapi juga dari karakter yang baik. Rasul Paulus
17J. I. Packer, Merril C. Tenney, dan William White, Jr, diterjemahkan oleh Johan C. Pandelaki
dan Sutrisno, Dunia Perjanjian Baru (Malang:Gandum Mas, 1993), 147
17
memerintahkan Timotius untuk meneruskan ajaran yang telah ia terima sekaligus
mencari dan membentuk guru untuk regenerasi guru selanjutnya (2 Timotius 2:2).
Dapat diketahui bahwa dalam kita-kitab PB telah ada guru PAK dan terus melahirkan
guru PAK untuk generasi selanjutnya.
B. HAKIKAT MENJADI GURU PAK SEBAGAI PANGGILAN DAN
TANGGUNG JAWAB
Hakikat menjadi guru PAK adalah dasar menjadi seorang guru PAK. Untuk
mengetahui hakikat menjadi guru PAK akan dilihat dari perspektif PAK itu sendiri.
Seperti apa yang telah penulis paparkan dalam bab 1 bahwa guru PAK berbeda dari
guru mata pelajaran lain pada umumnya. Guru PAK tidak hanya sebagai profesi dan
sebatas mengajar pengetahuan tetapi menjadi seorang guru PAK ada substansi yang
lebih mendasar mengapa akhirnya orang memutuskan menjadi seorang guru PAK.
1. Panggilan
Guru Pendidikan Agama Kristen adalah juga orang percaya yang telah
ditentukan oleh Allah sendiri dalam kedaulatanNya dan memangggil dia untuk
menggenapi tujuanNya dalam pribadi orang tersebut. Hal ini dapat diketahui di dalam
Alkitab baik dalam PL dapat diketahui bagaimana Allah memanggil para nabi, imam
dan raja untuk menuntun bangsa Israel. Tuhan memanggil Abraham untuk pergi dari
daerahnya ke tempat dimana Tuhan menuntunnya untuk menggenapi rencana Allah bagi
bangsa dan keturunannya, ¡°kejadian 12¡±. Tuhan memanggail Musa untuk menjadi
pemimpin bagi bangsa Israel dan mengajarkan kepada bangsa itu segala ketetapan
Tuhan ¡°Keluaran 2-3¡±. Dan kemudian peristiwa-peristiwa lain ketika Tuhan memanggil
para nabi yang lain. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi,
18
baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar
(Efesus 4:11).
Dalam PB dapat diketahui ketika Yesus memilih dan memanggil para rasul
untuk mengikut Dia dan meneruskan pekerjaanNya setelah kenaikanNya ¡°Lukas 6:12-
16; Yohanes 15:16-17¡±. Ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan sendirilah yang memanggil
setiap orang percaya untuk datang kepadaNya. Perintah Yesus sebelum naik ke surga
dalam Matius 18:19-20 ¡°Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa-bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.¡± Ini adalah perintah bagi guru
PAK yang dipanggil untuk pergi, menjadikan murid, dan mengajarkan kebenaran
Firman Tuhan kepada siapapun.
Ketika seorang guru PAK memutuskan untuk menjadi guru maka pada saat itu
juga ia merespon panggilan Allah atas dirinya untuk mengajar, Harro Van Brummelan
menyebutkan bahwa,
Mendidik adalah sebuah perjalanan , perjalanan Sang Pencipta (Allah) bersama
anda. Allah menyampaikan sesuatu pada anda mengenai tujuan yang
dipercayakanNya lewat anda sebagai guru dan orang tua (yang dapat direspon
melalui salah satu yang saya kutip) mengajarkan segala sesuatu yang
diamanatkan Tuhan lewat panggilan menjadi seorang guru dalam diri anda.18
Dengan demikian dapat diketahui bahwa ketika seseorang mulai mengajar maka, pada
saat itu juga kita merespon panggilan itu meskipun tidak langsung disadari atau
dimengerti secara benar, Gloria Durka mengatakan ¡°it takes a while for us to realize just
how much our work embodies our vision of teaching and our belief about students. We
grow to understand that teaching is a calling that makes claims on our soul (butuh waktu
18Jenny Gichara, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa (Jakarta: PT Gramedia, 2013), 27
19
untuk menyadari begitu banyak pekerjaan kita menunjukkan visi pengajaran kita
kepercayaan kita tentang siswa-siswa. Kita bertumbuh untuk mengerti bahwa mengajar
adalah sebuah panggilan yang membuat pernyataan-pernyataan di dalam jiwa kita)¡±.19
Panggilan Tuhan bagi setiap guru PAK adalah juga berarti bahwa Tuhan
sendiri yang mempersiapkan dan mengajar orang tersebut dalam memenuhi panggilan
untuk mengajar itu, Duane Hooper mengatakan ¡°anyone who is called to christian
ministry, teaching included, will experince a transformation regarding interesteds and
priorities. ... they will be guided there by the Spirit of God (setiap orang yang dipanggil
untuk pelayanan kristen, termasuk pengajaran, akan mengalami sebuah transformasi
sehubungan kepentingan-kepentingan dan prioritas-prioritas. .... mereka akan dipimpin
oleh Roh Allah).¡±20 Dalam proses yang dilewati seseorang ketika Tuhan memanggil dia
untuk menjadi seorang guru disadari atau tidak Tuhan sedang mendidik dan menyatakan
kehendakNya kepadanya. Seperti yang dikatakan Hooper bahwa:
The credible christian teacher is an accademically well prepared christian who
believes his post is by the calling of God in the full context of the christian
worldview. Such a calling is fully implemented only as the christian is willing
to hear and obey the Master.s summons and faithfully step up to the plate for
servide.21
Terjemahan penulis (guru kristen yang kredibel adalah seorang kristen yang
dipersiapkan dengan baik secara akademis yang percaya jabatannya adalah oleh
panggilan Allah dalam konteks yang penuh pandangan kekristenan. Panggilan seperti
ini dilaksanakan sepenuhnya seperti seorang kristen yang mau mendengar dan menaati
panggilan tuan dan dengan setia melangkah dalam pelayanan). Menjadi seorang guru
PAK adalah meresponi panggilan Tuhan. Hal itu menjadi salah satu hakikat bahwa guru
19Gloria Durka, The Teacher¡¯s Calling, A Spirituality For Those Who Teach (United States Of
America: Paulist Press, 2002), 3
20Duane Hooper, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids (The United States Of
America: Xulon Press, 2008), 35
21Hooper, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids, 36
20
PAK menerima panggilan dari Tuhan sehingga dengan berjalannya waktu dan proses
dalam mempersiapkan diri akan semakin diteguhkan olehNya sampai mengerti dan
melaksanakan tugas dari panggilan itu sesuai dengan ajaran yang ditetapkan Tuhan
sendiri.
2. Tanggung Jawab
Menjadi guru PAK tidaklah hanya sebuah profesi untuk memenuhi kebutuhan
hidup tetapi itu merupakan sebuah tanggung jawab guru PAK dalam melaksanan tugas
tersebut. Tanggung jawab menjadi seorang guru PAK tidak hanya diberikan oleh
lembaga terkait atau tuntutan dalam mengerjakan sebuah profesi tetapi lebih dari itu hal
itu merupakan tanggung jawab dari Tuhan sebagai orang percaya terlebih jika telah
diberikan karunia untuk mengajar ¡°Roma 12:6-7 demikianlah kita mempunyai karunia
yang berlainan-lainan menurut kasih karunia yang dianugrahkan kepada kita. Jika
karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani. Jika karunia untuk mengajar,
baiklah kita mengajar.¡± Sebagai guru PAK juga merupakan karunia dari Tuhan secara
khusus. Paulus lebih lagi menegaskan tentang dirinya ketika ia mengajar ¡°1 Korintus
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk
memgahkan diri, sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika aku, jika aku
tidak memberitakan Injil.¡± John M. Nainggolan mengatakan ¡°seorang guru kristen
haruslah memiliki tanggung jawab tinggi terhadap Tuhan, sesama dan dirinya sendiri.
Tanggung jawab haruslah merupakan hal yang penting dalam hidupnya dan
21
dinampakkan secara nyata lewat pengabdiannya sebagai guru.¡±22 Kemudian Stephen
Tong berkata :
Menjadi seorang guru haruslah memberikan suatu beban yang berat di dalam
hatimu. Seorang guru bukanlah pekerjaan main-mainan, menjadi bukanlah hal
permainan atau hal yang boleh dikerjakan secara sembarangan. Sebaliknya
sebagai guru haruslah masuk ke dalam kebenaran dan seluruh tanggung jawab.
Ini sutu hal yang sedemikina serius, karena sedang membawa murid kepada
kebenaran dan menuntut mereka untuk bertanggung jawab dan memberikan
respon yang benar menurut kebenaran itu sendiri.23
Untuk mengetahui tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai guru
merupakan aspek yang penting. Ketika melaksanakan tugas guru dengan tanggung
jawab maka hal itu akan membantu dalam mengefektifkan setiap kegiatan pembelajaran
dan tujuan pembelajaran PAK.
C. TUNTUTAN BAGI GURU PAK
Untuk menjadi seorang guru diperlukan kualifikasi-kualifikasi yang dituntut
oleh pemerintah baik itu tingkat satuan pendidikan yang ditempuh dan juga tuntutan
khusus dalam bidang yang ditekuni. Tuntutan yang dituntut dari guru bermanfaat juga
agar ia dapat mengerjakan tugasnya sesuai yang dibutuhkan. Demikian juga guru PAK
dituntut agar layak menjadi seorang guru dibidang PAK dan mengerjakan tugas dengan
baik.
1. Sudah Dilahirkan Kembali
Dilahirkan kembali adalah salah satu hal yang pokok dalam kekristenan,
karena itu dialami oleh setiap orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamatnya. Dilahirkan kembali tidak berarti secara jasmani tetapi secara rohani,
sebagaimana percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes 3:5 Yesus
22John M. Nainggolan, Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristiani (Bandung: Bina Media
Informasi, 2011), 109
23Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya: Momentum, 2010), 28-29
22
menegaskan bahwa manusia harus dilahirkan kembali terlebih dahulu sebelum ia masuk
ke dalam kerajaan surga. Surbakti menjelaskan tentang ayat tersebut :
Dilahirkan kembali atau lahir dari atas adalah tindakan dari Allah yang
memungkinkan hidup baru yang penuh pengharapan diberikan kepada orang
percaya (1 Petrus 1:3). Dilahirkan kembali berarti menjadi anak-anak Allah
melalui percaya dalam nama Yesus Kristus (Yohanes 1:12). Artinya,
¡°....diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh
keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah¡± (Yohanes 1:13). Lahir baru
berarti benar-benar terjadi pembaruan secara radikal oleh pekerjaan Roh
Kudus, ada suatu perubahan yang baru, suatu kodrat yang baru, suatu asal-usul
yang baru, yang tercermin dalam iman dan kehidupan gereja.24
Tidak terkecuali juga bagi guru PAK bahkan terlebih dahulu dituntut untuk
dilahirkan kembali. Kejadian dilahirkan kembali adalah pekerjaan dari Roh Kudus yang
memampukan kita untuk menerima kebenaran dan akibatnya mengalami perubahan dari
sikap hidup yang lama ke hidup yang baru, ¡°berarti orang yang mengajar sebagai guru
sekolah kristen dan guru sekolah minggu harus adalah orang yang mempunyai jiwa
injili, harus mempunyai pengalaman diperanakkan pula secara pribadi dan mendapakan
hidup yang baru, sebagai ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) di dalam Tuhan. Ini
merupakan hal yang pertama.¡±25 Salah satu tujuan PAK adalah supaya peserta didik
mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan serta perubahan hidup sesuai dengan
kebenaran melalui kelahiran kembali. Untuk mencapai tujuan itu terlebih dahulu
pengajar PAK sudah dilahirkan kembali.
2. Hidup Sesuai Dengan Firman Tuhan
Hidup sesuai dengan Firman Tuhan menyangkut kepribadian yang selalu
mengamalkan ajaran dalam Fiman Tuhan. Guru PAK tidak hanya menunjukkan figur
sebagai guru pengajar yang menguasai bidangnya secara pengetahuan dan siap
menyampaikannya kepada peserta didik, tetapi guru PAK juga menunjukan figur
24E. B. Surbakti, Benarkah Injil Kabar Baik? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 78
25Stephen Tong, Arsitek Jiwa II (Surabaya: Momentum, 2003), 24
23
sebagai pribadi yang menerima ajaran itu sendiri sebagai nilai-nilai kehidupan yang
tertinggi dan mengaplikasikannya dalam semua aspek kehidupan.
Untuk mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam Firman Tuhan kepada peserta
didik dan tentu mendorong mereka untuk menilai betapa pentinggnya ajaran Firman
Tuhan bagi kehidupan mereka melalui pimpinan Roh Kudus tidak hanya secara lisan di
dalam kelas tetapi melalui kehidupan guru PAK itu sendiri yang hidup sesuai dengan
Firman Tuhan.
3. Memiliki Pengetahuan Akan Kebenaran
Telah menjadi tuntutan bagi setiap guru pada umumnya untuk menguasai
pengetahuan pada bidangnya, tetapi guru PAK memiliki penekanan yang lebih dari
tuntutan itu. Guru PAK tidak hanya menguasai secara teori tentang bahan-bahan
pengajaran tetapi juga memiliki pengetahuan secara benar dan lengkap tentang
kebenaran artinya guru PAK tidak serta merta menerima semua pengetahuanpengetahuan
yang diperoleh dari sumber-sumber lain tetapi menyaring setiap
pengetahuan itu berdasarkan Firman Tuhan.
Paulus berdoa untuk jemaat di Kolose supaya mereka menerima segala hikmat
dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna
(Kolose 1:9), berarti bahwa untuk mengetahui kehendak Tuhan harus ada pengetahuan
yang benar tentang kebenaran sehingga tidak sembarangan dan mudah disesatkan.
Nasihat Paulus kepada Timotius juga untuk tetap berpegang teguh pada ajaran yang
telah diterimanya dan menghindari omongan yang kosong, tidak suci dan
perteentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan ¡°1
Timotius 4:12; 6:20).
24
Guru PAK dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang kebenaran sesuai
dengan Firman Tuhan sehingga pengajaran tersampaikan dan peserta didik tidak
disesatkan.
4. Syarat-syarat Bagi Guru PAK yang Baik Menurut Enklaar dan
Homrighausen
a. Seorang guru harus mempunyai pengalaman rohani. Perlu sekali ia
sendiri mengenal Tuhan Yesus. Batinnya harus dijamah dan diterangi
oleh Roh Kudus.
b. Seorang harus mempunyai hasrat sejati untuk menyampaikan Injil
kepada sesamanya manusia. Harus ada dorongan yang kuat untuk
mengantar orang lain kepada Yesus Kristus.
c. Seorang guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang isi
iman Kristen. Ia harus mengenal Alkitab dengan baik. Untuk itu ia
sendiri perlu dididik dan dilatih sebelum ia mengajar orang lain.
d. Seorang guru perlu mengetahui bagaimana iman bertumbuh dalam
batin manusia dan bagimana iman itu berkembang dalam seluruh hidup
orang percaya.
e. Seorang guru harus menunjukkan kesetiaan yang sungguh kepada
gerejanya.
f. Seorang guru harus mempunyai pribadi yang jujur dan tinggi
mutunya.26
26I. H. Enklaar dan E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2011), 165-166
25
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru PAK perlu
mempunyai pengalaman rohani terlebih dahulu dan tujuan PAK terlebih dahulu telah
tercapai dalam diri guru PAK itu sendiri.
D. KARAKTERISTIK GURU PAK
Sebagai guru PAK yang berkarakter akan senantiasa menjunjung tinggi nilainilai
keberanan yang ia ajarakan. Keberanan yang telah dipelajari akan mempengaruhi
setiap kepribadian guru PAK maka, bagi setiap guru PAK yang beriman memiliki
karakter sesuai dengan karakter yang dituntut oleh ajaran PAK yaitu sesuai dengan
kebenaran dalam Injil Kristus. Tujuan PAK dalam membentuk karakter setiap orang
juga berdampak bagi guru PAK artinya bahwa guru PAK terlebih dahulu memiliki
karakter kebenaran sebelum mendidik anak untuk berkarakter sesuai dengan kebenaran.
Karakter guru PAK menjadi ciri tersendiri yang membedakan mereka dengan guru pada
umumnya yang tidak percaya kepada Kristus. Guru PAK yang percaya kepada Kristus
dan ajaran kebenaran yang terkandung di dalamnya akan memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Takut Tuhan
Takut Tuhan adalah karakter yang perlu dimiliki oleh guru PAK, tidak hanya
ditunjukkan secara pribadi dengan Tuhan tetapi hal itu juga berdampak dalam
kehidupan sehari-hari dimanapun berada, yang ditunjukkan melalui perilaku, perkataan,
berpikir dan hidup yang sesuai dengan kebenaran. Karakter takut Tuhan adalah perintah
dari Tuhan sendiri. Perintah itu disampaikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui
Musa dalam kitab Ulangan 6:1-2 ¡°Inilah perintah, yakni ketepan dan peraturan, yang
aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri,
kemana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak
26
cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan
perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.¡± Dalam perintah
tersebut Tuhan menginginkan agar umat Israel takut Dia untuk seumur hidup artinya
bagaimana bangsa Israel setia dalam melakukan segala ketetapan dan perintahNya dan
bagaimana mereka hidup dihadapan Tuhan sebagai Tuhan yang telah menyatakan
diriNya kepada mereka dan yang berkuasa melakukan segala sesuatu.
Ferry Yang mengatakan bahwa takut Tuhan adalah suatu prinsip yang penting.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa dalam Mazmur 111:10 dan Amsal 1:7 takut akan
Tuhan menjadi landasan dari seluruh pengetahuan. Segala macam pengetahuan yang
kita punya tidaklah bisa dicapai dengan baik dan tepat kecuali kita takut akan Tuhan,
karena seluruh pengetahuan diberikan oleh Tuhan.27
Guru PAK sebagai pengajar membutuhkan pengetahuan dan hikmat. Untuk
memperoleh itu maka seorang guru PAK perlu memiliki karakter takut Tuhan sebagai
sumber pengetahuan. Takut Tuhan juga adalah sebagai akibat dari pengetahuan itu
sendiri untuk terus taat dalam melakukan kehendak Tuhan. Karakter takut akan Tuhan
akan mengajarkan juga orang percaya bagaimana harus hidup di hadapan Tuhan dan di
hadapan sesama manusia karena pengenalan dan hubungan yang benar kepada Tuhan.
2. Melayani
Melayani adalah jati diri sejati seorang murid Yesus. Karakter Yesus selama
melaksanakan pekerjaan yang agung dan mulia selama di dunia senantiasa
menunjukkan diriNya sebagai pelayanan baik ketika Yesus bersama-sama dengan orang
banyak Ia mengajar mereka, menyembuhkan segala penyakit dan menyediakan
makanan kepada orang yang mengikutinya, demikian juga ketika Yesus secara khusus
27Ferry Yang, Pendidikan Kristen (Surabaya: Momentum, 2018), 81
27
bersama-sama dengan murid-muridnya, Ia mengajar murid-muridNya untuk menjadi
pelayan bagi sesamanya (Lukas 22:25-27). Begitu juga ketika suatu malam Yesus
bersama-sama dengan murid-muridNya untuk makan bersama, Yesus membasuk kaki
murid-muridNya sebagai teladan bagi mereka untuk melakukannya (Yohanes 13:1-20).
Dalam Markus 10:45 ¡°karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi
banyak orang.¡± Dengan jelas Yesus mengatakan bahwa Ia datang ke dalam sunia untuk
melayani.
Karakter melayani merupakan salah satu wujud ungkapan syukur kepada Allah
sekaligus merupakan tanggung jawab orang percaya. . . . Pelayanan kepada Allah mesti
dilandasi oleh sikap hati yang tulus atau tanpa pamrih.28 Karakter ini sangat signifikan
bagi seorang guru PAK untuk mengajar dengan komitmen untuk mencapai tujuan
pembelajaran itu sendiri, karena dengan karakter ini akan menuntun guru PAK untuk
setia dan memaksimalkan pengajaran. Maka dapat dikatakan bahwa guru PAK tidak
hanya melaksanakan tugasnya sebagai tuntutan profesi tetapi juga karena tuntutan
dalam pelayanan yang Tuhan berikan sehingga guru PAK melihat bahwa pelayanan
untuk mengajar adalah kesempatan yang sangat mulia dan yang patut disyukuri.
3. Mengasihi
Mengasihi adalah merupakan perintah yang utama yang disampaikan oleh
Yesus kepada orang percaya (Matius 22:37-39), hal ini didasarkan dari kasih Allah yang
sejati kepada manusia yang ditunjukkan melalui pelayanan Yesus dalam melaksanakan
karya penebusan bagi umat manusia. Mengasihi berarti sikap menerima orang lain dan
berusaha melakukan yang terbaik untuk kebaikan sesama. Mengasihi akan menjadi
28Ismael Banne Ringgi., Santoso Sri Buwono, dkk, Hidup Besyukur: Pendidikan Agama Kristen
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 51
28
dasar bagi setiap orang percaya untuk melakukan segala sesuatu khususnya dalam
pelayanan. Guru PAK perlu mendasarkan pengajarannya berdasarkan kasih yang
bertolak dari kasih Kristus sendiri, dengan demikian guru akan menghargai setiap
pribadi murid yang diajarkan sebagai orang-orang yang berharga dan perlu dididik
dalam kebenaran. Mary Setiawani dan Stephen Tong mengatakan ¡°Seorang guru yang
mengajar harus didasarkan pada cinta kepada anak didik. Tanpa cinta yang
sesungguhnya kepada mereka yang saudara layani, tidak ada pekerjaan yang diingat
oleh Tuhan.¡±29 Dengan demikian dapat diketahui bahwa karakter mengasihi selain
sebagi dasar pengajaran tetapi itu juga adalah yang berkenan kepada Tuhan. Mary
Setiawani dan Stephen Tong berkata :
Guru yang mengasihi adalah guru yang bersedia mengorbankan waktu,
mengorbankan tenaga, bahkan mengorbankan perasaannya dan harga dirinya
dalam membentuk kerohanian anak didiknya. Kasih yang dimiliki oleh guru
PAK membuat guru memandang anak tidak secara lahiriah, tetapi memandang
anak sebagai jiwa yang berharga yang perlu untuk dibimbing kerohanianya.
Maka guru menerobos hal lahiriah dari anak itu, lalu melihat jiwa yang bernilai
kekal di dalam diri anak tersebut.30
Dapat diketahui begitu pentingnya sikap mengasihi dalam pengajaran guru
PAK. Tentunya hal ini dibutuhkan usaha-usaha dari guru PAK untuk menujukkan kasih
itu kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat melihat dan mengalami kasih dari
setiap tindakan guru dalam pengajarannya. Dengan kasih ini juga dapat menjadi teladan
bagi para peserta didik yang memberikan dampak positif dalam proses pembentukan
mereka untuk menjadi pribadi yang takut Tuhan dan melakukan kehendakNya.
29Mary Setiawani dan Stephen Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen (Surabaya: Momentum,
2008), 66
30Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, 17
29
E. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN
Anak usia 13-18 tahun adalah masa remaja yang mengalami perubahanperubahan,
perkembangan yang dialami mencakup aspek fisik, psikis, dan sosial yang
prinsipnya ketiga aspek perkembangan tersebut mencapai kematangan pada masa
remaja.31 Masa usia ini merupakan masa proses peralihan dari anak-anak menuju
dewasa sehingga pada masa ini perlu bantuan untuk mengawasi pertumbuhan tersebut
karena ini adalah masa produktif untuk mempersiapkan pribadi menuju dewasa
tanggugn jawab sebagai orang dewasa.
Karena kurang memaksimalkan diri pada masa ini tidak sedikit anak
mengalami masalah saat menuju dewasa bahkan gagal dalam mengerjakan tugasnya
sebagai orang dewasa, jadi selain masa ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan
persiapan masa dewasa tetapi masa ini juga dapat menjadi masa datangnya kesulitankesulitan
yang akan dihadapi oleh remaja, Syamsul Bachri Thalib mengutip pendapat
Nuryoto
Pada masa transisi, remaja dalam kondisi tidak stabil. Ada perasaan tidak aman
karena harus mengganti atau mengubah pola tingkah laku anak-anak ke
dewasa. Emosi yang tidak stabil dapat mendatangkan perasaan tidak bahagia
(unhappiness). Munculnya perasaan tidak bahagia dapat disebabkan oleh
kegagalan hubungan heteroseksual, idealisme yang berlebihan, tekanan sosial,
problem penyesuaian, dan ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan
remaja.32
Untuk itu sangat perlu guru untuk mengawasi dan menolong remaja dalam masa ini
demi memaksimalkan perkembangan ke hal-hal yang positif dan mencegal berbagai
kegagalan serta perkembangan ke arah negatif.
31Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2010), 41
32Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, (Jakarta:
Kencana,2010), 44
30
a. Kepribadian Anak Usia 13-18 Tahun
Kepribadian merupakan sifat seseorang yang mencerminkan orang tersebut
secara khusus. Kerpibadian ini terbentuk dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh
semua faktor baik dari dalam diri sendiri dan juga dari luar. Elizabeth B. Hurlock
berkata ¡°Pada awal masa remaja, anak laki-laki dan perempuan sudah menyadari sifatsifat
yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat
teman-teman mereka. mereka juga sadar akan peran kepribadian dalam hubunganhubungan
sosial dan oleh karenanya terdorong untuk memperbaiki kepribadian
mereka.¡±33
Pada masa anak menuju remaja maka kepribadiannya sudah mulai dibentuk
pada masa anak-anak sehingga hal ini menjadi kesulitan bagi anak remaja untuk
menyesuaikan diri pada tuntutan masa remaja, Elizabeth berkata ¡°Ini merupakan tugas
yang sulit dan seringkali tidak mungkin. Pertama, pola kepribadian yang sudah dibentuk
selama masa kanak-kanak sudah mulai stabil dan cenderung menetap sepanjang
hidupnya dengan hanya sedikit perbaikan¡±,34 sehingga ini menjadi tugas guru untuk
menolong para murid untuk sadar dan punya konsep yang benar tentang kepribadian
dan memmbentuk kepribadian ke arah yang benar.
b. Sosial Anak Usia 13-18 Tahun
Perubahan sosial remaja yaitu kegiatan remaja yang memilih untuk menjalin
interaksi sosial di lingkungan yang lebih luas. Syamsul Bachri Thalib mengatakan
Secara umum perkembangan sosial merupakan ekspresi dari kondisi fisik dan
psikis individu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada waktu
mulai merenggangnya ikatan-ikatan keluarga, para remaja juga membina
identifikasi yang lebih besar dengan orang-orang lain dari kelompok umur
yang sama, dan mengembangkan rasa bersatu sebagai suatu generasi. Remaja
33Elizabeth B. Hurlock, dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi
Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1980), 233
34Hurlock, dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi Perkembangan, 234
31
mengorganisasi kultur tertentu dan menjadikannya sebagai ciri khas mereka
sendiri, termasuk misalnya model rambut, pakaian, musik dan semacamnya
yang membedakannya dengan ciri-ciri kelompok usia lainnya.35
Dengan perkembangan ini anak remaja akan semakin mengerti pentingnya
untuk berinteraksi dan ikut berkontribusi dalam kelompok sosial sehingga ia juga
semakin mengerti bahwa ia penting dalam membangun sistem sosial. Ini juga akan
berdampak negatif untuk membangun karakter remaja yang dipengaruhi oleh
lingkungan yang lebih luas, khusunya pada masa ini juga waktu anak dengan keluarga
akan semakin sedikit. Selain orang tua yang diharapkan untuk lebih meningkatkan
pengawasan kepada anak, guru juga dituntut untuk lebih aktif memperhatikan sistem
sosial di sekolah dan juga di luar sekolah.
c. Moral Anak Usia 13-18 Tahun
Moral merupakan kebiasaan yang berlaku dalam setiap kelompok masyarakat
yang dianggap bernilai dan dapat diterima untuk menjadi kebiasaan dalam kelompok
tersebut. Perkembangan moral remaja juga sangat ditentukan oleh lingkungan dimana
dia berada, dapat dikatakan semakin luasnya lingkungan sosial seorang remaja maka dia
akan lebih mengerti prinsip-prinsip moral yang berlaku secara luas. J. Piaget dan L.
Kohlberg dalam buku mengatakan bahwa perkembangan moral seorang anak sejalan
dengan perkembangan aspek kognitifnya. Dengan makin bertambahnya tingkat
pengertian anak, makin banyak pula nilai-nilai moral yang dapat ditangkap dan
dimengerti oleh anak.36
Remaja yang semakin memperluas lingkungan interaksi sosialnya akan
memperngaruhi perkembangan moral remaja tersebut. Jika remaja hidup dalam
lingkungan sosial orang-orang yang bermoral maka dia juga akan hidup sebagai orang
35Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, 58
36Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 66
32
yang bermoral dan sebaliknya jika dia hidup dalam lingkungan orang-orang yang tidak
bermoral maka dia juga akan hidup sebagai orang yang tidak bermoral. Pada masa ini
anak akan berlaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku dalam lingkungan
sosialnya, sehingga pada masa ini diperlukan pengarahan dan pemahaman dari orang
tua, guru dan orang dewasa yang bermoral.
d. Spiritual Anak Usia 13-18 Tahun
Spiritual juga mempengaruhi semua aspek perkembangan yang dialami oleh
remaja, sesuai dengan pandangan Fowler mengatakan bahwa ¡°Iman sebagai sesuatu
yang aktif, dan sebagai suatu kata kerja. Iman lebih merupakan suatu proses menjadi
daripada sesuatu yang diproses seseorang¡±,37 dengan iman yang aktif dan berproses
berarti dapat diamati perkembangannya untuk setiap tahap-tahap. Kemudian Fowler
menuliskan enam tahap perkembangan iman secara umum:
1. Iman intuitive-projektive. Anak-anak kecil yang berusia sampai tujuh tahun
mencerminkan iman yang terlihat jelas dari orang tuanya.
2. Iman mythic-literal. Pada masa akhir kanak-kanak seorang anak biasanya
mempercayai orang tuanya dan tidakpernah yang lain. Ada sebagian orang
dewasa yang tetap berada ditahap kedua ini.
3. Iman synthetic-conventional. Remaja pada masa awal cenderung mengikuti
iman yang dimiliki oleh ¡°kelompok¡± mereka. Iman pada tahap ini mulai
mensintesakan bertambahnya kompleksitas kehidupan. Banyak orang
dewasa yang sangat dipengaruhi oleh teman sebaya berada pada tahap
ketiga ini.
37Robert W. Pazmino, diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan
Kristen (Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, BPK Gunung Mulia, 2012), 297
33
4. Iman individual-reflektive. Pada masa akhir remaja dan awal masa dewasa,
fokus seseorang biasanya pada tanggung jawabnya sebagai seorang dewasa
terhadap komitmen dan kepercayaannya sendiri meragukan,
mempertanyakan, dan menolak asumsi-asumsi tradisional. Ini adalah suatu
periode dimana nilai-nilai individu akan berkembang.
5. Iman conjunctive. Tahap iman yang dewasa jarang ditemukan dalam diri
seseorang yang belum menginjak usia 30 (dan sering kali tidak pernah
dicapai), yang mengintegrasikan posisi-posisi di luar posisinya sendiri, dan
merespons identifikasi yang melampaui ras, kelas sosial atau batasanbatasan
ideologis. Pada tahap kelima ini seorang dewasa mampu
mengintegrasikan posisi-posisi tradisional, keraguan-keraguan dirinya, dan
memandang orang lain sebagai satu keutuhan yang bermakna.
6. Iman universalizing. Jumlah orang pada tahap ini langka sekali karena
sedikit sekali orang yang disebut ¡°raksasa rohani¡± yang mampu mencapai
tahap ini. Iman pada tahap ini bersifat universal dimana seseorang individu
mengidentifikasi dirinya melampaui dirinya dan mengarah kepada Allah
sebagai suatu realitas yang dirindukan.38
Melalui penjelasan dari tahap-tahap di atas dapat dikatakan bahwa iman adalah
suatu realitas yang dialami dan berkembang dalam setiap masa perkembangan usia.
Dalam masa remaja juga mengalami realitas perkembangan iman, maka perlu diketahu
beberapa situasi yang dialami oleh remaja secara spiritual pada masa remaja untuk lebih
mengetahui situasi ini, seperti yang dikatakan oleh Daniel Nuhamara, yaitu:
38 Pazmino, diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan Kristen, 297, 298
34
1. Keraguan dan ketidakpercayaan (Doubting and Disbelief). Sejumlah besar
remaja akan menolak dan sekurang-kurangnya meragukan kepercayaan
agamawi yang telah mereka anut sebelumnya. Salah satu alasannya adalah
dalam usia anak-anak, mereka percaya kepada Tuhan oleh karena orang
tua merekapun percaya kepadaNya, dengan demikian iman yang
dimilikinya adalah warisan. Namun ketika anak memasuki usia remaja,
iman warisan seperti ini tidak lagi dapat diterima begitu saja, sebab adanya
gejolak pikiran rasional yang mulai mempertanyakan dan meragukan
iman. Dengan demikian perlu pembinaan terus menerus dan kegiatan
kerohanian oleh gereja dan juga guru PAK.
2. Masalah iman dalam dunia yang riil. Dalam situasi ini remaja akan
semakin melihat ketidak relevan kepercayaan agama dalam dunia riil
khususnya dalam interaksi sosialnya yang semakin luas, sehingga remaja
merasa malu untuk menunjukkan dirinya sebagai seorang yang beragama
dan ketaatan dalam menjalani kegiatan agamanya. Hal ini lebih sering
terjadi pada lingkungan yang tidak beragama atau yang tidak peduli
tentang agama.
3. Komitmen dan kegagalan. Kebanyakan remaja menganggap gagal atau
imannya merosot ketika dia gagal melakukan kebaikan dalam hidupnya
karena mungkin waktu kecil ia diajarkan untuk tidak melakukan semua hal
yang tidak baik, jika tidak ia berdosa.
4. Idealisme remaja. Remaja akan semakin komitmen untuk melakukan
sesuatu untuk membuat dirinya berarti dan bermanfaat dimana saja.
35
5. Pentingnya model. Para remaja sangat mengagumi setiap yang dianggap
patut diteladani dan sering menjadikannya sebagai idola. Dengan tidak
sadar orang yang diidolakan dijadikan sebagai standar dalam
kepribadiannya.39
Melalui dinamika-dinamika yang dialami pada masa remaja ini sangat
mempengaruhi perkembangan iman, apakah semakin lebih baik atau semakin buruk.
Maka jika hal-hal negatif yang cenderung ditemukan pada masa ini tentu akan
membawa situasi iman yang merosot tetapi sebaliknya jika hal-hal positif yang
cenderung ditemukan oleh remaja tentu akan menolong remaja semakin teguh dalam
iman yang benar. Melalui hal-hal positif misalnya orangtua yang terus mengawasi dan
memperhatikan anaknya, lingkungan yang positif, dan guru yang mengawasi dan
memperhatikan muridnya serta bisa memberikan teladan yang baik.
F. LATAR BELAKANG KITAB 1 TIMOTIUS
Kitab 1 Timoitus ini ditulis oleh Rasul Paulus, dapat dilihat dalam kitab itu
sendiri pada pasal 1 ayat 1. Kitab ini ditunjukkan kepada Timotius sebagai anak rohani
Paulus (1 Timotius 1:2). Mengenai tempat penulisan kitab ini tidak dapat diketahui
persis keberadaan Paulus ketia ia menulis kitab ini. Carson dan Douglas menyatakan
¡°Tidak banyak yang diketahui untuk menentukan secara pasti tempat asal surat ini.
Petunjuk terbaik ialah bahwa surat ini ditulis dari Makedonia. Paulus tidak secara jelas
mengatakan ia berada di provinsi ini ketika menulis suratnya, tetapi ia menyatakan, (aku
telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efessus .1:3.). Tampaknya ini berarti
bahwa Paulus bersama dengan Timotius di Efesus, dari tempat ini ia pergi ke
39Daniel Nuhamara, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Remaja (Bandung: Jurnal Info Media,
2008), 84-91
36
Makedonia, meninggalkan anak rohaninya yang masih muda. Setelah berada di
Makedonia, Paulus menulis untuk mengulangi perintahnya kepada Timotius ketika ia
berangkat.¡±40 Mengenai tahun penulisan kitab ini diperkirakan, dalam The NIV Study
Bible ditulislan ¡°1 Timothy was written sometime after the events of Ac 28 (c. 63-65),
at least eight years after Paul.s three-year stay in Ephesus (Ac 19:8,10; 20:31).¡±41
Berarti kitab ini ditulis setelah Paulus berada di Makedonia dan telah meninggalkan
Timotius di Efesus ¡°Paulus membawa Timotius dalam kunjungannya kepada jemaatjemaat
di Asia Kecil. Selesai perkunjungan ini Paulus meninggalkan Timotius di Efesus
(1:1-3) dengan tugas untuk melanjutkan pembinaan jemaat-jemaat di sana dan pergi ke
Makedonia, dari sana ia menulis kitab 1 Timotius kepada Timotius tahun 63.¡±42
Masalah yang sedang dihadapi jemaat Efesus pada saat itu adalah adanya
ajaran sesat yang dapat menghambat bertumbuhnya Injil diantara jemaat-jemaat (1
Timotius 1:3-11). Ajaran sesat yang sudah berkembang di dalam jemaat tentu ini
menjadi tanggung jawab dan tantangan bagi Timotius untuk terus setia pada
pemberitaan Injil Kristus maka, sebagai bapa rohani Paulus ikut terbeban dalam
menghadapai masalah jemaat dan karena itu ia menasihati dan menguatkan Timotius
melalui suratnya khususnya karena Paulus lagi tidak bersama Timotius.
Penulisan kitab ini tentu Paulus mempunyai tujuan khususnya kepada Timotius
sebagai pemberita Injil kepada jemaat di Efesus pada saat itu, seperti dikatakan oleh R.
Budiman ¡°Surat ini memberikan kesan, bahwa Rasul Paulus sedang menyiapkan
Timotius untuk mengambil alih tugas dari padanya sebagai generasi penerus tradisi dan
40D. A. Carson dan Douglas J. Moo, An Introduction Of The New Testament (Malang: Gandum
Mas, 2016), 668
41The NIV Study Bible (U.S.A.: Zondervan Bible Publishers, 1984),1833
42R. Budiman, Surat-Surat Pastoral I & II Timotius dan Titus (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1997), 1
37
kekayaan gereja.¡±43. selanjutnya Carson dan Douglas menyatakan ¡°Surat pertama
Timotius adalah komunikasi pribadi dengan Timotius, ditulis oleh pembimbingnya guna
memberikan arahan yang diperlukan Timotius untuk menjalankan pelayanan sebagai
pemimpin gereja.¡±44 Dalam mengemban tugas ini Timotius memerlukan nasihat dan
pengajaran yang benar khususnya dalam tantangan-tantangan yang dia temukan dalam
pelayanan. E. M. Blaiklock menyatakan ¡°Salah satu tugas Timotius di Efesus adalah
melawan kegiatan-kegiatan jahat dari orang-orang yang berusaha mempersukar Injil dan
meniadakan kesederhanaan keselamatan Allah bagi rakyat biasa, kemudian mereka
menyesatkan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka ajar dalam bayangbayang
tafsiran Perjanjian Lama yang mistik.¡±45 Dengan demikian tujuan penulisan
Kitab ini selain untuk mempersiapkan Timotius dan mengajarnya untuk memegang
jabatan sebagai pemberita injil, juga untuk menasihati Timotius untuk terus setia dan
bekerja keras memberitakan injil dan terlebih untuk melawan ajaran sesat yang ada di
tengah-tengah jemaat di Efesus.
G. MAKSUD TULISAN 1 TIMOTIUS 4:12
Pada ayat ini Paulus dengan sangat jelas menasihati Tiomtius untuk menjadi
teladan sebagai orang percaya, teguh dalam ajaran Kebenaran Kristus dan sebagai
pemberita Injil khususnya dalam umur yang masih muda. Timotius diperhadapkan
dengan orang-orang yang mengajarkan ajaran sesat dan juga jemaat-jemaat yang
percaya kepada Kristus yang perlu diajar terus menerus akan Kebenaran Injil Kristus
maka, sangat penting Timotius memberikan teladan-teladan untuk menguatkan jemaatjemaat
untuk terus setia pada Kebenaran Injil ditengah-tengah ajaran sesat dan juga
43 Budiman, Surat-Surat Pastoral I & II Timotius dan Titus, 1
44 Carson dan Douglas, An Introduction Of The New Testament, 669
45E. M. Blaiklock, Surat-Surat Penggembalaan (Mslsng: Gandum Mas, 1972), 9
38
meneguhkan kebenaran yang dia ajarkan sendiri. Matthew Henry menyatakan tentang
ayat ini
1. Supaya Timotius hidup dengan segala kesungguhan dan kecermatan diri
sehingga mendatangkan rasa hormat bagi dirinya meskipun ia masih muda,
¡°jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda,
yaitu jangan memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menganggap
rendah kemudaanmu.¡± Kemudaan orang muda tidak akan dianggap rendah
jika ia tidak membuat dirinya sendiri dipandang rendah oleh kesia-siaan
dan kebodohan perbuatan orang muda. Orang-orang muda dapat
berperilaku bagaikan orang yang sudah tua, sehingga karena itu mereka
dapat bermegah jika dianggap rendah.
2. Untuk menegakan ajarannya dengan teladan yang baik. Jadilah teladan
bagi orang-orang percaya, dan seterusnya. Amatilah, orang-orang yang
mengajar melalui ajaran mereka harus mengajar juga melalui kehidupan
mereka, kalau tidak mereka akan meruntuhkan dengan sebelah tangan
sendiri apa yang telah mereka bangun dengan tangan lainnya. Mereka harus
menjadi teladan, baik dalam perkataan maupun dalam tingkah laku mereka.
percakapan mereka harus bersifat mendidik, lingkah laku mereka harus
lurus, harus menjadi teladan di dalam kasih, atau kasih kepada Allah dan
semua orang kudus, menjadi teladan di dalam Roh, yaitu memikirkan halhal
yang rohani dan menyembah di dalam roh. Juga menjadi teladan di
dalam iman, yaitu di dalam pengakuan iman kristen, dan teladan di dalam
kesucian atau kemurnian.46
46Matthew Henry, diterjemahkan oleh Iris Ardaneswari, dkk, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose,1&2
Tesalonika, 1&2 Timotius, Titus, Filemon (Surabaya: Momentum, 2015), 611
39
Demikian juga Carson menyatakn tentang tentang ayat ini ¡°Namun, usia belia
tidak perlu menjadi hambatan, asal perilakunya meyakinkan orang. Di sini Paulus
memberi lima pedoman untuk hidup kristen yang benar. Perkataan adalah penting,
tetapi harus dihubungkan dengan tingkah laku, yaitu perpaduan perkataan dan perbuatan
yang benar. Pada perpaduan sifat lahiriah ini ditambahkan sifat batiniah, yaitu kasih,
kesetiaan, dan kesucian, dan inilah teladan yang lengkap dari hidup kristen yang
benar.¡±47 Usia Timotius yang masih muda membuat dia kurang berani dalam pengajaran
Injil di tengah-tengah ajaran sesat, dan juga untuk mengajar orang-orang yang lebih tua
dari dia. Dengan demikian melalui ayat ini Paulus memberikan nasihat kepada Timotius
teladan-teladan yang benar sebagai orang percaya supaya ia terapkan dalam
kehidupannya dan pengajarannya.
47D. A. Carson, dkk, diterjemahkan oleh A. Munthe, dkk, Tafsiran Alkitab Abad Ke-21 (Jakarta:
YKBK, 2017), 558
40
BAB III
PENGARUH KETELADANAN IMAN GURU PAK TERHADAP
PENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK
USIA 13-18 TAHUN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12
D. PENGERTIAN KETELADANAN IMAN
Dalam bagian ini penulis akan membahas tentang pengertian keteladanan iman
guru PAK dan beberapa tokoh iman dan keteladanannya yang dicatat dalam Alkitab
serta signifikasni keteladanan iman guru tersebut bagi pertumbuhan iman peserta didik.
Teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang
perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya).48 Keteladanan merupakan hal yang dapat
ditiru atau dicontoh untuk kemudian dilakukan oleh orang yang mau meniru.
Keteladanan ada aspek-aspek positif dan juga aspek-aspek negatif, akan tetapi di sini
dibahas tentang keteladanan dalam aspek positif dari guru PAK yang dapat menjadi
teladan dan ditiru oleh peserta didik. Guru yang dapat menjadi teladan merupakan salah
satu cara didikan guru untuk membentuk karakter dan mempengaruhi peserta didik ke
arah yang baik.
Dalam pengajaran kristen diperlukan teladan-teladan sebagai orang percaya
untuk menjadi teladan bagi orang percaya lainnya. Leroy Eims mengatakan ¡°Bukan
hanya orang kristen baru yang memerlukan teladan untuk diikuti. Semua orang kristen
perlu teladan yang terus menerus agar dapat hidup. Itulah sebabnya apa yang dikatakan
Yesus bagi kita. ¡°sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita
untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya
48KBBI V 0.2.1 Beta (21), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI,
2016
41
(1 Petrus 2:21).¡±49 Dengan demikian seorang teladan adalah seorang yang telah
dibentuk dan diajar sehingga menjadi figur regenerasi yang menerapkan cara-cara hidup
yang baik. Rifai mengatakan ¡°keteladanan iman para rasul ditunjukkan melalui sikap
hidup para pemimpin yang mempertahankan iman di tengan aniaya.¡±50 Keteladanan
iman berarti cara hidup orang percaya sesuai dengan nilai-nilai iman dalam segala
situasi kehidupan.
Keteladanan iman adalah kehidupan dari iman yang diterapkan dalam
kehidupan nyata. Guru PAK adalah seorang beriman, karena itu dapat dilihat kehidupan
karena iman dari seorang guru PAK. Untuk mencapai tujuan PAK dalam membentuk
peserta didik untuk beriman kepada Tuhan maka terlebih dahulu diperlukan guru PAK
menjadi teladan iman. Jadi, dalam menjacapi tujuan tersebut tidak hanya melalui
pengajaran di dalam kelas tetapi juga melalui teladan-teladan yang diberikan oleh guru
PAK. Keteladanan iman guru PAK bukan hanya untuk mencapai tujuan PAK itu sendiri
tetapi hal itu juga merupakan bukti bagi setiap orang percaya terlebih dalam memenuhi
panggilan sebagai seorang guru PAK.
Dalam proses belajar keteladanan sangat penting demi pencapaian tujuan
pembelajaran secara lengkap. Peserta didik lebih mudah memahami pemebelajaran dari
keteladanan yang dapat dilihat dan diamatanya karena kegiatan belajar ini telah menjadi
bagian bagi pertumbuhan anak secara terus-menerus. Begitu pula dalam pembelajaran
PAK, guru diperlukan untuk memberikan teladan sesuai dengan ajaran kebenaran itu
sendiri terlebih karena PAK berbicara tentang kehidupan yang lebih baik dan benar. St.
Darmawijaya mengatakan :
49Leroy Eims, diterjemahkan oleh C. Th. Enni Sasanti, 12 Ciri Kepemimpinan Yang Efektif
(Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1981), 51
50Rifai, Superioritas Kristus Dalam Kitab Ibrani (Jakarta: BornWin.s Publishing, 2019)
42
Keteladanan merupakan bagian dalam proses kehidupan bersama. Anak belajar
berbicara dari menirukan. . . . . Dalam kehidupan iman, keteladanan menjadi
penting juga. Kita tidak pernah bisa belajar secara kreaktif tanpa diberikan
contoh lebih dahulu. Maka tidak sia-sia bila Paulus juga menegaskan agar
orang kristen pertama-pertama meneladan Yesus Kristus, sehati dan seperasaan
dengan Dia, lalu juga meneladan para leluhur mereka dalam iman, bagaimana
menereka berjuang mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang meneguhkan.51
Sangat penting diketahui oleh guru PAK signifikansi keteladanan iman dalam
meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik agar pesan ajaran PAK tidak hanya
terkesan sebagai teoretis dan retorika saja tetapi juga ajaran PAK mentransformasi
hidup untuk menjadi pribadi secara utuh dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian
guru PAK menyadari pribadi dan tugasnya sebagai guru secara komprehensif.
Pendidikan Agama Kristen mencakup seluruh tentang kekristenan. Salah satu
hal yang pokok dalam kekristenan adalah iman. Harun Hadiwijono menjelaskan
Di dalam Perjanjian Lama Iman berasal dari kata kerja aman, yang berarti
¡°memegang teguh¡±. Kata ini dapat muncul dalam bentuk yang bermacammacam,
umpamanya dalam arti ¡°memegang teguh kepada janji¡± seseorang,
karena janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya.
Jika diterapkan kepada Tuhan Allah, maka kata iman berarti, bahwa Allah
harus dianggap sebagai Yang Teguh atau Yang Kuat. Orang harus percaya
kepadaNya, berarti bahwa ia harus mengamini bahwa Allah adalah teguh dan
kuat. .... menurut Perjanjian Lama, beriman kepada Allah berarti mengamini,
bukan hanya dengan akalnya, melainkan juga dengan segenap kepribadian dan
cara hidupnya, kepada segala janji Allah yang telah diberikan dengan
perantaraan Firman dan karyaNya ¡°Yesaya 7:9¡±.52
Ketika orang beriman kepada Allah berarti ia percaya kepada Allah bahwa Ia mampu
dan dapat dipercaya atas semua Firman dan janjiNya. Iman bukan berarti karena tidak
ada pilihan maka harus dipercaya tetapi iman meneguhkan pribadi Allah dan
FirmanNya dan melalui itu orang berimanan menaruh kepercayaan kepada Allah.
Daniel C. Arichea dan Howard A. Hatton memberikan beberapa arti iman dalam PB,
yaitu:
51St. Darmawijaya, Seluk Beluk Kitab Suci (Yokyakarta: Kanisius, 2009), 505
52Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007), 17
43
1. Percaya, berserah, dan setia kepada seseorang (biasanya kepada Kristus
atau Allah).
2. Percaya bahwa sesuatu itu benar atau sah.
3. Kumpulan ajaran-ajaran tentang kekristenan.
4. Gerakan atau kegiatan keagamaan (pada dasarnya iman kristen sama
dengan agama kristen).
5. Kebaikan hati yang ditunjukkan oleh orang kristen. Ini adalah salah satu
ciri atau kemampuan yang diterima orang kristen karena percaya kepada
Yesus Kristus.
6. Merasa yakin atau pasti tentang sesuatu.53
Melalui iman Abraham berangkat dari negrinya ke tempat yang ia tidak ketahui
dimana Tuhan menuntunNya ¡°Yakobus 4:1-22¡±, lebih diditekankan lagi pada ayat 21
¡°dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia
janjikan¡±, dengan iman tersebut Abraham bertindak untuk melaksanakan segala apa
yang diperintahkan Tuhan kepadaNya.
Iman kristen mencakup seluruh pernyataan Tuhan tentang diriNya sendiri dan
karya Tuhan di dalam sejarah manusia. Sebagaimana puncak penyataan dan karya
Tuhan untuk menyelamatkan manusia pada saat inkarnasiNya di dalam Yesus Kristus.
Berdasarkan janji yang telah diberikan oleh Yesus ketika ada di dunia bahwa setiap
orang yang percaya kepadanya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal
¡°Yohanes 3:16¡±, berdasarkan ayat ini telah memberikan janji kepada manusia bahwa
barangsiapa yang percaya kepada Yesus akan memperoleh hidup yang kekal. Dalam
Ibrani 11:1 mendefinisikan tentang iman yaitu dasar dari segala sesuatu yang kita
53Daniel C. Arichea dan Howard A. Hatton, diterjemahkan oleh LAI dan Yayasan Karunia Bakti
Budaya Indonesia, Pedoman Penafsiran Alkitab Surat Yudas Dan Surat Petrus Yang Kedua (Jakarta:
LAI), 15
44
harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dapat dikatakan bahwa
berdasarkan ayat ini iman meneguhkan orang percaya kepada objek iman dan terhadap
janjiNya. Kemudian dalam ayat yang lain Yesus menegaskan sebagai akibat dari iman
adalah orang percaya hidup di bawah tuntutan objek iman itu sendiri yaitu Yesus
Kristus ¡°Yohanes 14:12; 14:21¡±. Seterusnya dalam surat Yakobus 2:14-26 menjelaskan
bagaimana orang beriman mengaplikasikan iman yang hidup dalam kehidupan seharihari
yaitu dalam segala tindakan kehidupan.
Iman orang beriman adalah iman yang hidup yang mempengaruhi seluruh
aspek kehidupan sehingga orang lain dapat melihat dan menilai. Thomas H. Groome
mengatakan ¡°Iman kristen adalah kehidupan yang dijalani sebagai respons terhadap
kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. . . . Iman kristen sebagai realitas yang hidup
memiliki tiga dimensi yang esensial: 1) keyakinan, 2) hubungan yang penuh
kepercayaan, 3) kehidupan agape yang hidup.¡±54 Berdasarkan tiga dimensi iman kristen
yang enensial ini, Thomas H. Groome menuliskan tiga kegiatan untuk
mengekspresikannya, yaitu
1. Iman sebagai kegiatan percaya (faith as believing)
Iman kristen selalu adalah pemberian anugrah Allah. Iman kristen timbul
dari iluminasi batiniah yang menentukan seseorang percaya. Oleh anugrah
Allah yang sama dan pengaruh kecerdasan berpikir milik kita sendiri,
kecenderungan untuk percayq diekspresikan dalam kepercayaankepercayan
yang dinyatakan yang yakini dan setujui. Akan tetapi,
deskripsi intelektual itu tidak dapat diterima sebagai deskripsi iman yang
lengkap. Iman kristen sekurang-kurangnya adalah kepercayaan, tetapi
54Thomas H. Groome, diterjemahkan oleh Daniel Stefanus, Christian Religious Education
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 81
45
iman kristen juga harus lebih daripada kepercayaan jika iman kristen
adalah realitas yang hidup.
2. Iman sebagai kegiatan mempercayakan (faith as trusting)
Kata iman dalam bahasa Inggris faith bersal dari kata Latin fidere, yang
berarti mempercayakan. Oleh karena itu menurut asal katanya, beriman
mengandung arti kegiatan mempercayakan. Jika kegiatan iman kristen
percaya (believing) terutama menunjuk pada tindakan kognitif, maka
kegiatan iman kristen mempercayakan (trusting) terutama bersifat afektif.
Kegiatan iman kristen mempercayakan adalah dimensi iman yang
berdasarkan kepercayaan. Dimensi iman kristen yang bersifat
afektif/kepercayaan ini mengambil bentuk hubungan pribadi yang penuh
kepercayaan dengan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus,
dan mempercayakan diekspresikan dalam kesetiaan, kasih dan kelekatan.
Karena Allah adalah setia kita dapat menyerahkan diri kita dengan penuh
kepercayaan.
3. Iman sebagai kegaitan melakukan (faith as doing)
Dalam Injil Matius, Yesus menjelaskan bahwa berseru ¡°Tuhan, Tuhan¡±
tidak cukup untuk masuk ke dalam kerajaan. Kehendak Allah juga harus
dilakukan (Matius 7:21). Iman kristen sebagai respons terhadap kerajaan
Allah dalam Kristus harus mencakup melakukan kehendak Allah. Secara
lebih khusus melakukan kehendak Allah harus diwujudkan dalam
kehidupan agape yang hidup, mengasihi Allah dengan mengasihi sesama
seperti mengasihi diri sendiri.55
55Groome, Christian Religious Education (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 80-91
46
Salah satu syarat dan bukti untuk menjadi seorang guru adalah dapat menjadi
teladan kepada peserta didik secara khusus tetapi juga kepada lingkungan masyarakat
secara luas. Keteladanan iman dapat didapat dilihat dari setiap orang percaya bagimana
mereka bertindak dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak dapat dilakukan secara
sempurna tetapi ada konsep kebenaran yang selalu menonjolkan kebenaran tersebut.
Hanya Yesus sendirilah yang telah menjadi teladan sempurna bagi setiap orang percaya,
seperti yang telah dikatakan Mary Setiawani dan Stephen Tong
Sebagai guru kristen, Yesus Kristus selain menjadi juruselamat dan Tuhan kita,
Ia juga menjadi contoh teladan bagi karakter-karakter disegala zaman, untuk
setiap negara, setiap bangsa dan setiap kebudayaan. Sekalipun kebudayaan
bergejolak terus, teori pendididkan maju terus, tetapi tidak mungkin bisa
menemukan contoh dan teladan guru yang lebih baik daripada Yesus Kristus,
tidak ada orang yang moralnya bisa lebih tinggi dari Yesus Kristus.56
Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi agar mereka terus hidup sesuai dengan
teladan yang diberikan dia dan para rasul yang lain ¡°Filipi 3:17 Saudara-saudara,
ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang
menjadi teladanmu¡±, dalam ayat ini menjelaskan bagaimana Rasul Paulus selalu
memperhatikan cara hidupnya untuk terus menjadi teladan bagi jemaat dan para murid,
sehingga dengan berani ia mengklaim dirinya sebagai orang yang patut diteladani.
Rasul Paulus yang adalah juga sebagai guru mengerti betapa penting orang yang
berimanan untuk tidak hanya mengajar tetapi juga memberikan contoh hidup yang
sudah dibaharui oleh kebenaran itu sendiri demi menguatkan dan meningkatkan
pertumbuhan iman jemaat.
Demikian juga Rasul Paulus menasihati Timotius ¡°Jangan seorang pun
menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang
percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam
56Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen , 66
47
kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1 Timotius 4:12)¡±. Nasihat ini menjelaskan bahwa
sebagai seorang guru PAK yang beriman tidak mengurangi tanggung jawabnya untuk
menjadi seorang guru teladan dalam situasi apapun, akan tetapi terus memberikan
teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kebenaran.
Iman merupakan dasar perbuatan bagi setiap orang percaya supaya berkenan
kepada Allah ¡°tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum,
karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak
berdasarkan iman, adalah dosa (Roma 14:23).¡± Maka ini merupakan tugas guru PAK
untuk terus memperhatikan substansi semua kegiatan yang dikerjakannya sebagai guru.
Keteladanan iman yang dilakukan oleh guru PAK bahkan setiap orang percaya yang
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, digolongkan dalam 2 bagian yaitu:
Pertama, melakukan segala sesuatu sesuai dengan tuntutan iman dalam kebenaran.
Kedua, melakukan segala sesuatu dengan iman bahwa hal itu akan berhasil dan untuk
kemuliaan Tuhan.
Keteladanan iman merupakan ekpresi dari iman yang dapat diterapakan dan
dapat dilihat oleh orang lain sehingga hal itu dapat mempengaruhi orang percaya
lainnya, dengan kata lain keteladanan iman juga berbicara tentang spiritualitas yang
orang percaya di dalam Yesus Kristus. Seperti dikatakan Enklaar dan Homrighausen
¡°Guru harus pula menjadi seorang peoman dan pemimpin. Ia tak boleh memimpin
muridnya masuk ke dalam kepercayaan kristen dengan paksaan, melainkan ia harus
memimpin mereka dengan halus dan lemah lembut kepada juruselamat dunia. Sebab itu
hendaklah ia menjadi teladan yang menarik orang kepada Kristus, hendaklah ia
mencerminkan Roh Kristus dalam seluruh pribadinya.¡±57 Dengan demikian sangat
57I. H. Enklaar dan E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2011) 164
48
penting penting keteladanan guru PAK dalam menuntun peserta didik bertumbuh di
dalam Kristus. Spritualitas merupakan dasar yang perlu bertumbuh dalam diri guru atau
jajaran pendidik di sekolah terlebih bagi guru PAK karena hal itu sangat berpengaruh
dalam kinerja guru dalam pengajaran PAK yaitu bagaimana guru PAK mengajar yang
menyangkut segala aspek mengajarnya, baik motivasi mengajar, sikap mengajar, model
mengajar dan bahan ajar. Sidjabat mengatakan ¡°Kualitas spiritualitas guru juga akan
terpancar dalam keseluruhan kinerjanya. Mutu kerohanian itu akan selalu tampak dalam
relasi-relasi serta perilaku sosial dan kulturnya yang tidak bisa disembunyikan, sebab
dinamika hidup manusia selalu bersifat inside-out.¡±58 Guru PAK akan terus-menerus
memberikan pengaruh kepada kehidupan peserta didik, oleh karena itu perlu dan terus
berupaya bertumbuh dalam kerohanian yang berakar dan bersumber kepada pribadi
Yesus Kristus dan FirmanNya dan menerapkannya dalam teladan-teladan yang
berdampak pada pertumbuhan iman peserta didik.
E. TELADAN-TELADAN IMAN DARI GURU PAK BERDASARKAN
1 TIMOTIUS 4:12
Tugas seorang guru PAK selain mengajar ia juga dituntut untuk memberikan
teladan-teladan yang baik tentang ajaran itu karena itu sangat berpengaruh bagi
pertumbuhan iman peserta didik dalam Injil Kristus yang diajarkan oleh guru PAK.
John M. Nainggolan menyatakan
Sehubungan dengan peran guru agama kristen harus mengajar kebenaran
Kristus dan kehidupan kristen, maka ia harus menghayatinya dalam
kehidupannya sendiri. Ia harus memberikan teladan bagi mereka yang
dibinanya. Supaya dapat menolong orang hidup dalam disiplin kehidupan
kristen, guru itu sendiri harus mempraktekkannya. . . . Ia berkomunikasi
dengan orang lain dengan perkataannya, sikapnya dan perbuatannya, apa yang
dikatakannya dan bagaimana ia mengatakannya, apa yang dilakukannya dan
bagaimana ia melakukanny. Ia harus belajar mengatakan yang benar dengan
58Binsen S. Sidjabat, Pendidikan Kristen Konteks Sekolah (Bandung: Kalam Hidup, 2018), 33
49
cara yang benar dan pada waktu yang tepat. Ia harus belajar bagaimana
melakukan yang benar dalam cara yang benar dan pada waktu yang tepat.59
Melalui penerapan teladan yang dilakukan guru PAK juga akan menunjukkan
kualitas kehidupannya dalam ajaran PAK itu sendiri yaitu kehidupan kerohaniannya
dengan Tuhan. Pada bagian ini akan dibahas lima teladan iman guru PAK berdasarkan 1
Timotius 4:12, yaitu: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian.
1. Perkataan
Perkataan adalah media utama bagi setiap guru untuk mengajar maka,
perkataan memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan mengajar. Jika seorang guru
mampu menyampaikan bahan ajar dalam pertakataan yang baik dan sistematis maka
peserta didik akan cepat dan mudah memahami bahan ajar, sebaliknya jika guru kurang
mampu menyampaikan bahan ajar dalam perkataan yang baik dan sistematis maka,
peserta didik akan kesulitan dalam memahami bahan ajar.
Akan tetapi perkataan dalam hal ini adalah berbicara tentang karakter guru
dalam perkataannya yaitu penyampaian ajaran yang berkualitas dan maksud setiap katakata
yang diucapkannya bermaanfaat bagi setiap orang yang mendengarnya. Karakter
akan nampak juga melalui perkataan yang kita ucapkan, maka sebagai seorang guru
yang berkualitas juga dituntut untuk memberikan teladan dalam perkataannya yaitu
yang sifatnya membangun, memotivasi dan mendidik peserta didik. Bagaimana seorang
guru menanggapi segala situasi, masalah pribadi dan masalah di luar dirinya itu akan
kelihatan ketika dia berbicara, dan tentunya diharapkan guru lebih menanggapi secara
positif segala situasi sehingga ketika menghadapi masalah dia masih dapat berkata
dengan baik. Dengan demikian ketika guru mendapatkan masalah di dalam kelas dia
59John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Generasi Info Media, 2007), 6
50
mampu mengontrol kata-katanya sehingga diselesaikan dengan kepala dingin dan jika
itu masalah peserta didik maka guru masih dapat memotivasi dan mendorong peserta
didik untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Demikian juga dituntut bagi guru PAK untuk memberikan teladan dalam
perkataannya seperti nasihat Paulus kepada Timotius pada ayat ini meskipun dia masih
muda dan mungkin kurang berpengalaman dalam memimpin jemaat akan tetapi hal itu
tidak menjadi penghambat bagi Timotius sebagai pengajar kebenaran untuk
memberikan teladan dalam perkataanya bagi orang lain bahkan orang yang lebih tua
darinya. Sebagai guru pengajar PAK maka dituntut untuk berkata-kata sebagai guru
PAK dan setia untuk memperkatakan kebenaran Injil dalam pengajaran hal ini
dikarenakan ajaran PAK adalah berbicara tentang Tuhan dan tentang kehidupan
manusia yaitu peserta didik itu sendiri, seperti dikatakan oleh Sidjabat ¡°Ketika
mengajar, guru harus menyatakan kebenaran. Dalam hal itu, pengetahuan yang
diajarkan harus benar-benar kebenaran, bukan dusta, kebohongan atau praduga.
Pengetahuan yang benar membawa orang percaya kepada Allah pencipta dan sumber
kebenaran, bukan meragukan apalagi menjauhinya.¡±60 Untuk itu guru PAK perlu
berhati-hati dalam pengajarannya, jika ia mengajar dengan salah maka akan
menghambat peserta didik tentang pengenalan yang benar akan Allah dan tentu akan
menghambat juga petumbuhan iman peserta didik. Perkataan guru PAK akan
mencerminkan kedalaman pengetahuan guru tentang kebenaran dan juga tentang
kualitas iman serta hidup yang terus dibaharui oleh Injil keberanan Kristus, sehingga
melalui teladan guru dalam perkataan maka peserta didik akan melihat pribadi yang
berkualitas sesuai dengan Injil Kristus.
60B. S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional (Bandung: Kalam Hidup, 1993), 128
51
Di dalam perkataan Yakobus untuk tidak banyak orang yang mau menjadi guru
(Yakobus 1:1), dapat diketahui bahwa salah satu maksud nasihat tersebut yaitu supaya
guru lebih berhati-hati dalam berucap karena guru merupakan tugas yang banyak
berkata-kata. Jika guru sembarangan berkata dalam pengajaran maka akan menghambat
pertumbuhan orang yang mendengar bahkan menyesatkan orang (Efesus 4:29; 5:4),
tetapi sebaliknya jika guru terus meperkatakan kebenaran maka akan membangun orang
yang mendengar. Maka, hendaklah guru PAK terus memperkatakan kebenaran dan
perkataan yang memberkati dengan demikian akan membangun pertumbuhan peserta
didik dalam pengajaran PAK dan hidup yang berkenan kepada Tuhan.
2. Tingkah Laku
Tingkah laku merupakan tindakan orang dalam kehidupan sehari-hari, melalui
tingkah laku yang dimiliki seseorang maka orang akan menilai kepribadian kita.
Tingkah laku merupakan ciri khas setiap orang untuk menunjukkan dirinya, ada tingkah
laku yang baik dan ada tingkah laku yang tidak baik maka tentu yang diharapkan adalah
supaya setiap orang memiliki tingkah laku yang baik dan dapat menjadi teladan bagi
orang lain.
Nasihat Paulus kepada Timotius untuk menjadi teladan dalam tingkah laku
merupakan pedoman bagu guru PAK, meskipun Timotius masih muda maka itu tidak
berarti bahwa ia bertingkah laku seperti anak muda dan tidak punya pendirian,
keberadaannya ditengah-tengah orang yang lebih dewasa dari dia tidak berarti bahwa
dia menjadi minder dan tidak berani untuk bertingkah laku sebagai pengajar dan
menegur kesalahan di dalam jemaat, akan tetapi Paulus menasihatkan supaya dia
bertingkah laku sebagaimana seharusnya seorang pengajar serta teladan dalam tingkah
lakunya sesuai dengan kebenaran yang diajarkannya, dengan demikian orang lain
52
melihat Timotius sebagai sosok pengajar keberanan dan sebagai teladan dalam
memimpin jemaat kepada Injil Kristus.
Demikian juga guru PAK supaya bertingkah laku sebagai pengajar kebenaran.
Guru tidak hanya mempersiapkan bahan ajar dan siap untuk mengajarkan kepada
peserta didik tetapi ia terlebih mengajar dirinya sendiri sesuai dengan tujuan atau target
ajaran tersebut, dengan kata lain guru harus perperilaku sejalan dengan apa yang ia
ajarkan. Demikian juga guru PAK agar hidup sesuai dengan ajaran itu sendiri
sebagaimana keteladanan Yesus yang telah dilakukanNya, yaitu Dia hidup sesuai
dengan apa yang Ia ajarkan, J. M. Price mengatakan ¡°Syarat terpenting bagi seorang
guru adalah kepribadiaanya sendiri, sebuah teladan lebih berharga daripada seratus kata
nasehat. Perbuatan seseorang lebih berpengaruh daripada perkataannya¡±.61 Dengan
demikian untuk mencapai tujuan pembelajaran secara tepat, maka lebih efektif jika
disertai dengan teladan dari guru yang mengajar. Sebaliknya jika guru PAK mengajar
dengan hebat dan menguasai bahan ajar tetapi tidak disertai dengan teladan dari guru
atau tidak bertindak sesuai dengan ajarannya maka tujuan pengajaran kurang efektif
atau tidak berhasil dengan baik. Demikian dikatakan oleh Kure dan Plueddemman,
Jika saudara ingin menjadi teladan yang baik, saudara harus melakukan hal-hal
yang saudara ajarkan kepada orang lain. Seorang guru mengajarkan kepada
murid-muridnya bahwa mereka harus mengasihi musuh-musuh mereka, jika
guru itu menjadi teladan yang baik, maka ia harus mengasihi musuhmusuhnya.
Seorang guru tidak dapat menjadi teladan yang baik, bila ia tidak
melakukan hal-hal yang diajarkan.62
Artinya keberhasilan pembelajaran PAK tidak diukur dari penguasaan bahan
ajar dan menyampaikannya secara tuntas tetapi melalui tindakan-tindakan nyata yang
dilakukan oleh guru PAK sesuai dengan apa yang diajarkannya sehingga peserta didik
61J. M. Price, Yesus Guru Agung (Jakarta: LBB, 1997), 5
62S. Kure dan J. Plueddemman, Mengajar Dengan Berhasil (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
1997), 83
53
tidak hanya mendengarkan teori yang banyak tetapi juga melihat teladan guru PAK
yang menghargai ajaran itu sendiri dan melakukannya.
3. Kasih
Mengajar adalah tugas bagi setiap guru untuk menyampaikan pelajaran kepada
peserta didik. Guru PAK yang baik tidak hanya bertindak sebagai penyampai
pengetahuan yang sedang mengerjakan tugasnya tatapi guru PAK mengajar dengan
kasih yang benar sesuai dengan tuntutan ajaran dalam PAK itu sendiri. Paulus Lilik
Kristianto mengatakan ¡°seorang pengajar PAK harus dapat memperlihatkan kasih
kristen kepada para murid yang diajarnya. Rasul Yohanes mengingatkan perintah
Kristus (. . . inilah perintahNya itu, supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus,
AnakNya, dan supaya kita saling mangsihi sesuai dengan perintah yang diberikan
Kristus kepada kita .1 Yohanes 3:23.).¡±63 Kasih merupakan karakter yang sudah
melekat bagi setiap orang percaya karena ini merupakan hukum yang utama untuk
menjalani kehidupan sehari-hari ¡°Jawab Yesus kepadanya: kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37-
39).¡± Demikian Paulus menasihati jemaat di Efesus ¡°Dan hiduplah di dalam kasih,
sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya
untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Tuhan (Ef. 5:2).¡±
Kasih merupakan prinsip utama orang percaya dalam bertindak, demikian juga
guru PAK dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar dengan kasih tidak hanya
ditunjukkan di dalam kelas untuk kepentingan pengajaran tetapi kasih senantiasa
63Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen (Yokyakarta: Andi,
2008), 22
54
diterapkan dimana saja sebagai kehendak Tuhan bagi orang beriman. Kasih yang
ditunjukkan dalam mengajar adalah kasih dari Tuhan untuk juga ditunjukkan kepada
peserta didik supaya mereka melihat kasih Tuhan melalui tindakan guru. Mengajar
dengan kasih dapat ditunjukkan guru melalui berbagai tindakan, misalnya melalukan
pendekatan kepada peserta didik sebagai orang tua kepada anaknya, sebagai guru yang
baik kepada muridnya, sebagai saudara dan teman yang mengasihi mereka untuk
mengetahui mereka secara pribadi, guru juga menerima peserta didik apapun situasinya
dan selalu siap membantu mereka saat mereka butuh, serta mengajar mereka dengan
lemah lembut yang dapat diterima oleh mereka. Dengan tindakan-tindakan tersebut
peserta didik merasa dikasihi sehingga mereka dengan sangat terbuka menerima guru
dan pelajaran. John Powel berkata dalam buku Andar Ismail:
Hanya kalau anak itu dicintai, ia dapat menyadari bahwa ia pantas dicintai. Dan
hanya bila ia benar-benar yakin bahwa ia pantas dicintai, ia akan merasakan
keramahan dan cinta dari orang-orang lain selama hidupnya. Dalam suasana
harapan an keyakinan inilah orang dapat membuka diri kepada orang lain
dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang, memberanikan diri untuk
mencintai dan dicintai.64
Melalui tindakan kasih yang diberikan guru peserta didik akan terbiasa dalam
lingkungan yang penuh kasih, sehingga hal itu dapat ditiru oleh peserta didik dan
membentuk karakter mereka untuk mengasihi.
4. Kesetiaan
Kesetiaan merupakan sikap seseorang yang teguh pada komitmen dan bertahan
dalam segala situasi demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keteladanan Timotius
dalam kesetiaan, Blaiklock menyatakan itu merupakan keteguhan dan ketetapan
Timotius dalam memegang keyakinan.65 Hal ini berarti bahwa Timotius berjuang untuk
64Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 143
65E. M. Blaik Lock, Surat-Surat Penggembalaan (Malang: Gandum Mas, 1972), 45
55
terus memberitakan Injil Kristus dan melawan segala ajaran sesat yang sudah masuk di
dalam jemaat tanpa kompromi dari segala bentuk pengajaran yang menyimpang dari
kebenaran. Kesetiaan Timotius ditunjukkan melalui kegigihannya dalam memberitakan
Injil dan terus mengutamakan Kristus dalam pengajarannya. Paulus juga menuliskan
bagaimana kesetiaan Timotius untuk membantunya dalam pelayanan (Filipi 2:22).
Tentunya kesetiaan Yesus yang merupakan teladan bagi setiap orang percaya dan guru
PAK yang telah setia mengerjakan tugasNya sampai akhir bahkan sampai mati di atas
kayu salib (Filipi 2:8).
Guru PAK juga dituntut untuk setia dalam berbagai aspek tugas panggilannya
sebagai guru. Dalam 2 Timotius 4:7 Fery Yang menyatakan ¡°Sampai tetes darah
terakhir Paulus tetap menjaga ajaran yang benar yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Paulus menjaganya dengan seluruh hidupnya, bahkan sampai perjuangannya yang
terkahir, karena ajaran yang benar itu adalah harta yang tak ternilai harganya.¡±66 Paulus
menulis kepada Timotius bahwa ia telah mengakhiri pertandingan yaitu panggilan dari
Tuhan untuk memberitakan Injil dan juga perjuangan hidupnya untuk terus berkenan
kepada Tuhan. Ini tentu merupakan dorongan kepada Timotius untuk mengikuti jejak
perjuangan Paulus untuk setia pada panggilannya dan kehidupannya. Kesetiaan juga
adalah prinsip bagi setiap orang bercaya untuk teguh dalam iman kepada Yesus Kristus,
melalui tantangan iman yang ada maka orang percaya terus mengaku dan hidup menurut
kebenaran. Demikian juga kesetiaan guru PAK menunjukkan kesetiaannya melalui
kehidupan dan prinsip pengajarannya sesuai dengan kebenaran. Kesetiaan guru PAK
tentu didasarasi oleh hakikat guru PAK itu sendiri yaitu sebagai panggilan dari Tuhan
66Ferry Yang, Pendidikan Kristen (Surabaya: Momentum, 2018), 265
56
dan merupakan tanggung jawab di hadapan Allah untuk menjalankan perintah agung
Yesus dalam pemberitaan FirmanNya.
Demikian pada masa ini dimana tantangan yang ada melalui pengajaran yang
menyimpang dari kebenaran Injil, beralih fokus dalam pengajaran yang tidak lagi
mengutamakan Kristus dan berbagai kamajuan zaman yang berdampak terhadap
hilangnya nilai kebenaran Injil Kristus di dalam kehidupan orang percaya maka, guru
PAK perlu setia pada kebenaran Injil Kristus melalui kehidupan dan pengajarannya, ia
terus berjuang meproklamasikan keutamaan Injil Kristus bagi kehidupan orang percaya
dan setia pada panggilannya sebagai guru PAK.
5. Kesucian
Kesucian adalah menjaga diri agar tidak tercemar oleh dosa. Alkitab berulangulang
memerintah agar setiap orang percaya menjaga kesuciannya dengan tidak
mengikuti keinginan daging dan segala kecemaran dunia (Roma 12:2; 1 Yohanes 2:15-
16). Hidup dalam kesucian membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang telah
menerima anugerah keselamatan karena itulah yang berkenan kepada Tuhan (Roma 8:6-
11). Dengan demikian kesucian merupakan hal yang diperjuangkan setiap saat untuk
menjaga nilai-nilai kebenaran dalam praktek kehidupan nyata.
Demikian juga guru PAK menjaga kesucian pengajaran dan hidupnya supaya
berkenan kepada Allah dan menjadi teladan bagi peserta didik. Guru PAK menjauhkan
diri dari segala keinginan daging (Galatia 5:19-21) tetapi hidup oleh Roh dan
menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Karena Allah adalah Suci dan segala
ajaran dan perintahnya adalah suci maka orang percaya juga dituntut supaya hidup suci
sesuai dengan kebenaran (1 Petrus 1:15-16). Kecusian dapat dilihat melalui praktik
hidup setiap hari, apa yang kita lakukan dan bagimana kita melakukannya, dan juga
57
kesuciaan dapat merupakan hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain yaitu
mengenai motivasi, nilai-nilai hidup dan kedalaman hubungan dengan Allah. Keduadua
hal ini dituntut bagi orang percaya maka, sebagai guru PAK diharapkan memiliki
hidup yang suci yaitu memahmi panggilannya dan memiliki motivasi yang benar dalam
menjalankan tugasnya sebagai guru, dan juga praktik-praktik yang nampak dalam
pengajarannya yaitu perkataanya sesuai dengan kebenaran yang menolong peserta didik
dalam pengenalan akan Allah, sikap guru PAK saat mengajar yang mempraktikan nilainilai
kebenaran dan juga cara mengajar yang benar.
F. PERTUMBUHAN IMAN PESERTA DIDIK USIA 13-18 TAHUN
Pertumbuhan yang dialami oleh anak usia 13-18 tahun tidak hanya secara fisik
dan mental tetapi mereka juga mengalami pertumbuhan iman maka, pada bagian ini
akan dibahas mengenai proses pertumbuhan iman peserta didik, faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan iman peserta didik dan gambaran pertumbuhan iman yang
dipengaruhi oleh keteladanan iman dari guru PAK, di bawah ini pembahasannya:
1. Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Remaja
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan perubahan, dengan terjadinya
perubahan maka akan mempengaruhi petumbuhan iman remaja. Yudrik Jahja
menuliskan beberapa perubahan yang terjadi pada masa remaja, yaitu:
a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal
dikenal sebagai masa storm & stres. Peningkatan emosional ini merupakan
hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.
Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa
berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa
ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya
mereka diharapkan lagi untuk tidak bertingkah seperti anak-anak, mereka
harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab.
b. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai dengan kematangan
seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan
58
diri dan kemampuan mereka sendiri dan perubahan ini juga sangat
berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan
orang lain. Hal ini dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar
pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan
ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting.
d. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kankkanak
menjadi tidak penting karena telah mendekati dewasa.
e. Kebanyakan remaja bersikat ambivalen dalam menghadapi perubahan yang
terjadi. Disatu sisi mereka menghendaki kebebasan, tetapi disisi lain
mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini, serta
meragukan kemampuan mereka sendiri dalam memikul tanggung jawab
ini.67
Melalui perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja akan
mempengaruhi situasi dan pertumbuhan imannya. Dengan demikian diperlukan
pengawan dan pengarahan secara terus-menerus dari orang yang telah dewasa atau dari
orang yang berwenang seprti orang tua dan guru PAK dan orang yang memiliki rohani
yang baik.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Iman Peserta
Didik
c. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor dari dalam pribadi anak itu sendiri tanpa
dipengaruhi oleh faktor dari luar. Karakter anak yang telah dibentuk dari kecil akan
terbawa-bawa sampai pada masa remaja, hal ini sangat mempengaruhi sikapnya untuk
menanggapi setiap masalah-masalah pada masa remaja.
Masa ini merupakan masa pertumbuhan yang sangat progresif baik fisik dan
juga aspek nonfisik sehingga masa ini anak dapat berubah konsep dalam menilai
sesuatu. Pada masa remaja anak akan menemukan banyak hal yang baru karena
lingkungan sosialnya yang semakin luas seperti budaya masyarakat luas dan juga
karakter orang yang berbeda-beda.
67Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), 235-236
59
Pada masa ini anak remaja cenderung mau memecahkan masalah sendiri
sekalipun masalah yang sangat sulit yang mungkin tidak dapat diatasi olehnya, tentang
situasi ini Hurlock mengatakan ¡°Pertama, sepanjang masa kanak-kanak masalah anakanak
sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga sebagian remaja
tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena masa remaja merasa diri
sendiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang
tua dan guru-guru.¡±68 Perubahan yang terjadi dari dalam diri sendiri akan
mempengaruhi remaja dalam menanggapi, menerima dan mengetahui lebih tentang
kepercayaanya selama ini, respon remaja akan hal ini terlihat dari keterlibatannya dalam
kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani.
d. Faktor Eksternal
1) Keluarga
Keluarga merupakan tempat yang sangat penting bagi setiap remaja, sekalipun
dalam perkembangan dan perubahan yang dialaminya yang membuat dia semakin
mengurangi waktu bersama keluarga. Di dalam keluarga remaja menemukan orangorang
yang sangat ia kenal dan dekat dengannya sehingga dalam masalah remaja
keluarga cenderung yang pertama menolong dia dalam menyelesaikannya. Keluarga
tetap sangat berpengaruhi untuk berkontribusi bagi perkembangan remaja, dimana orang
tua merupakan figur yang mereka hargai mulai dari mulanya sehingga mereka akan
lebih dapat menerima nasihat dan saran yang disampaikan oleh orang tua, Mohammad
Ali dan Mohammad Asori ¡°Menyebutnya sebagai lingkungan utama yangat penting
dalam kaitanya dengan penyesuaian diri remaja itu sendiri.¡±69
68Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Edisi Kelima (Jakarta: Erlangga, 1997), 208
69Mohammad Ali dan Mohammad Assrori, Psikologi Remaja (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 185
60
Keluarga kristen sangat berpengaruh dalam pertumbuhan iman remaja,
¡°Keluarga kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu dan anak-anak yang telah
percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara
pribadi.¡±70 Keluarga kristen yang hidup tentu lebih memperhatikan pertumbuhan anak
remaja karena masa remaja dapat menjadi ancaman bagi pertumbuhan remaja.
Tanggung jawab keluarga kristen yaitu dengan mendorong anak remaja untuk
terus meneruh mengikuti kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani dan keluarga juga terus
mengajar kebenaran dan mengingatkan remaja akan hal-hal yang tidak baik pada masa
remaja. Paul mengatakan ¡°Tugas menjadi orang tua bagi anak-anak remaja. Apabila kita
ingin mencapai tujuan Allah bagi kita sebagai orang tua para remaja, kita membutuhkan
pemahaman yang tepat tentang kesadaran yang akan digunakanNya, yaitu keluarga.¡±71
Dengan demikian keluarga perlu mengerti pengajaran-pengajaran Alkitab tentang
kehendak Allah bagi keluarga dan tugasnya dalam membimbing anak-anaknya, supaya
orang tua menjadi lingkungan positif yang dapat menolong remaja untuk pertumbuhan
imannya.
2) Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat sangat berdampak bagi pertumbuhan remaja karena
remaja semakin memperluas lingkungan sosialnya dan terlibat dalam budaya
lingkungan dimana dia berada. Lingkungan yang positif yaitu lingkungan yang
masyarakatnya sudah berpendidikan dan tidak ada perilaku-perilaku yang negatif maka
akan berdampat positif pada pertumbuhan remaja, akan tetapi sebaliknya jika
lingkungan masyarakat yang negatif yaitu kurangnya orang-orang yang berpendidikan
70Sariaman Sitanggang, PAK Kelas IX SMP (Jakarta: Egkrateria Putra Jaya, 2006), 20
71Paul David Tripp, Masa Penuh Kesempatan (Surabaya: Momentum, 2017), 53
61
dan sering terjadi perilaku-perilaku negatif dari individu atau kelompok maka
lingkungan itu akan berdampak negatif bagi pertumbuhan remaja.
Dengan demikian sangat diperlukan lingkungan yang positif bagi para remaja
pada masa ini. Tentunya melalui pengasan dan pemahaman dari orang tua agar maka
remaja akan lebih berhati-hati untuk terlibat dalam limgkungan yang negatif tetapi akan
lebih selektif untuk menjalin hubungan pada lingkungan yang posif yaitu dalam
komunitas-komunitas yang tujuannya positif, persekutuan pemuda gereja, kelompok
positif lainnya.
3) Sekolah
Sekolah adalah lingkungan pendidikan formal yang dibuat oleh pemerintah.
Lingkungan sekolah lebih bersifat positif karena tujuan dibuat lembaga sekolah yaitu
sebagai tempat belajar peserta didik. Semua program yang dilenggarakan di sekolah
bersifat edukatif dan untuk mengembangkan potensi, membentuk peserta didik menjadi
pribadi yang lebih baik.
Remaja yang bersekolah akan hidup dalam lingkungan sekolah untuk mengikut
kegiatan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh sekolah.
Lingkungan sekolah tidak serta merta adalah lingkungan yang posistif seratus persen,
karena di dalamnya ada banyak orang-orang yang memiliki karakter yang berbeda-beda.
Maka di dalam sekolah dapat terjadi perilaku-perilaku yang kurang baik dari peserta
didik yang kurang baik. Oleh karena itu diperlukan pengawasan dari guru-guru di
sekolah untuk mengarahkan dan membimbing anak-anak yang kurang baik. Peserta
didik berinteraksi dan memberi banyak waktu dalam lingkungan sekolah sehingga
dengan demikian lingkungan sekolah akan berpengaruh pada pertumbuhan iman remaja.
62
3. Gambaran Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia 13-18 Tahun Yang
Mendapat Pengaruh Dari Keteladanan Iman Guru PAK
Kehidupan orang percaya senantiasa bertumbuh dalam kehidupan
kepecayaannya, dalam pemahamannya tentang kebenaran, hidup yang terus dibaharui
oleh kebenaran dan segala tindakannya yang sesuai dengan kebenaran, hal ini terjadi
oleh pertolongan Roh Kudus yang terus memimpin kepada kebenaran dan melalui
segala kegiatan yang Tuhan pakai untuk membawa manusia datang kepadanya baik itu
pengajaran oleh guru, pengalaman pribadi dalam membangun diri di dalam kebenaran
dan juga melalui teladan-teladan yang ditemui setiap hari.
Pertumbuhan iman merupakan tanda adanya kehiduoan rohani dalam diri
seseorang. Sebagai seorang kristen yang bertumbuh menuju kepada kedewasaan rohani,
melalui pengenalan akan Tuhan yang semakinhari semakin mendalam, menjadikan ia
semakin berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman dan sehat (Kolose 2:6-7; Efesus
4:13).72 Demikian juga peserta didik secara terus-menerus mengalami pertumbuhan
iman maka, di sini sangat diperlukan peran orang percaya dan dapat menjadi teladan
dan membimbang mereka dalam proses pertumbuhan iman tersebut. Guru PAK adalah
salah satu orang yang sangat berpengaruh dan dapat membantu peserta didik untuk
lebih bertumbuh dalam iman. Berdasarkan teladan-teladan iman yang diterapkan oleh
guru PAK maka, dapat ada beberapa indikasi pertumbuhan iman yang dialami oleh
peserta didik di dalam kelas, yaitu:
a. Peserta didik semakin mencintai pelajaran Pendidikan Agama Kristen
b. Peserta didik semakin aktif dalam kelas yaitu melalui bertanya dan
menjawab
72Dosen Agama Kristen Usaki dan STIE Trisakti, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: Universitas
Trisakti, 2003), 95
63
c. Peserta didik semakin berusaha untuk tetap hadir pada jam pelajaran
Pendidikan Agama Kristen
d. Peserta didik lebih tenang dalam mengikuti kelas
e. Peserta didik semakin mengasihi guru pengajar PAK
f. Senang mengikuti rohani di dalam kelas, ibadah saat memulai pelajaran
dan setelah selesai pelajaran
Pertumbuhan iman peserta didik tidak hanya berdampak pada tindakannya di
dalam kelas tetapi juga berdampak tindakannya di luar kelas yaitu dalam semua
lingkungan sosialnya, baik itu keluarga, gereja, masyarakat dan komunitas.
Pertumbuhan iman tersebut dapat diindikasikan sebagai berikut:
g. Peserta didik yang jarang beribadah menjadi rajin beribadah
h. Peserta didik yang jarang berdoa menjadi rajin berdoa
i. Peserta didik yang jarang membaca Alkitab menjadi rajin membaca
Alkitab
j. Peserta didik yang kurang beretika menjadi beretika baik
64
BAB IV
APLIKASINYA BAGI GURU PAK
A. GURU PAK MEMAHAMI BAHWA IA JUGA SEBAGAI TELADAN IMAN
BAGI PESERTA DIDIK
Guru PAK perlu untuk mengetahui substasinya sebagai guru PAK bahwa ada
beberapa perbedaan yang sangat substansi daripada guru mata pelajaran lain. Dengan
pemahaman-pemahaman yang benar akan hal ini, maka guru PAK akan lebih
membenahi diri agar lebih siap untuk mengerjakan tugas panggilan dari Tuhan sebagai
guru PAK. Hal-hal yang mesti dibenahi bukan hanya bahan ajar dan rencana
pembelajaran dengan baik tetapi juga pribadi gurunya sendiri yang mengemban tugas
yang sangat mulia itu ¡°Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah
dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan
dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau (1 Timotius 4:16).¡±
Dengan pemahaman ini guru PAK akan terus membangun relasi yang intim
kepada Tuhan pemberi tugas tersebut, melalui membuka diri untuk terus belajar dan
diajar oleh Firman Tuhan dan Roh Kudus (Yohanes 14:26; 2 Timotius 3;16).
Guru PAK yang benar-benar memahami bahwa ia juga adalah sebagai teladan
iman akan mengucap syukur atas karunia mengajar yang Tuhan berikan, sebaliknya
tidak menganggap tugas sebagai guru PAK sebagai tugas yang rendah dan hanya
sebagai profesi sebagaimana pekerjaan lain.
Pemahaman ini merupakan pengenalan akan identitas dirinya dan hal ini sangat
penting dalam melaksanakan sebuah tanggung jawab, Mary Setiawani dan Stephen
Tong berkata ¡°Seorang yang hanya bisa melihat keluar dan tidak menggali dirinya
sendiri, tidak akan pernah menjadi satu karakter yang agung. Instropeksi dan penggalian
65
diri merupakan suatu tugas yang penting di dalam membentuk karakter kristen.¡±69
Dapat dikatakan bahwa sebagai guru PAK yang juga dalam tujuannya membentuk
karakter peserta didik terlebih dahulu mengenal dirinya dan panggilannya.
B. GURU PAK MENERAPKAN KETELADAN IMAN
Sebelum menjadi pengajar PAK terlebih dulu telah diajar, dengan kata lain ia
telah menerima ajaran itu dan menerapkan dalam diri tuntutan dari ajaran tersebut.
Dengan demikian guru PAK tidak hanya dilihat sebagai pribadi yang telah mengerti
semua ajaran dan siap untuk mengajar tetapi juga sebagai teladan pribadi yang telah
diubahkan oleh ajaran yang berkuasa tersebut dan terus menerpakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Melalui teladan tersebut peserta didik melihat betapa pentingnya
Pendidikan Agama Kristen yaitu Firman Tuhan bagi kebidupan mereka yang berkuasa
menyelamatkan. John M. Nainggolan berkata,
Dalam mengemban tugas yang mahapenting ini, seorang guru agama kristen
dituntut untuk mampu menunjukkan spiritualitas imannya. Dia harus tahu
bagaimana sepatutnya ia mengemban tugasnya sebagai guru berdasarkan iman
kristiani. Karena seorang guru agama kristen bukan hanya mengajarkan apa
yang dia tahu tetapi seorang guru agama kristen harus memberikan dan
mengajarkan apa yang dia punya. Tidak semua guru memberikan apa yang dia
punya, tetapi mereka hanya sebatas transfer ilmu. Guru agama kristen harus
punya nilai plus dalam hal ini.70
Dapat dikatakan bahwa guru PAK menerapkan spiritualnya sebagai gaya
hidup. Iman menentukan keoutusan-keputusan dan tindakan-tindakan sehari-hari,
prinsip-prinsip, dan pedoman moral serta mau menyerahkan kehidupan pada Yesus.
Melalui semua aspek kehidupan didasari oleh iman maka hal itu menjadi teldan iman
bagi peserta didik.
69Setiawani dan Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, 99
70John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen (Bandung: Generasi Info Media, 2007), 1-
2
66
1. Guru PAK lebih berhati-hati dalam berkata-kata
Guru PAK lebih berhati-hati dalam perkataannya artinya guru PAK dapat
mengontrol caranya berbicara dengan cara lemah lembut sehingga peserta didik tidak
tersinggung atau merasa tertekan saat mengajar. Sikap berhati-hati dalam berbicara juga
menghindari kata-kata yang tidak baik yaitu yang tidak membangun pertumbuhan
karakter dan spiritual peserta didik sebaliknya berusaha untuk terus berkata-kata yang
baik dan yang membangun peserta didik. Dalam pengajarannya guru memperhatikan
ajarannya agar tidak sembarangan menyampaikan teori yang tidak sesuai dengan
kebenaran tetapi terus memperkatakan kebenaran itu dalam pengajarannya.
2. Guru PAK menerapkan nilai-nilai ajarannya dalam tindakan
Dalam hal ini guru PAK dituntut untuk konsisten dalam ajaran dan
perbuatannya, dia bertingkah laku sebagai guru yang dapat menjadi teladan dalam
mentaati Firman Tuhan dan memperlakukan peserta didik sebagai pribadi yang berharga
dan yang membutuhkan ajaran PAK untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh di dalam
iman kepada Yesus Kristus. Guru PAK memiliki karakter yang sesuai dengan
kebenaran dan menerapkannya dalam tindakan pengajarannya.
3. Guru PAK memiliki kasih dan mengasihi peserta didik
Guru PAK memiliki kasih yang bersumber dari kasih Tuhan sehingga ia
melakukan tugasnya sebagai guru berdasarkan kasih, guru mengasihi tugasnya dan
melakukannya dengan kasih. Demikian juga guru mengasihi para muridnya sehingga
memperlakukan mereka secara adil dan tidak pilih kasih. Kasihnya diterapkan dalam
pengajarannya dan dalam membangun relasi yang baik dengan peserta didik sehingga
mereka merasa dikasihi.
67
4. Guru PAK setia dalam panggilannya dan mengajar Injil Kristus
Kesetiaan guru PAK menjadi semakin sulit ditengah-tengah zaman yang
semakin maju, ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran dan kemudahankemudahan
yang ditawarkan zaman yang membuat orang percaya tidak peduli lagi
tentang agama. Keteladanan kesetiaan guru PAK akan membuktikan bahwa orang
percaya harus setia dalam imannya meskipun zaman berubah cepat. Guru PAK dapat
menunjukkan kesetiaannya melalui kehidupannya yang menjunjung tinggi nilai-nilai
iman kristen yaitu hidup beribadah, hidup suci sebagai anak-anak Allah, dan prinsip
hidup mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, dengan demikian dia akan mendorong
peserta didik mencari Tuhan dan mempermuliakan Tuhan di dalam hidupnya.
Guru PAK yang terus mengajar Injil Kristus dalam pengajarannya dan
menganggap itu adalah kebutuhan utama peserta didik dalam hidupnya dan dalam
menghadapai zaman itu merupakan kesetiaan guru PAK. Dengan demikian guru PAK
melihat begitu penting peranannya dalam menolong peserta didik untuk bertumbuh
dalam iman kepada Yesus Kristus, sehingga guru PAK tidak akan beralih profesi,
meninggalkan panggilannya sebagai guru atau meninggalkan pelayanan, melainkan dia
terus setia.
5. Guru PAK menjaga dirinya dari dosa
Hal merupakan usaha guru PAK untuk tidak tergoda dengan kenikmatan dunia,
tidak kompromi segala bentuk yang tidak sesuai dengan kebenaran tetapi terus hidup
menerapkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Guru PAK menjauhkan diri dari segala
keinginan daging (Galatia 5:19-21) tetapi hidup oleh Roh dan menghasilkan buah-buah
Roh (Galatia 5:22-23).
68
C. GURU PAK TERUS MEMBANGUN RELASI YANG INTIM DENGAN
TUHAN
Relasi dengan Tuhan merupakan situasi setiap orang percaya ketika mereka
menerima Tuhan dalam hidupnya. Melalui relasi yang baik dengan Tuhan akan
berdampak dari setiap tindakan sehari-hari, sebaliknya jika tidak memiliki relasi yang
baik dengan Tuhan maka itu akan berdampak juga pada tindakan sehari-hari dalam hal
ini tindakan menyeleweng dari kebenaran.
Dengan demikian guru PAK perlu membangun secara terus menerus relasi
yang baik dengan Tuhan dengan menjaga kesucian diri, mentaati semua ajaran Tuhan,
sehingga oleh pertolongan Tuhan guru PAK dapat menjalani dan mengerjakan semua
tanggung jawabnya dengan baik dan hal itu menjadi teladan yang bagi orang lain.
Melalui relasi yang baik dengan Tuhan, akan menolong guru PAK untuk fokus akan
tujuan utama dalam pengajarannya karena terus menerus mempunyai relasi dengan
Pribadi yang memberi tugas pengajaran.
69
BAB V
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan mengenai Pengaruh Keteladanan Iman Guru
Pendidikan Agama Kristen Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Iman Peserta Didik Usia
13-18 Tahun maka, pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan saran dari
keseluruhan uraian yang telah dijelaskan pada bab I, II, III, dan IV. Adapun kesimpulan
dan saran ini sebagai berikut.
A. KESIMPULAN
PAK bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu PAK
merupakan sarana untuk menanamkan iman kekristenan kepada anak didik.
menanamkan iman kristen adalah ajakn Allah untuk bekerja sama. Guru Agama Kristen
sebagai penabur benih iman dan Allah menumbuhkan. Dengan demikian dapat dilihat
status guru PAK dalam pekerjaan ini sangat penting, akan tetapi terlebih dahulu dapat
diketahui bahwa sebelum menjadi seorang guru PAK, Tuhan memanggil dan mengajar
guru PAK untuk mempersiapkan dirinya melakukan pekerjaan yang mulia ini. Guru
agama kristen hendaknya bercermin pada figur Yesus yang mempunyai spiritualitas
tinggi. Spiritualitas Yesus nanpak dalam seluruh hidup dan pelayananNya. Hal ini
terlihat dalam peranNya sebagai guru yang patut digugu melalui perkataanNya yang
patut diperhatikan, dan tingkah lakuNya yang pantas diteladani.
Seorang guru agama kristen mesti memiliki kedewasaan iman atau sedang
menuju ke arah itu, sehingga ia dapat membantu peserta didik menuju ke arah
kedewasaan iman. Untuk membawa peserta didik menuju pada pendewasaan iman tidak
hanya melalui bahan ajar yang disampaikan tetapi juga melalui teladan-teladan iman
70
yang dapat ditiru dari guru PAK. Menjadi teladan iman adalah dengan melanjutkan
teladan-teladan para tokoh dalam Alkitab yang berhasil mengubah zaman. Hal teladan
iman juga merupakan respon guru PAK atas didikan yang telah ia terima dari Firman
yang berkuasa dan hidup. Maka sangat penting memberikan teladan iman bagi peserta
didik sebagai bukti bahwa seorang guru PAK adalah orang beriman kepada Kristus (1
Tesalonika 3:16; 1 Timotius 4:12). Keteladan iman menjadi gaya hidup guru PAK
dalam tindakan-tindakan yang dapat ditiru oleh peserta didik dengan demikian akan
mempengaruhi dalam meningkatkan pertumbuhan iman peserta didik usia 13-18 tahun.
B. SARAN
Di akhir dari penulisan ini, penulis memberikan saran kepada setiap guru
Pendidikan Agama Kristen dan calon guru Pendidikan Agama Kristen.
1. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK tidak hanya mempersiapkan bahan ajar
yang baik untuk mengajar tetapi juga mempersipakan dan membenahi diri
sebelum mengajar.
2. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK memberikan teladan-teladan sebagai
orang beriman kepada peserta didik.
3. Bahwa setiap guru dan calon guru PAK terlebih dulu mengajar dirinya
sebelum mengajar peserta didik.
4. Penulis juga menyarankan kepada lembaga sekolah untuk menguji atau
mengevaluasi calon guru dan guru PAK, supaya tidak sembarangan menerima
guru PAK yang tidak bisa menjadi contoh dalam segala aspek.
71
DAFTAR PUSTAKA
_______________, ALKITAB: Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2008.
A.Z. Mulyana, Rahasia Menjadi Guru Hebat. Jakarta: Grasindo, 2010.
Ali Mohammad dan Assrori Mohammad, Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara,
2011.
Arichea Daniel C. dan Hatton Howard A., diterjemahkan oleh LAI dan Yayasan
Karunia Bakti Budaya Indonesia, Pedoman Penafsiran Alkitab Surat Yudas
Dan Surat Petrus Yang Kedua. Jakarta: LAI.
Daniel Eleanor A. dan Wade John W., Foundations For Christian Education. United
States Of America:College Press Publising, 2007.
Darmawijaya St., Seluk Beluk Kitab Suci. Yokyakarta: Kanisius, 2009.
Durka Gloria, The Teacher¡¯s Calling, A Spirituality For Those Who Teach. United
States Of America: Paulist Press, 2002.
Edison F. Thomas, Pendidikan Nilai-Nilai Kristiani. Bandung: Kalam Hidup, 2018.
Eims Leroy, diterjemahkan oleh C. Th. Enni Sasanti, 12 Ciri Kepemimpinan Yang
Efektif. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1981.
Enklaar I. H. dan Homrighausen E. G., Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2011.
Gichara Jenny, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa. Jakarta: PT Gramedia, 2013.
Groome Thomas H., diterjemahkan oleh Daniel Stefanus, Christian Religious
Education. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.
Gunarsa Singgih D. dan Gunarsa Yulia Singgih D., Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
72
Hadiwijono Harun, Iman Kristen. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007.
Homrighausen E. G. dan Enklaar I. H., Pendidikan Agama Kristen. Jakarta:BPK
Gunung Mulia, 2008.
Hooper Duane, Christian School Teacher, Ministry Of Caring For Kids. The United
States Of America: Xulon Press, 2008.
Hurlock Elizabeth B., dialih bahasakan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo, Psikologi
Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1980.
Ismail Andar, Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Prenada Media Group, 2011.
KBBI V 0.2.1 Beta (21), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud
RI, 2016.
Kristianto Paulus Lilik, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. Yokyakarta:
Andi, 2008.
Kure S. Dan Plueddemman J., Mengajar Dengan Berhasil. Bandung: Yayasan Kalam
Hidup. 1997.
Mulyasa E., Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2008.
Nainggolan John M. Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristian. Bandung: Bina Media
Informasi. 2011.
Nainggolan, John M., Menjadi Guru Agama Kristen. Bandung: Generasi Info Media,
2007.
Nazir Moh., Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1985.
Nuhamara Daniel, PAK (Pendidikan Agama Kristen) Remaja. Bandung: Jurnal Info
Media, 2008.
73
Packer, J. I., Tenney Merril C., dan William White, Jr, diterjemahkan oleh Johan C.
Pandelaki dan Sutrisno, Dunia Perjanjian Baru. Malang:Gandum Mas, 1993.
Pazmino Robert, W., diterjemahkan oleh Denny Pranolo dan Yanti, Fondasi Pendidikan
Kristen. Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung, BPK Gunung Mulia,
2012.
Graendorf, Werner C., Introduction To Blibical Christian Educatiol. USA: The Moody
Bible Institute Of Chicago, 1981.
Pr. Gregorius Kriswanto,, Menjadi Murid Kristus Itu Bagaimana Sih?. Yogyakarta:
Kanisius, 2009.
Price J. M., Yesus Guru Agung. Jakarta: LBB, 1997.
Rifai, Superioritas Kristus Dalam Kitab Ibrani. Jakarta: BornWin.s Publishing, 2019.
Ringgi. Ismael Banne, Buwono Santoso Sri, dkk, Hidup Besyukur: Pendidikan Agama
Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Setiawani Mary dan Tong Stephen, Seni Membentuk Karakter Kristen. Surabaya:
Momentum, 2008.
Sidjabat B.S., Mengajar Secara Profesional:Mewujudkan Visi Guru Profesional,
Bandung:Yayasan Kalam Hidup, 1993.
Sidjabat Binsen S., Pendidikan Kristen Konteks Sekolah. Bandung: Kalam Hidup, 2018.
Sitanggang Sariaman, PAK Kelas IX SMP. Jakarta: Egkrateria Putra Jaya, 2006.
Suprihatiningrum Jamil, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan
Kompetensi Guru, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2014.
Surbakti E. B., Benarkah Injil Kabar Baik?. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Syamsul Bachri Thalib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
74
Thalib, Samsul Bachri, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif.
Jakarta: Kencana, 2010.
Tong Stephen. Arsitek Jiwa II. Surabaya: Momentum. 2010.
Tripp, Paul David, Masa Penuh Kesempatan. Surabaya: Momentum, 2017.
Yang Ferry, Pendidikan Kristen. Surabaya: Momentum, 2018.
75
BIODATA PENULIS
A. RIWAYAT HIDUP
Nama : Aliran Berkat Lase
Tempat Tanggal Lahir : Hiligeo, 28 April 1995
NIM : 2014208002
Nama Ayah : Sapar Dangolan Lase
Nama Ibu : Mawarni Zebua
Anak : Ke-3 dari 7 bersaudara
NIK : 1224112804950001
Alamat : Desa Lukhulase, Rt. 1, Kec. Lahewa Timur,
Kab. Nias Utara
Warga Negara : Indonesia
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Sekolah Dasar Negeri No. 071139 Dima Muzoi, Kec. Lahewa Timur, Kab.
Nias Utara, Tahun 2001-2007
2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Lahewa Timur, Kec. Lahewa Timur,
Kab. Nias Utara, Tahun 2007-2010.
3. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lahewa Timur, Kec. Lahewa Timur,
Kab. Nias Utara, Tahun 2010-2013.
4. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (Setia) Jakarta, Tangerang-Banten,
Tahun 2014-2019.
C. RIWAYAT PELAYANAN
1. Sebagai Tim Pelayan Pada Pelayanan God.s Word In Indonesia, Tahun 2017-
2018.